Harganas, Momen Memupuk Komunikasi Anggota Keluarga

berbagi di:
img-20200629-wa0022

Ilustrasi

 

 

 

Sinta Tapobali

Setiap tanggal 29 Juni, Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas).

Petrus Laga, seorang kepala keluarga yang berprofesi sebagai ASN memaknai momen Harganas sebagai saat tepat bagi keluarga untuk memupuk komunikasi antar anggota keluarga demi menciptakan ketahanan keluarga yang semakin kuat dan berkualitas.

Menurutnya, sebuah keluarga yang berkualitas dapat dilihat dari ketentraman, kemandirian dan kebahagiaan. Dengan memahami satu sama lain dalam keluarga, diharapkan akan semakin mengetahui celah untuk menyikapi permasalahan yang terjadi dalam satu keluarga secara khusus selama masa pandemi Covid-19 ini.

“Untuk itu momentum Harganas, saya pribadi mengajak seluruh keluarga untuk memupuk komunikasi antaranggota dan menciptakan ketahanan keluarga yang semakin kuat untuk mewujudkan keluarga berkualitas,” paparnya.

Sementara dr. Cristian Widodo mengatakan pembangunan keluarga menjadi hal yang paling penting bagi kemajuan bangsa.

Dalam lingkungan keluarga, anak akan mempelajari berbagai hal seperti karakter, disiplin, nilai-nilai kebenaran, toleransi, gotong royong dan sebagainya yang akan dijadikan bekal untuk masa depannya kelak.

Dalam keluarga, anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Untuk mewujudkannya, orang tua perlu membangun pola asuh yang tepat untuk membentuk karakter yang berkualitas di kemudian hari.

Menurutnya, keluarga yang sehat, bahagia dan sejahtera adalah cerminan dari suatu bangsa yang maju, oleh karenanya membangun ketahanan keluarga adalah hal yang sangat penting.

Peringatan Harganas di masa pandemi Covid-19 dengan berbagai tantangan yang dihadapi bangsa kita saat ini, harapannya yang paling relevan dengan situasi bangsa saat ini adalah keluarga-keluarga indonesia khusus keluarga-keluarga di NTT harus mengajarkan perilaku hidup bersih dan sehat kepada anggota keluarga, nilai-nilai berbagi kepada sesama dan rasa toleransi antar umat beragama yang tinggi.

Sementara bagi Venansia Nggarang, seorang ibu rumah tangga, keluarga merupakan harta yang paling berharga yang tidak bisa ditukar dengan apapun.

Keluarga sangatlah penting karena keluarga mampu memberikan rasa cinta kasih dan dukungan yang tak terhingga bagi masing-masing anggota di dalamnya.

“Setiap anggota keluarga bisa mengajari satu dengan yang lain tentang apa yang baik dan benar saling melayani serta berbagi kebahagiaan dan kesedihan. Tidak ada yang lebih berharga daripada keluarga dan harta yang paling berharga di dunia ini adalah keluarga. Mengapa? Karena uang dan kekayaan bisa dicari, namun hubungan kekeluargaan tidak akan terputus kan sampai kapanpun,” ungkap ibu lima anak ini.

Maria Lusi, ibu dan guru, mengatakan sumber cinta dan kebahagiaan terbesar berasal dari keluarga.

Menurutnya, bagi seorang murid, guru adalah keluarga kedua ketika ia berada di luar rumah. Rasa cinta dan kasih sayang seorang guru dalam mendidik para muridnya merupakan bentuk dari cinta kepada keluarga di dalam lingkungan sekolah.

Baginya cinta dan kasih sayang bisa didapatkan dari mana saja namun cinta dan kasih sayang yang paling mulia dan paling utama adalah yang berasal dari keluarga.

“Sebagai seorang guru dan juga seorang ibu, kasih sayang yang saya tunjukkan bukan hanya di dalam lingkungan keluarga saja tetapi juga di dalam lingkungan pendidikan. Kenapa? Karena bagi saya menjadi seorang guru itu merupakan suatu panggilan dan menjadi guru artinya kita menjadi orang tua kedua bagi murid ketika berada di dalam lingkungan sekolah. Tapi meski demikian cinta yang paling sempurna dan kasih sayang yang paling mulia hanyalah berasal dari keluarga,” ungkapnya. (bev/ol)