Gubernur BI Prediksi Transaksi Online Sumbang PDB Rp 1.995 T di 2025

berbagi di:
bank-indonesia

 

 

 

Metode transaksi perdagangan masyarakat kini telah beralih ke transaksi online atau e-commerce. Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral ke depannya akan mempersiapkan teknologi Big Data untuk mengamati transaksi tersebut.
Hal ini dilakukan karena e-commerce memiliki potensi yang besar sejalan dengan perkembangan teknologi dan karakteristik masyarakat modern saat ini. Gubernur BI, Agus Martowardojo, mengatakan potensi yang besar tersebut mampu menambah Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 150 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 1.995 triliun (kurs Rp 13.300) di tahun 2025.
“Diperkirakan digital ekonomi mampu memberi nilai tambah 150 miliar dolar Amerika Serikat ke Produk Domestik Bruto (PDB). Jadi angka tersebut hampir sekitar 10 persen dari PDB Indonesia di tahun 2025 mendatang,” ujar Agus, saat acara Seminar Nasional: Globalisasi Digital “Optimalisasi Pemanfaatan Big Data Untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi”, di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (9/8).
Namun, lanjut Agus, kegiatan e-commerce di Indonesia masih belum maksimal dilakukan oleh masyarakat Indonesia karena terkendala beberapa hal. Misalnya pemanfaatan teknologi internet di Indonesia masih di bawah negara-negara tetangga, sekitar 51 persen pada tahun 2016.
“Kita masih rendah dari Malaysia yang telah mencapai 71 persen dan Thailand 67 persen. Sedangkan di negara-negara maju, seperti Inggris dan Jepang jauh lebih tinggi, sekitar 90 persen,” imbuh Agus.
Selain itu, lanjut Agus kecepatan rata-rata koneksi internet di Indonesia berada di peringkat 18 dari 20 negara. Masih di bawah Malaysia dan Thailand yang masing-masing berada di peringkat 11 dan 15.
Memasuki era digital, anggaran investasi teknologi informasi, menurut Agus perlu dioptimalkan. Pasalnya pengeluaran investasi di bidang teknologi informasi di Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain.
“Investasi teknologi di sektor-sektor utama yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, seperti manufaktur dan pertambangan relatif rendah. Di tahun 2016 baru mencapai 1,7 miliar dolar Amerika Serikat,” pungkas Agus.
Sumber: Kumparan