Iman dan Ilmu Menyatu dalam Karya

berbagi di:
img_20190318_215556

 

 

Beverly Rambu
Ramah, berwibawa dan penuh optimisme. Itulah kesan pertama saat bertemu Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Provinsi NTT Marianus Mau Kuru, 20 Februari 2019 lalu.

Saat itu beliau sedang mendengarkan laporan para staf dalam rapat harian yang ia pimpin. Pertemuan dan evaluasi yang secara reguler ia lakukan bersama staf demi menyusun strategi tepat untuk menyukseskan berbagai program BKKBN di NTT. Meski cukup padat, namun sesuai janji, ia meluangkan waktu berbagi dengan Victory News.

“Maaf menunggu sebentar karena sedang ada rapat,” ujarnya saat bertemu.

Wawancara berlangsung menarik dan Marianus, begitu ia disapa tak canggung menceritakan pengalaman dan nilai hidup yang ia nikmati dan maknai hingga saat ini.

Kepada VN, Marianus mengaku tak pernah menyangka bisa dipercaya menempati posisi penting saat ini. Namun, seperti pernah disampaikan Nelson Mandela, “It always seem imposible until is done ( Itu terlihat tidak mungkin sampai itu terjadi).”

Ia yakin, tak ada hal apapun yang mampu mengagalkan rencana Tuhan atas setiap pribadi manusia termasuk rencana Tuhan akan hidupnya. Iman akan penyelenggaraan Tuhan harus didukung dengan kerja keras dalam meraih ilmu dan keterampilan agar mampu diejahwantahkan dalam karya baik melalui pekerjaan, keluarga, maupun kehidupan sosial.

Sebagai seorang anak petani dan peternak dari Desa Sadi, Kabupaten Belu, mimpi Marianus saat itu cukup sederhana. Ingin memiliki pekerjaan dan hidup lebih baik dari orangtuanya. Sebagai sulung dari enam bersaudara, Marianus remaja tumbuh di lingkungan sekolah dan asrama Katolik yang religius. Karakter pribadi yang disiplin, optimis, dan pekerja keras sudah terbentuk dari kedua orangtua dan makin ditempa saat enam tahun hidup di lingkungan asrama yang diasuh pastor Katolik. Waktu yang cukup panjang juga ia maknai sebagai sebuah kesempatan berharga untuk mengolah hati, otak dan mental demi masa depan yang baik.

“Ayah itu petani dan peternak tapi sangat bijak. Dia petani tapi ingin anaknya sekolah tinggi dan punya hidup baik. Tak pernah marah saat sedang makan. Menegur kami dengan bijak bila kami salah. Mama, ibu rumah tangga, namun sangat disiplin dan adil bagi kami anak-anaknya. Berkat pendidikan di keluarga juga di sekolah dan asrama Katolik, karakter saya secara pribadi benar-benar dibentuk,” ungkapnya.

Tamat dari SMA Katolik Surya Atambua, Marianus berangkat ke Kupang dan menjadi mahasiswa jurusan ekonomi Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.

“Setelah tamat, saya ingin kerja di Bank Indonesia,” ujarnya sumringah

Sayang, baru saja selesai kuliah dan mendapat gelar sarjana, sang ayah jatuh sakit dan meninggal dunia.

“Saat saya ujian skripsi ayah masuk rumah sakit, tapi tak ada satupun yang memberi informasi karena tahu bahwa saya akan ujian. Belum lagi komunikasi dan transportasi terbatas waktu itu. Oleh seorang handaitaulan akhirnya saya tahu ayah sakit. Saya ke Atambua, namun terlambat Ayah sudah meninggal. Saat itu ia hanya bilang, Nus (sapaan Marianus) sudah selesai, tugas saya selesai, tolong lihat mama dan adik-adik,” kisahnya.

Bagi Marianus, ini adalah ujian dan kesedihan terdalam pertama yang ia rasakah, kehilangan sosok penting dalam hidup yang ia hormati dan idolakan. Tak ingin larut dalam kesedihan, ia mulai mencari informasi untuk bisa bekerja. Ternyata Bank Indonesia Indonesia kala itu membuka lowongan pekerjaan. Hingga deadline, Marianus muda menjadi satu-satunya pelamar dari NTT. Karena kuota pelamar tak mencapai 10 orang maka tes masuk harus dilaksanakan di Jakarta. Penuh pertimbangan, Marianus akhirnya mengurungkan niat untuk tes ke Jakarta. Berkat lain ia dapatkan dari salah satu perusahaan swasta di Kota Dili, Timor Leste yang kala itu masih jadi Provinsi Timor-Timur. Sesaat setelah wawancara ia langsung diterima dan diberikan uang transport awal Rp 200.000. Ia bertugas sebagai staf pembukuan sekaligus kepala bagian keuangan.

“Saya agak terkejut karena saya belum punya pengalaman, tapi dipercayakan dengan tanggung jawab penting,” ujarnya.

Kesempatan ini ia jalani dengan ikhlas, bekerja sambil belajar dan membangun komunikasi yang baik dengan pimpinan dan semua staf. Sering ia menghabiskan waktu dari pagi hingga malam bahkan menginap di kantor demi menyelesaikan pekerjaan. Berbagai program perusahaan untuk membantu industri kecil masyarakat terutama para ibu dan milisi kala itu benar-benar ia jalankan dengan penuh semangat. Masih ia ingat dengan jelas bagaimana perusahaan tempat ia bekerja memberi akses pelatihan bagi masyarakat di Jepara untuk membuat rosario dan tasbih dari cendana. Pandai besi dari Bali juga didatangkan untuk melatih para milisi sehingga mampu memproduksi peralatan pertanian dan perkakas besi seperti parang, pisau, sabit, dan aneka perkakas lain untuk kebutuhan di Provinsi Timor-Timur.

“Kami beri pelatihan, sediakan bahan baku dan kami beli untuk distribusi sehingga mereka punya pasar yang jelas dan penghasilan,” ujarnya.

Meski cukup melelahkan, namun banyak pencapaian diperoleh saat itu. Selain peningkatan ekonomi, berbagai promosi di NTT dan luar NTT sering diikuti sehingga permintaan produk terus meningkat terutama untuk kebutuhan lokal.

Tiga tahun bekerja, BKKBN Dili membuka lowongan pekerjaan. Niat untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) pun muncul. Ia melamar dan diterima bekerja di salah satu kabupaten di Timor-Timur. Terbiasa bekerja di lapangan dengan masyarakat membuatnya cukup mudah menyesuaikan diri saat menjadi staf di BKKBN. Tetap pada prinsip yang sama, sekecil apapun jabatan dan pekerjaan yang dipercayakan, ia tetap ikhlas bekerja dan berupaya melakukan hal terbaik yang ia bisa.

Setelah mendapatkan pekerjaan tetap, tahun 1995, Marianus memutuskan untuk menikah dengan seorang dokter Skolastika Daro di Ende. Mereka dianugrahi dua anak laki-laki. Beberapa tahun membina keluarga dan meniti karier, Jajak Pendapat Timor-Timur terjadi. Gejolak hadir silih berganti. Demi keselamatan keluarga, Marianus dan keluarga kecilnya harus pindah ke Kupang. Sang istri bergabung ke Dinas Kesehatan sementara ia dipindahkan ke Kantor BKKBN Kota Kupang. Ia sempat dimutasikan ke Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) selama tiga bulan lalu pindah ke BKKBN Provinsi NTT.

Marianus harus rela meninggalkan rumah dan hasil kerja keras lain di Timor-Timur dan mulai melangkah dari nol.

“Kalau mau dipikirkan kembali memang tidak mudah. Tapi saya menguatkan istri dan anak-anak. Saya bilang ke Ibu, kita masih muda, mari kita mulai lagi yang baru. Kita jalani dengan ikhlas,” kata Marianus mengenang masa sulit itu.

Tiba di Kupang ia harus mulai lagi dari nol, menjadi staf, sempat naik Eselon IV, lalu mendapat tugas belajar di Universitas Gadjah Mada (UGM). Kembali dari studi, ia kembali menjadi staf meski pergi dengan jabatan.

“Setiap pekerjaan saya terima dengan hati tulus, tapi saya yakin Tuhan tidak tutup mata. Moto saya iman dan ilmu menyatu dengan karya. Saya tidak pernah mengeluh atau mempertanyakan mengapa saya tidak dapat jabatan atau kenapa saya hanya dapat pekerjaan ini. Saya jalani saja,” ujarnya optimis.

Berkat keuletan, disiplin, kerja keras, dan doa kepada Tuhan juga leluhur dan orangtua, Marianus resmi menjadi Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Provinsi NTT di bulan Juni 2017 lalu.

Baru satu tahun menjadi pimpinan, duka kembali ia rasakan, tepat 25 November 2018, istri tercinta dr. Slokastika Daro berpulang ke rumah Tuhan saat ia sedang mengikuti pelatihan di Bandung. Kesedihan mendalam ia rasakan namun tetap berupaya tegar demi dua putranya. Ia ikhlas menerima suratan Tuhan untuk keluarga kecilnya. Usai mengurus pemakaman sang istri, Marianus harus tetap profesional melanjutkan pelatihan yang ia tempuh dan kembali bertugas.

“Beberapa tahun ini saya sudah berupaya maksimal, namun Tuhan punya rencana lain. Ini kehilangan yang teramat dalam setelah ditinggalkan Ayah. Namun, saya harus tegar dan melanjutkan hidup,” ungkapnya.

Demikianlah seorang pejuang, ia tetap melanjutkan pekerjaan meski tantangan selalu ada. Pengalaman kerja yang cukup panjang membuat ia paham benar persoalan Keluarga Berencana (KB) di lapangan. Ketika dipercaya sebagai pemimpin, ia yakin ini bukan kebetulan. Namun, menjadi kesempatan baru baginya untuk melayani lebih sungguh sambil mendorong seluruh staf untuk bekerja maksimal dan menciptakan generasi staf BKKBN yang berkualitas, berkarakter, dan cerdas.

Disipilin menjadi prinsip utama yang ia terapkan dalam kepemimpinannya. Tinggal tak jauh dari kantor membuat ia bisa terus memantau kebersihan lingkungan kantor bahkan sebelum para staf tiba di pagi hari.

“Jadi kepala tidak mudah, Tuhan beri keyakinan untuk jalani. Saya bilang ke teman-teman mari terapkan disiplin untuk majukan NTT. Kalau NTT tidak maju di tangan kita jangan harap NTT maju di tangan orang lain. Kami sudah punya tekad untuk ikut berkontribusi demi kemajuan NTT,” tegasnya.

Ia mengaku tegas soal kedisiplinan pegawai. Pegawai tidak hanya diharuskan datang dan pulang tepat waktu namun kinerjanya harus terukur. Tugas dan tanggung jawab harus diselesaikan sesegera mungkin, tidak menunda-nunda pekerjaan atau keluar semaunya saat jam kantor. Tak hanya disiplin, kebersihan dan lingkungan yang hijau juga ia terapkan. Setiap staf wajib menjaga kebersihan diri dan lingkungan kantor. Membuang puntung rokok atau sampah sembarangan tabu dilakukan di BKKBN. Tanaman hijau di sekitar kantor dirawat agar menciptakan lingkungan kerja yang nyaman bagi semua staf.

Sebagai pimpinan, ia berharap para staf yang adalah pemimpin masa depan BKKBN punya kualitas yang mumpuni. Ia mendorong para staf untuk melanjutkan pendidikan master baik di dalam maupun di luar negri. Menciptakan lingkungan kerja yang positif penuh motivasi, optimisme dan penuh daya saing terus ia kembangkan.

“Kepala adalah pemimpin. Saya harus ciptakan generasi baru. Kalau para staf saya lebih baik dari saya, saya bahagia. Kalau mau maju harus disiplin dan berani buat salah. Dari kesalahan kita belajar. Perubahan tidak mudah, jadi saya bilang ke teman-teman kalau tidak bisa saya di depan mari ikut saya, kalau mulai bisa maka saya akan ada di tengah untuk kita kerja sama-sama, kalau tidak bisa saya akan siap dorong, beri contoh, dan motivasi dari belakang,” ujarnya.

Terkait program BKKBN di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur, Marianus mengaku masih banyak persoalan kependudukan dan keluarga berencana yang harus diselesaikan dengan strategi dan pendekatan program yang baik. Salah satu pekerjaan rumah besar saat ini adalah menurunkan Total Fertility Rate (TFR) NTT yang masih sangat tinggi yakni 3,4. Angka ini paling tinggi di seluruh Indonesia. Ia menargetkan tahun 2023 angka ini bisa turun ke 2,6.

Ia simpatik dengan kepemimpinan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat ((VBL) dan siap mendukung berbagai program strategis untuk NTT Bangkit, NTT Sejahtera.

“Gubenur sudah buka jalan, cari pasar, sediakan tenaga ahli. Kalau kita tidak bisa terjemahkan, mau apalagi,” jelasnya.

Kerja keras, disiplin dan optimisme Gubernur VBL, menurutnya perlu diterjemahkan dan diaplikasikan melalui program-program yang dikerjakan BKKBN. Saat ini, pihaknya telah mengimbau 600 desa KB di NTT untuk menanam kelor sebagai sumber nutrisi bagi anak-anak dan menurunkan bahkan mencegah kasus gizi buruk di NTT. Kemampuan bahasa asing seperti bahasa Inggris juga menjadi hal penting yang telah diterapkan di lingkungan BKKBN setiap hari Rabu. Optimisme untuk menyukseskan berbagai program kependudukan dan keluarga berencana di NTT juga menjadi prinsip kerja utama agar masing-masing staf bekerja dengan strategi dan pendekatan yang tepat, profesional dan bekerja keras demi kesejahteraan masyarakat NTT.

Baginya, tidak mudah menjadi pemimpin visioner namun konsintensi lewat kerja nyata akan membuahkan hasil yang baik bila didukung segenap elemen pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Akhirnya, bagi Marianus, tak ada yang tak bisa kita lakukan jika ada keinginan kuat untuk mulai bekerja dan mewujudkan mimpi. Lewat ketekunan, sang anak petani ini membuktikan bahwa tantangan hidup bukanlah alasan untuk menyerah dan berhenti berjuang. Namun, motivasi untuk bangkit dan melangkah lebih jauh. Kesetiaannya pada hal kecil telah membawa ia dipercaya pada titik ini. Baginya menggerutu dan mengeluh hanya sia-sia. Ketika kita siap menyingsingkan lengan baju dan mulai bekerja, maka hasil tak akan mengkhianati usaha. Di titik ini, kesukesan program BKKBN adalah yang penting namun yang utama, kesempatan menjadi pemimpin baginya bukanlah untuk bermegah namun untuk memberi dasar yang kuat bagi generasi masa depan. Sebab ia yakin, pemimpin terbaik dalam sejarah memahami pentingnya memberi motivasi dan arah yang jelas untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

 

Biodata

Nama :Marianus Mau Kuru, SE, MPH, TTL     : Sadi – Atambua, 2 Mei 1964, Pendidikan terakhir: S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta, Konsentrasi Kesehatan Ibu & Anak Kesehatan Reproduksi.

Istri: dr. Scholastika Daro (Alm).

Anak: William Rio Angelo Mau Kuru (Kantor Pajak), Gregorius Ronaldo Mau Kuru (Fakultas Kedokteran Hewan Undana, saat ini bertugas sebagai Ketua BEM Fakultas Kedokteran Hewan Undana)