Inilah Keluh Kesah Guru di Tengah Pandemi Covid-19

berbagi di:
img-20201125-wa0028

 

Kristina Tuto
Guru Agama SMPN 4 Taebenu Kabupaten Kupang

 

 

 
Sinta Tapobali

 

 

GURU merupakan sosok yang berjasa dalam hidup setiap orang yang pernah mengenyam pendidikan, mereka sering disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Dalam mencerdaskan anak bangsa, guru tentu memiliki peran terbesar, meski harus dilakukan di tengah pandemi saat ini.

Memperingati Hari Guru Nasional, Wakil Walikota Kupang, Hermanus Man yang ditemui VN pada Rabu (25/11) siang mengatakan bahwa profesi guru merupakan suatu profesi yang luar biasa, karena profesi ini mampu menghasilkan orang-orang yang luar biasa.

Menurut Herman ke depannya pemerintah Kota Kupang tetap mengapresiasi dan berkomitmen terhadap peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru.

Dalam kesempatan ini juga meminta kepada seluruh masyarakat untuk mendukung proses pembelajaran online sehingga proses pembelajaran ini dapat berjalan dengan baik.

“Saya pantau selama ini guru-guru di Kota Kupang itu sudah sangat luar biasa dalam memberikan pelajaran bagi anak-anak meski di tengah pandemi Covid-19. Guru-guru tetap semangat meski banyak anak yang tidak punya hp mereka tetap berusaha agar bagaimana caranya anak-anak tetap mendapatkan ilmu. Antusiasme mereka sangat baik dan saya sangat apresiasi itu,” ungkap Herman Man.

Maria Lusi salah satu guru di SD Kelapa Lima Kupang, yang ditemui VN mengaku bahwa tidak kerasan dengan sistem mengajar online karena dinilai kurang efektif.

Menurutnya, kelas daring bukan berarti semua serba enak. Salah satu dampak yang dirasakan sebagai guru yakni tak bisa berinteraksi secara sosial dengan siswa belum lagi jika murid kelasnya tidak mendapatkan fasilitas ponsel secara mandiri dari orangtua.

“Bagi saya siswa itu lebih penting, saya tidak mau mereka semakin ‘bodoh’ karena terus sekolah online (daring). Kami guru kesulitan karena mengajar online dengan hanya memberikan tugas. Belum tentu tugas yang dikasih itu anak yang kerja, bisa jadi orangtua yang kerja,” ungkapnya.

Menurutnya, sebagai seorang guru ia memiliki kerinduan untuk bertemu dengan para siswa secara langsung, namun kunjungan rumah saat ini dilarang karena kondisi pandemi Covid-19 saat ini.

“Mau turun ke rumah siswa tapi kami dilarang jadi kami hanya bisa kasih tugas, misalnya kasih hari ini nanti tiga hari kemudian baru mereka datang kumpul. Kami juga kesulitan untuk mengontrol mereka, apakah mereka benar-benar mengikuti pembelajaran atau mereka hanya bermain di rumah,” pungkasnya.

Namun sebagai seorang guru yang mempunyai tugas dan tanggungjawab moril untuk memberikan pendidikan terhadap para siswa Ia tetap berusaha untuk memberikan pelajaran yang terbaik bagi para siswa meski di tengah keterbatasan yang dihadapi.

Hal senada juga disampaikan Yohanes Seran salah satu guru TKJ di SMPN 2 Kupang. Menurutnya, pembelajaran berbasis online tentu tidak mudah dijalankan namun komitmen untuk tetap memberikan hak pendidikan kepada siswa, mendorongnya bersama para guru harus berinovasi dan kreatif untuk menciptakan mekanisme pembelajaran online yang baik.

“Kami bentuk tim Belajar Dari Rumah (BDR) untuk mendukung persiapan pembelajaran online. Kami guru wajib membuat video pembelajaran yang diunggah ke seluruh siswa melalui blog yang telah dibuat. Untuk itu kami lakukan pelatihan terkait dengan menggunakan aplikasi pembelajaran online seperti zoom, google from, google maps, google classroom, google drive hingga membuat channel youtube,” jelasnya.

Menurutnya, sebagai wali kelas ia berkewajiban mengunjungi siswa di rumah untuk melihat secara langsung atau kendala yang dihadapi para siswa dan orangtua. Hasil pantauan tersebut ditemukan begitu banyak kendala yang dihadapi oleh para orangtua maupun siswa.

“Banyak hal yang saya yang saya peroleh saat berkunjung ke rumah siswa. Ada keluhan dari orang tua wali terkait pulsa data, materi pembelajaran yang tidak dipahami, dan hampir seluruh siswa merindukan untuk masuk sekolah. Tapi apa boleh buat, Situasi dan kondisi tidak memungkinan untuk belajar di sekolah. Saat ini yang bisa kita lakukan yaitu bergandengan tangan untuk memutuskan mata rantai penularan Covid-19 dengan cara mematuhi protokol kesehatan,” pungkasnya.

Kristina Tuto, salah satu guru di SMPN 4 Taebenu Kabupaten Kupang juga mengatakan bahwa pembelajaran online memiliki kesulitannya tersendiri. Menurutnya pada awal BDR diterapkan, pihak sekolah mengalami kesulitan dalam memberikan pembelajaran kepada para siswa karena terkendala tidak semua siswa memiliki HP Android.

Bahkan menurutnya orangtua yang tidak memiliki HP android, sampai harus meminjam HP tetangga hanya agar anaknya bisa memperoleh informasi terkait tugas yang diberikan para guru.

“Awal BDR kami sekolah mendata semua siswa yang memiliki HP Android. Bahkan siswa yang tidak memiliki HP android harus meminta nomor tetangganya untuk diberikan ke sekolah agar mereka bisa mendapatkan informasi berkaitan dengan tugas yang diberikan oleh guru,” jelas Kristin.

Bahkan menurutnya pada saat siswa mengikuti ujian pertengahan semester ia bersama rekan gurunya harus turun ke rumah-rumah siswa untuk membagikan secara langsung soal-soal ujian untuk dikerjakan. Hasil ujian tersebut pun harus diambil sendiri oleh para guru di rumah siswa mereka masing-masing. Hal tersebut tetap dinikmati meski harus membutuhkan tenaga ekstra karena harus mengunjungi rumah siswa dalam jumlah yang banyak.

“Saya tetap semangat karena saya sadar ini tanggung jawab saya sebagai seorang guru yang harus mencerdaskan anak bangsa. Apapun itu saya dan rekan guru tetap hadapi meski kami harus kerja lebih ekstra dari biasanya,” ungkap Guru Agama ini.

Namun menurutnya berdasarkan SK dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kupang, SMPN 4 Tarbenu, kembali melaksanakan proses belajar secara langsung di sekolah namun dengan pembagian shift dengan pengurangan jam belajar. Dengan pembelajaran dilangsungkan kembali di sekolah maka proses belajar mengajar dapat kembali seperti biasanya meski tetap harus memperhatikan protokol kesehatan.

“Tetap protokol nomor satu, sehingga caranya kami bagi dalam shift dan juga mengurangi jam belajar, sehingga siswa tetap dapat belajar tetapi mereka tidak terlalu lama di sekolah,” jelasnya.

Ia berharap para siswa antusias untuk belajar meski saat ini pembelajaran harus dilakukan dengan penuh keterbatasan. (Yan/ol)