Industrialisasi Garam Tingkatkan Ekonomi NTT

berbagi di:
foto-hal-01-cover-bahas-garam

BAHAS GARAM: Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja, bersama Direktur Utama PT. Tjakrawala Timur Sentosa, Ageng Bima Pratama dan Komandan Lantamal VII Kupang, Laksma TNI AL, IG. Kompiang Aribawa beserta jajaran membahas industri garam di wilayah NTT, aula Kantor Perwakilan BI NTT, Selasa (13/10).

 

 

 

Simon Selly

 

 

PENGEMBANGAN garam di NTT secara maksimal terus menjadi perhatin khusus Pemprov dan kementerian terkait, melalui penerapan teknologi dan pabrikasi pencucian garam (washing machine).

Strategi yang dibangun untuk mendorong industrialisasi garam terus dilakukan di NTT, mulai dari hulu ke hilir. Oleh karena, inustrialisasi garam di NTT diyakini akan berdampak besar pada peningkatan ekonomi masyarakat NTT.

Demikian intisari pandangan Kepala Kantor BI Perwakilan NTT I Nyoman Ariawan Atmaja, Danlantamal VII/Kupang Laksma TNI AL I Gusti Kompiang Aribawa, dan Dirut PT Tjakrawala Timur Sentosa (TTS) Ageng Bima Pratama dalam diskusi di kantor Bank Indonesia Perwakilan NTT, Selasa (13/10).

I Nyoman Ariawan Atmaja mengapresiasi pengembangan garam di Kabupaten Kupang, yang pasti berdampak pada peningkatan ekonomi NTT. “Kita sangat mengapresiasinya, karena selain ada lapangan kerja yang besar, juga dampak ekonomi bagi masyarakat NTT,” ujarnya.

Senada, Laksma TNI AL I Gusti Kompiang juga mengapresiasi pengembangan garam yang menjadi program andalan Pemprov NTT saat ini. “Selain Kabupaten Kupang, ada beberapa daerah di 22 kabupaten/kota yang pesisir pantai serta lautnya menyimpan potensi yang bisa dimaksimalkan, bisa rumput laut, keramba apung, ikan kerapu, garam, pariwisata, dan lainnya,” tandasnya.

Sedangkan Ageng Bima Pratama menegaskan bahwa kebutuhan garam nasional mencapai 4,8 juta metrik ton/tahun, namun kemampuan produksi dalam negeri baru 2 juta ton lebih sehingga sisanya masih impor.

“PT Tjakrawala Timur Sentosa yang baru berdiri 3 tahun ini sudah mampu mengelola luasan 300 hektare lahan tambak garam di Desa Merdeka, Babau, Nunkurus, Oeteta dan beberapa daerah di Kabupaten Kupang. Kami kerja sama dengan pemerintah, para penambak garam dengan sistem bagi hasil,” jelasnya.

Iklim NTT, khususnya di Kabupaten Kupang, sangat cocok untuk pembuatan garam karena musim panas berlangsung sekitar 8 bulan. “Industrialisasi garam sangat diharapkan bisa terus dilakukan di NTT mulai dari hulu ke hilir. Mulai dari produksi garam sampai produk turunannya, ekstensifikasi dan intensifikasi, meningkatkan kualitas garam rakyat, koordinasi penyerapan garam rakyat, kualitas garam ke industri, dan juga gudang penyimpanan garam,” jelasnya.

 
Kemurnian Komposisi

 

Ia menambahkan bahwa kadar garam NaCl (natrium chlorida) yaitu 97% tingkat kemurnian sesuai standar agar bisa diserap untuk kebutuhan industri, selain beberapa hal yang perlu perhatian.

“Kualitas garam yang harus dijaga kemurnian komposisinya, ekstensifikasi lahan agar bisa ada subtitusi impor. Setiap tahun kebutuhan garam dalam negeri selalu naik, yakni industri dan produk turunannya, di antaranya makanan, pertambangan, petrokimia, kosmetik, pena, kertas, sabun, aneka pangan, dan industri kimia. Hampir semua industri memerlukan bahan baku dasar garam untuk senyawa yang akan diolah,” ungkapnya.

Selain itu, konsumsi garam rumah tangga secara ideal 3 kilogram (kg) per tahun dengan kandungan NaCl sekitar 74%. Namun untuk industri wajib 97% kandungan NaCl-nya. (R-4/yan/ol)