Gunakan Member Card, Harus ada Efek Ikutan bagi Warga Lokal

berbagi di:
foto-hal-01-sari-bandaso-tandilino

Sari Bandaso Tandilino

 

 
Kekson Salukh

Sistem member card untuk kunjungan wisatawan ke Pulau Komodo akan segera diterapkan. Sistem baru ini diharapkan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat lokal dan juga peningkatan PAD (pendapatan asli masyarakat).

Sistem member card mengganti konsep mass tourism yang diterapkan selama ini, pelaksanaan konservasi ekowisata bisa dilaksanakan dengan baik sekaligus mendatangkan multiplier Effect bagi NTT secara keseluruhan atau Kabupaten Manggarai Barat.

Ketua Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Kupang, Sari Bandaso Tandilino dan Dosen Pariwisata PNK, Fahri Reva Adiputra Welly secara terpisah kepada VN, Rabu (9/10) mengatakan konsep pengelolaan Pulau Komodo, sebaiknya menggunakan konsep tourism pentahelix (konsep pembangunan), di mana unsur akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah dan media bekerjasama untuk mencapai peningkatan dan percepatan pembangunan di sektor pariwisata.

“Kalau kita lihat ke belakang selama ini kesejahteraan masyarakat lokal dan konservasi lingkungan kurang diperhatikan dan lebih berorientasi mass tourism, adanya member card akan memberikan manfaat bagi masyarakat lokal, peningkatan PAD dan pelaksanaan konservasi ekowisata bisa berjalan dengan baik.” tandasnya.

Tandilino menyarankan, pengelolaan biaya tiket masuk TNK diserahkan kepada pemerintah daerah atau Pemprov NTT agar tidak terjadi leakage atau kebocoran devisa pengelolaan TNK ke luar NTT.

“Agar tidak terjadi leakage atau kebocoran devisa pengelolaan TNK ke luar NTT maka saya sarankan pengelolaan tiket masuk itu diserahkan ke NTT,” ujarnya.

Menurutnya, TNK akan menjadi destinasi super premium karena berlaku prinsip ekonomi bahwa semahal apapun tiket masuk ke TNK, wisatawan tetap akan datang karena tidak ada barang subtitusi atau pengganti pulau dan binatang komodo di belahan dunia lainnya.

Sementara Dosen Pariwisata PNK, Fahri Reva Adiputra Welly mengatakan, Pulau Komodo merupakan salah satu daya tarik wisata yang mendunia sehingga pengelolaannya harus benar-benar kapabel.

Penerapan sistem member card, ungkap Fahri, jelas memiliki dampak positif karena paket wisata akan lebih eksklusif, promosi juga lebih fokus, target pasar juga jelas, baik dari segi profesi maupun asing dan lokal, tentunya semua jadi akuntabel.

“Kehadiran pariwisata hakekatnya harus bisa menjadi Multiplier Effect artinya lapisan dan segala aspek yg ada di sana mendapatkan dampak dari adanya kegiatan wisata, tentunya kita harapkan dampak positif yang dominan, jika suatu daerah tujuan wisata sudah di taraf internasional, effect ke berbagai aspek di sana akan sangat luar biasa.” jelasnya.

Fahri menambahkan, sebaiknya pemerintah provisi dan pemerintah pusat membahas secara baik pengelolaan pulau komodo, dan murni tidak ditunggangin kepentingan lain selain untuk kemajuan pariwisata dengan segala kaidah-kaidah keilmuanya.

“Perlu dibuat badan usaha milik negara (BUMN) sendiri yang bergerak di bidang pariwisata untuk kelola TNK. Seperti di Jawa, untuk menjaga situs budaya candi borobudur, prambananan maka di buat badan sendiri (TWC). Tentunya komodo lebih kompleks lagi karena ada mahkluk hidup di dalamnya beserta lingkungannya yang jadi perhatian utama. ” ungkapnya. (mg-10/R-4)