Guru ‘Menumpuk’ di Kota, Perlu Pemerataan higga ke Pelosok NTT

berbagi di:
img-20210107-wa0012

 

Simon Riwu Kaho
Pengamat Pendidikan NTT

 

 

 

Putra Bali Mula

 

 

PEMERATAAN tenaga guru baik kontrak maupun PNS perlu diperhatikan sehingga dapat menjangkau daerah-daerah terluar di NTT. Hal ini menjadi solusi kurangnya tenaga pendidik di daerah terluar yang berbanding terbalik jumlahnya dengan tenaga guru di sekolah-sekolah yang ada di kota provinsi maupun kabupaten.

Pengamat Pendidikan NTT, Simon Riwu Kaho, kepada VN melalui sambungan telepon Kamis (7/1), saat dikonfirmasi terkait tanggapannya atas wacana dari Menteri Pendidikan untuk meniadakan rekruitment guru PNS tahun ini dan digantikan dengan guru PPPK.

Menurutnya, pemerataan ini lebih utama dibanding memperdebatkan Keputusan Menteri Pendidikan terkait tidak adanya rekruitmen CPNS bagi guru tahun ini yang digantikan dengan PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja).

“Kalau secara kuantitas jumlah sekolah dan guru bukan dipandang sebagai kekurangan terbesar, perbedaannya ada yang PNS dan non PNS dalam artian tenaga honorer yang banyak. PNS ini yang kurang,” ujarnya.

Kebijakan pemerintah dalam menetapkan tenaga honorer sebagai PNS sendiri masih timpang karena lima menteri pendidikan terakhir pun dinilainya berkutat pada permasalahan anggaran dan kebutuhan SDM.

“Belum temukan titik temu karena ada yang mau tambah tapi ada yang persoalkan anggarannya yang tidak cukup,” ujar dia.

Sementara dari sisi jumlah tenaga pengajar di NTT, kata dia, tidak terlalu kurang bila pemerataan yang adil dapat dilakukan. Untuk itu Gubernur NTT maupun bupati perlu memeriksa ini untuk dilakukan pemerataan guru hingga ke pelosok daerah yang benar-benar butuh tenaga pengajar.

“Kita di NTT pemerataannya tidak maksimal karena kita beberapa kali sampai ke daerah, Sumba dan Flores misalnya, tenaga guru kurang karena menumpuknya di kota. Pedalaman kurang,” ungkapnya.

Persoalan sekarang ini, lanjut Simon, adalah perihal mentalitas dedikasi PNS yang justru lebih tertarik mengabdi di kota daripada ditempatkan di pelosok. Ini adalah hal yang keliru.

“Naluri untuk mengabdi itu yang kurang,” tukas Simon. (Yan/ol)