Ini Kendala RSUD Ba’a Penuhi Kebutuhan Darah

berbagi di:
img-20191003-wa0008

dr Widyanto P Adhy

 

Frangky Johannis

Untuk memenuhi kebutuhan darah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ba’a, selama ini manajemen merasa terbantu oleh pendonor dari keluarga, Palang Merah Indonesia (PMI), serta pendonor aktif lainnya, seperti anggota Polres, Kodim 1627/Rote Ndao, organisasi sosial, serta instansi/institusi lain yang ada di wilayah tersebut.

Hal tersebut disampaikan Direktur RSUD Ba’a dr Widyanto P Adhy yang dikonfirmasi VN melalui telepon genggamnya, Kamis (3/10), terkait kebutuhan darah di sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rote Ndao tersebut.

Adhy mengatakan ketersediaan darah sangat bermakna untuk melayani pasien yang memerlukan tindakan emergency atau tidak terencana. Selama ini pelayanan di RSUD Ba’a, terutama untuk kasus-kasus operasi terencana dilakukan dengan donor darah yang diusahakan oleh keluarga pasien. Kendalanya apabila dalam keadaan emergency, maka akan kesulitan dalam penyediaan darah.
Kebutuhan utama jangka pendek, kata dia, adalah perlu adanya Bank Darah untuk memenuhi kebutuhan darah saat emergency. Sementara kebutuhan jangka panjangnya adalah harus milik Unit Transfusi Darah.

“Ke depan, RSUD Ba’a harus miliki Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) dan Unit Transfusi Darah Rumah Sakit (UTDRS), tetapi UTDRS itu sebaiknya tidak dikelola oleh PMI untuk mensuplai darah untuk kebutuhan rumah sakit,” kata Adhy.
Ditanya terkait langkah-langkah yang sudah diambil manajemen RSUD Ba’a dalam mengatasi kondisi ini, Adhy katakan, pihaknya telah melakukan pemantapan pelayanan laboratorium klinik dasar dan memantapkan tim operator layanan ruang operasi.

“Setelah pelayanan ruang operasi dan laboratorium klinik dasar sudah baik, barulah kita mempersiapkan penyediaan Bank Darah. Setelah Bank Darah sudah beroperasi, barulah kita membuat Unit Transfusi Darah yang dikelola PMI untuk mengatasi kebutuhan darah di RSUD Ba’a,” pungkasnya.

Ia memebrikan apresiasi kepada pendonor dari keluarga, Palang Merah Indonesia (PMI), serta pendonor aktif lainnya, seperti anggota Polres, Kodim 1627/Rote Ndao, organisasi sosial, serta instansi/institusi lain yang selama ini mendukung pelayanan darah bagi RSUD Ba’a.

Terpisah, staf Devisi PB, PMR, dan Relawan PMI Kabupaten Rote Ndao Icad Hardiningrat yang didampingi staf Devisi Logistik Yohanis Tungga kepada wartawan di Sekretariat PMI mengatakan, akibat belum memiliki Bank Darah dan Unit Transfusi Darah, sehingga ketersediaan darah belum dapat dikelola secara baik.

Menurutnya, pada bulan Agustus lalu, sudah diperoleh izin Transfusi Darah, sehingga diperkiraan pada akhir tahun 2019 pelayanan tranfusi darah di Rote Ndao sudah bisa berjalan.

Ia mengatakan, selama ini pelaksanaan donor darah masih menggunakan Laboratorium RSUD Ba’a, sehingga stoknya belum bisa dikelola secara baik. Jika ada permintaan darah, barulah dicari pendonor karena ketidaktersediaan peralatan memadai dan tenaga analis.

“Sesuai hasil komunikasi dengan PMI Provinsi NTT, tahun ini akan segera dibangun Unit Transfusi Darah, tetapi memang masih terkendala kekurangan tenaga analis. Sehingga, PMI Rote Ndao masih  berkomunikasi dengan Pemkab Rote Ndao agar dibantu tenaga analis. Kami berharap Pemkab Rote Ndao memperbantukan tenaga analisis di PMI Rote Ndao,” harapnya. (bev/ol)