Hingga Akhir Juli Tercatat 909 Ekor Babi Mati di Ende

berbagi di:
Marianus Aleksander

Kadis Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende, Marianus Aleksandersaat memberikan keterangan kepada wartawan. (Foto:Son Bara)

 

Son Bara

HINGGA akhir Juli tercatat 909 ekor babi mati di Kabupaten Ende selama tahun 2020. Belum dipastikan penyebab kematian ratusan ternak babi tersebut apakah terserang virus Afrika (ASF) atau Hog Cholera. Pasalnya, sampel ternak babi yang dikirim beberapa waktu lalu ke BBVET Denpasar, Bali, belum diperoleh hasilnya

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende, Marianus Aleksander, kepada VN, Kamis (30/7).

Menurut Marianus, data resmi yang tercatat pada dinas yang dipimpinnya sampai akhir Juli tahun 2020 tercatat 909 ekor babi yang mati.

“Sampai hari kemarin (Rabu 29 Juli) kami sudah hubungi laboratorium BBVet Denpasar untuk meminta hasil pemeriksaan sampel yang kami kirim. Namun hasilnya belum kita dapat karena masih antre pemeriksaan sampel. Persoalannya banyak sampel bersamaan dari kabupaten lain dikirim bersamaan,” jelasnya.

Marianus melanjutkan, untuk data Kematian babi mengalami peningkatan yang cukup memprihatinkan.

” Petugas kita sudah mencatat secara langsung dan juga sesuai laporan masyarakat sudah 909 ekor babi mati di kabupaten Ende. Secara teknis kami dari dinas terus berupaya melakukan komunikasi, Informasi dan Edukasi kepada peternak babi dan menyosialisasikan wajib penerapan Biosecurity,” tuturnya.

“Kita tetap siagakan petugas kesehatan hewan yang ada di Puskeswan di tiap kecamatan. Yang paling penting yang harus dijaga baik para peternak dan masyarakat umum untuk menjaga kebersihan dan higienesnya kandang sehingga babi tidak mudah terserang virus. Umumnya Gejala klinis yang terjadi babi mengalami demam, tidak mau makan, panas tinggi, dan biasanya ada cairan keluar dari dubur serta mulut berbusa,”┬átutup Marianus Aleksander. (yan/ol)