Infrastruktur di Tujuh Destinasi Mulai Dibangun

berbagi di:
foto-hal-01-headshoot-wayan-darmawa

 

 

 

Rafael L. Pura
Pememrintah Provinsi (Pemrov) NTT mulai membangun berbagai fasilitas pendukung di tujuh destinasi wisata unggulan di tujuh kabupaten yakni Fatumnasi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Lamalera di Lembata, Mulut Seribu di Rote Ndao, Pantai Liman di Semau, Kabupaten Kupang, Desa Koanara di Ende, Wolwal di Alor dan Praimadita di Sumba Timur.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disprekraf) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Wayan Darmawa mengatakan, fasilitas yang mulai dibangun itu seperti jalan, air dan listrik.

“Pemerintah saat ini sudah mulai membenahi infrastruktur pendukung di kawasan wisata yang dikembangkan berbasis masyarakat,” kata Wayan Darmawa, kemarin.

Ia menjelaskan, untuk membangun sarana pendudukung di tujuh destinasi wisata tersebut, Pemprov telah menyediakan anggaran Rp 1,2 miliar untuk tiap destinasi.

“Anggaran ini, untuk mendukung pembangunan infrastruktur seperti istalasi air bersih, jalan raya, dan listrik. Semua akan dibangun secara masif mulai tahun 2020 mendatang,” sebutnya.

Wayan memastikan, ke depan destinasi di seluruh kabupaten/kota akan dibangun dengan pola yang sama.

“Tahun ini kita mulai dengan tujuh kawasan dan selanjutnya akan dibangun pada smeua destinasi unggulan di semua kabupaten/kota,” ujarnya.

Wayan mengatakan, pada tiap destinasi wisata unggulan yang dibangun Pemprov, tahun ini ini sudah mulai dibangun penginapan yang dikerjakan oleh masyarakat setempat dengan sistem swakelolah tipe tiga.

Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) NTT menyebutkan bahwa ke depan sektor pariwisata NTT akan menjadi penyumbang pendapatan domestik bruto, sejalan dengan visi Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat yang menjadikan pariwisata sebagai penggerak utama pembangunan ekonomi. Untuk itu pariwisata harus dipersiapkan dengan baik.

“Kalau secara nasional, hitung-hitungannya ternyata sektor pariwisata itu kontribusinya mencapai 10 persen untuk pendapatan domestik bruto. Dari 10 orang yang bekerja di Indonesia, satu orangnya bekerja di sektor pariwisata, sehingga kenapa pariwisata itu didorong jadi penggerak utama perekonomian,” ujar Kabid Statistik Distribusi BPS NTT, Dem Sabuna, pekan lalu.

Sabuna mengatakan, era Revolusi Industru 4.0 mempunyai pengaruh yang luar biasa bagi kaum milenial. Terjadi pergeseran kebutuhan dari kepemilikan barang mewah ke kebutuhan wisata.

“Kalau dulu orang bangga kalau punya mobil mewah, rumah mewah, HP mewah dan sebagainya, tapi zaman sekarang, orang lebih bangga kalau sudah ke Labuan Bajo, ke Singapura, Bali dan tempat wisata lainnya,” sebutnya.

Pariwisata merupakan pilihan kebutuhan masa kini. Untuk itu, pariwisata NTT harus ditata dan dikelola dengan baik sehingga mampu menggerakkan sektor lainnya.
Untuk mendorong pariwisata sebagai penggerak utama, Sabuna menyarankan agar dalam pengembangannya senantiasa memperhatikan aspek attraction (daya tarik), accessibility (aksesibilitas), amenities (fasilitas) dan ancillary (kelembagaan). (mg-03/S-1)