Harga Bawang Putih di Kupang Tembus Rp 90.000

berbagi di:
foto-hal-10-info-niaga-edisi-130519

Rahmad, pedagang di pasar Oebobo Kupang merapikan jualannya. Gambar diabadkan Sabtu (11/5). Foto: Maykel Umbu

 
Maykel Umbu

Harga bawang putih di Kupang terus merangkak naik hingga Rp 90.000 per kilogram (kg).

Pantauan VN, di Pasar Oebobo Kupang, kenaikan harga bawang putih terjadi secara sejak awal Bulan Ramadan atau Senin (6/5). Kenaikan ini bervariasi dari harga Rp 70.000 -Rp 90.000 per kg.

Pedagang bawang putih, Rahmad (45) mengatakan  sepekan jelang Bulan Ramadan harga bawang putih masih di kisaran Rp 60.000 per kg. Namun kini sudah mencapai Rp 90.000 per kg.

“Sekarang pedagang tidak bisa belanja banyak dari distributor. Saya sendiri yang biasanya beli dua karung ukuran 17 kilogram, sekarang paling cuma mampu stok lima kilogram,” keluh Rahmad saat ditemui VN, di lapak jualannya di Pasar Oebobo Kupang, Sabtu (11/5).

“Bayangkan saja untuk belanja satu karung bawang putih ukuran 17 kilogram saya harus keluarkan uang satu juta rupiah dari harga sebelumnya Rp 400.000-Rp 500.000. Satu juta rupiah hanya untuk bawang, sementara stok jualan lainnya belum,” tutur Rahmad.

Menurut Rahmad, kenaikan harga bawang putih dipicu berkurangnya stok dari distrbutor. Bahkan karena terlalu mahal, sebagian pedagang memilih untuk tidak menjual bawang putih.

“Ada pedagang yang memilih tidak menjual dan kalau jual pun harganya sama (Rp 90.00 per kilogram),”ucapnya.

Dampak lainnya, kata Rahmad, pembeli yang biasanya mampir ke lapaknya berkurang bahkan sangat sepi karena pembeli juga tidak berani belanja.

“Memang ada beberapa pembeli datang ingin membeli namun setelah mengetahui harganya mereka tidak jadi belanja,” Ujarnya

Untuk menyiasati kondisi tersebut tersebut, Rahmad terpaksa menjual bawang putih dalam kemasan kantong plastik per setengah ons.
“Saya jual Rp 5.000 per kantongnya. Kalau yang ini banyak yang mau beli,” ucapnya.

Terpisah, Lukas domi, pedagang lainnya menuturkan bahwa sementara ia tidak menjual bawang putih karena modalnya hanya untuk belanja sesuai harga sebelumnya.

“Modal saya hanya pas untuk harga normal. Kalau kenaikan signifkan seperti ini saya takut merugi,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah segera mengatasi masalah ini karena tidak jualan otomatis pemasukan berkurang dan itu sangat berpengaruh terhadap ekonomi keluarga. (mg-21/E-1)