Investor tak Perlu Khawatir ke NTT

berbagi di:
foto-hal-09-wagub-ntt-josef-nae-soi-ketua-dekranasda-ntt-julie-sutrisno-laiskodat-konsulat-timor-leste-foto-bersama-para-pemenang-stand-terbaik-saat-penutupan-expo-sunda-kecil-minggu17-11-nahor

Wakil Gubernur NTT, Josef A Nae Soi (kelima dari kiri), Ketua Dekranasda Provinsi NTT, Julie Sutrisno Laiskodat (keempat dari kiri) foto bersama para juara Expo Sunda Kecil usai penyerahan hadiah di Lippo Plaza Kupang, tadi malam. Foto: Nahor Fatbanu/VN

 

 

Polce Siga

Para investor diminta tak perlu khawatir menanamkan modalnya di NTT. Sebab, NTT selain sebagai new tourism territory’ atau kawasan wisata baru, juga terkenal sebagai nusa terindah toleransi.
Wakil Gubernur NTT, Josef A Nae Soi (JNS) menyampaikan itu saat menutup Expo Sunda Kecil di Lippo Plaza Kupang, Minggu (17/11) malam. Expo Sunda Kecil digagas tiga daerah yaitu Provinsi Bali, NTB dan NTT.

Josef mengatakan, kedatangan investor tentunya untuk mengembangkan berbagai potensi di daerah. Karenanya, segala proses perizinan dan lainnya tidak boleh dipersulit.

“Para investor marilah berduyun-duyun datanglah ke sini, karena NTT adalah nusa terindah toleransinya,” ucap JNS.

Ia menambahkan, NTT saat ini sudah menjadi kawasan wisata baru, sehingga para investor tidak boleh takut datang ke NTT. Menurutnya, kawasan wisata baru memberi peluang bagi investor untuk mengembangkan usahanya.

“NTT ini new tourism territory atau kawasan wisata yang baru. Jadi tidak usah khawatir menanamkan modal di sini,” ujarnya.

Dalam kepemimpinannya bersama Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), demikian JNS, pihaknya selalu menekankan kerja keras dan kerja cerdas agar NTT bisa segera bebas dari kemiskinan. NTT harus bangkit supaya tidak boleh kalah dengan daerah lain.

“Dalam kepemimpinan saya dengan Pak Viktor, kami selalu menekankan bahwa NTT ini harus bangkit. NTT tidak boleh kalah dengan provinsi lain. Orang bilang NTT ini miskin tidak boleh ada lagi. Kita harus kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas,” tegasnya.
Karena itu, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu (PMPSP) Provinsi NTT harus memberikan pelayanan yang maksimal kepada para investor dalam pengurusan berbagai izin. Calon investor harus diperlakukan seperti raja, sehingga proses izinnya wajib dipermudah.

“PMPSP diharapkan mampu memberikan pelayanan prima kepada calon investor. Saya ingatkan lagi, calon investor adalah raja yang harus mendapatkan pelayanan sebaik mungkin,” katanya.

Ia mengatakan, proses izin saat ini bisa dilakukan secara online, sehingga investor tiga lagi keliling instansi terkait untuk melengkapi dokumen. Menurutnya, aplikasi Online Single Submission (OSS) yang mempermudah pelaku usaha membuat izin secara online.

“Sekarang sudah ada yang namanya OSS atau pelayanan secara online.Pelayanan tidak boleh lama atau bertele-tele. Jangan lagi orang datang bertele-tele,” pungkas JNS.

 

Flotim Juara
Sementara itu, Ketua Dekranasda Provinsi NTT, Julie Sutrisno Laiskodat mengatakan, bersama penyelenggara pihaknya memberikan penilaian kepada stand-stand peserta Expo Sunda Kecil. Dalam penilaian itu, Kabupaten Flores Timur meraih juara I dengan total hadiah Rp10 juta.

“Kami panitia siapkan hadiah total Rp30 juta, kriteria yang dinilai ragam produk yang ditampilkan, antusias pengunjung, kerapihan
dan kebersihan, dekorasi stand, dan juga harga yang pantas dari bahan/produk yang dipamerkan,” kata Julie.

Dalam penilaian itu, ada lima stand yang memperoleh juara harapan antara lain Kabupaten Alor, Kabupaten Sikka, Kota Kupang, Kabupaten Kupang dan Bank Indonesia. Masing-masing stand mendapatkan hadiah Rp2 juta.

Sedangkan, stand yang meraih juara I yaitu Kabupaten Flores Timur yang mendapat hadiah Rp10 juta, stand Timor Leste juara II dengan hadiah Rp6 juta dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT juara III yang mendapat hadiah Rp4 juta.
Expo Sunda Kecil berlangsung sejak 14-17 November 2019 yang juga dihadiri perwakikan dari Timor Leste, Selandia Baru, Australia, dan Tiongkok.

Kehadiran perwakilan empat negara itu menunjukan ketertarikan mereka terhadap produk lokal. Produk lokal seperti kopi, kelor dan tenun ikat kini siap bersaing di dunia luar atau antar negara. Expo Sunda Kecil yang dihadiri 126 pelaku UMKM itu memamerkan berbagai produk lokal NTT ke dunia luar. (pol/E-1)