Gubernur NTT Minta Fulan Fehan Jadi Pusat Pariwisata

berbagi di:
img_20200210_181359
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menepi sambil memandangi keindahan Fulan Fehan. Foto: Very Guru
Mutiara Malahere
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) menegaskan semua kawasan padang Fulan Fehan yang terletak di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur tetap dibiarkan lapang dan terbuka tanpa pembangunan fisik apapun.
Fulan Fehan akan dijadikan pusat pengembangan wisata pegunungan, agrowisata serta pengembangbiakan kuda, kerbau, dan sapi. Dua desa yang terletak di sekitar Fulan Fehan yakni Desa Dirun dan Maudemu  pun akan menjadi daerah penyangga, pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.
Hal ini diungkapkan VBL saat meninjau kawasan padang Fulan Fehan, Senin (10/2).
VBL menilai Fulan Fehan memiliki potensi alam yang luar biasa karena letaknya di ketinggian dengan pemandangan padang rumput hijau yang sangat baik untuk pakan ternak, serta udara pegunungan yang sejuk. Tempat yang indah untuk menghilangkan kepenatan saat akhir pekan.
“Padang Fulan Fehan sangat luar biasa dan cocok untuk pengembangan pariwisata terpadu terutama peternakan kuda, kerbau, dan sapi, pengembngan argowisata, serta menikmati lokasi pegunungan dengan membuka kedai untuk beristirahat dengan menyajikan kopi Lakmaras dan berbagai pangan lokal,” ungkap VBL.
20200210_105716
Terkait pengembangan Fulan Fehan ia meminta semua stakeholder mulai dari pariwisata, peternakan, pertanian, PUPR, Perdagangan dan Industri serta pemerintah kecamatan dan desa saling bekerjasama menentukan program yang tepat untuk menata kawasan Fulan Fehan menjadi pusat pariwisata baru yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.
Ia juga menekankan semua pengembangan potensi wisata Fulan Fehan bukan menjadi milik pemerintah namun sepenuhnya dikelola masyarakat setempat dengan tujuan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Benteng Lapis Tujuh
Selain meninjau kawasan Fulan Fehan, Gubernur VBL dan rombongan juga diajak mengunjungi Benteng Lapis Tujuh.
Tiba di pintu Benteng Lapis Tujuh, tokoh adat setempat melakukan ritual untuk meminta izin membuka pintu utama benteng sekaligus meminta kemudahan saat meninjau beberapa situs di dalam benteng tersebut.
Berdasarkan keterangan dari tokoh adat setempat, Benteng Lapis Tujuh merupakan benteng pertahanan dari kerajaan Lamaknen pertama sekitar 500 Masehi. Kondisinya masih asri dan belum tersentuh pembangunan modern.
Selain itu di dalam Benteng Lapis Tujuh terdapat dua buah makam milik Raja Pertama Lamaknen bersama istrinya yang terletak pada sebelah ruangan berbentuk batu yang tertata rapi dengan banyak pohon rindang mengelilingi benteng tersebut.
Di bagian belakang benteng, paling tinggi, Gubernur VBL meminta agar pemerintah melakukan penataan lokasi dengan menjadikan Benteng Lapis Tujuh menjadi wisata megalitikum dengan merancang kunjungan bagi rombongan dengan batasan 50 orang per hari.
20200210_115156
“Benteng Lapis Tujuh ini sebagai peninggalan megalitikum yang sangat baik bagi pengembangan wisata budaya dan sejarah sehingga perlu ada pengaturan khusus bagi rombonngan maksimal 50 orang per hari dan wajib membayar harga paket per orang dengan pelayanan termasuk memakai kain tenun, sekalian snack kopi dan makanan ringan sambil menikmati udara sejuk pegunungan,” ucap VBL.
Pantauan VN, Rombongan Gubernur NTT VBL bersama rombongan Bupati Malaka Stef Bria Seran dan perangkatnya tiba di Gerbang Perbatasan Kota Atambua pada pukul 09.10 wita, diterima oleh Wakil Bupati Belu JT Ose Luan bersama Pimpinan dan perangkat OPD, serta para pelajar dan Marcing Band dari SMAN 2 Tasifeto Barat.
Usai penyambutan, Gubernur NTT VBL bersama rombongan langsung bergerak menuju Padang Fulan Fehan,  dilanjutkan dengan mengunjungi Puskesmas Haliwen di Desa Kabuna, Kecamatan Kakuluk Mesak. (bev/ol)