Gugatan Nasabah Terhadap Bank NTT KC Rote Disidangkan

berbagi di:
img-20210114-wa0008

Suasana sidang perdana gugatan perdata antara debitur Gerson A Ballu melawan Bank NTT KC Rote yang digelar di PN Rote Ndao, Kamis (14/1). Agenda sidang tersebut yakni pembacaan gugatan oleh kuasa hukum penggugat. Foto: Frangky/VN

 

 

Frangky Johannes

Setelah tidak mencapai kesepakatan dalam proses mediasi, akhirnya gugatan perdata yang diajukan debitur atas nama Gerson A Ballu, warga RT/RW 001/001, Desa Sedeoen, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao terhadap Bank NTT Kantor Cabang (KC) Rote, mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Rote Ndao.

Pantauan VN di PN Rote Ndao, Kamis (14/1), sidang perdana dengan agenda pembacaan gugatan dipimpin Ketua Majelis Hakim Rosihan Luthfi dengan anggota majelis Fikrinur Setyansyah dan Dimas Indra Swadana itu, dihadiri pimpinan Bank NTT KC Rote Sandry Bara Lay dan Febriano Pelokilla, bersama dua rekannya. Sementara penggugat diwakilkan kepada kuasa hukum Karel Here dari kantor Pengacara Karel Here dan Partners, Kupang.

Kepala Bank NTT KC Ba’a Sandry Bara Lay yang ditanyakan terkait kasus tersebut, usai sidang, membenarkan bahwa hari ini baru dibacakan gugatan penggugat, dan karena sidang dilaksanakan secara virtual, sehingga setelah pembacaan gugatan, pihaknya akan menyampaikan jawaban secara virtual nantinya.

Febriano Pelokilla mengatakan, pihaknya belum dapat memberikan keterangan karena semua dari Kantor Pusat.

“Mohon maaf kami belum dapat memberikan keterangan apa-apa karena semuanya harus atas persetujuan Kantor Pusat,” katanya singkat.

Lelang Aset di Luar Jaminan

Terpisah, penggugat melalui kuasa hukum Karel Here menjelaskan, intinya gugatan yang diajukan kliennya karena Bank NTT KC Rote diduga telah salah dalam melakukan pelelangan. Di mana objek yang dilelang berada di luar dari pada jaminan.

Dikatakan Karel, jaminan tambahan yang diajukan oleh kliennya selaku debitur dengan luas 2.640 meter persegi bersama satu IMB rumah tinggal di atas sertifikat tersebut. Namun, yang terjadi pihak Bank NTT melakukan pelelangan di luar sertifikat, juga tanpa pemberitahuan terhadap klien kami terkait kapan dilelang dan berapa harga lelangnya, akan tetapi hanya ditelepon untuk datang mengambil uang sisa serta sertifikat.

Ia menilai, proses pelelangan tanpa pemberitahuan kepada kliennya itu mengakibatkan kerugian karena yang dilelang adalah barang yang bukan jaminan. Dan oleh karena hal tersebut tergolong perbuatan melawan hukum, maka kliennya menggugat secara perdata untuk memperjuangkan hak-haknya.

“Areal lahan seluruhnya 3.860 meter persegi termasuk 2.640 meter persegi yang masuk dalam sertifikat yang dijaminkan. Ternyata yang dilelang oleh pihak bank berada di luar sertifikat 2.640 meter persegi, yang di dalamnya lima kamar penginapan dan resto. Ini akibat dari tidak ada pemberitahuan kepada klien kami,” katanya.

Untuk diketahui, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan NTT Robert Sianipar kepada VN beberapa waktu lalu menyampaikan kekecewaan terhadap Non Perfoaming Loan di Bank NTT KC Rote dan KC Suarabaya.

Robert menilai, sangat mudah pejabat Bank NTT menerobos SOP perkreditan, sehingga tidak dilakukan secara prudent. Bahkan Robert menyebut hal tersebut sangat dikhawatirkan, sehingga sudah saatnya komisaris Bank NTT terlibat dalam pengambilan keputusan kredit bila masih ada pejabat yang melakukan pelanggaran mekanisme. (bev/ol)