IRT ODHA Lebih Banyak dari PSK

berbagi di:
hiv-aids

 

 

Berdasarkan data yang dihimpun Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Kupang persentase IRT ODHA sebanyak 12 persen, sementara untuk PSK mencapai 10 persen. Profesi yang terbanyak persentase ODHA yakni dari kalangan pekerja swasta yang berjumlah 20 persen.

Kepala Sekretariat KPA Kota Kupang Marselinus Bay, beberapa waktu lalu, mengatakan, data tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan KPA Kota Kupang sejak 2000 hingga April 2019.

“Ini data kami sampai bulan April lalu. Kami masih terus memberikan sosialisasi menyangkut bahaya HIV dan AIDS, di setiap instansi di Kota Kupang maupun masyarakat dari kalangan profesi rentan terkena HIV/AIDS,” ungkap Marselinus.

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, jelas Marselinus, KPA Kota Kupang mencatat bahwa laki-laki adalah yang terbanyak mengalami HIV/AIDS. Laki-laki dengan HIV/AIDS sebanyak 869 sementara perempuan sebesar 586, sehingga total keseluruhan HIV/AIDS sebanyak 1.455 orang.

Sementara untuk penemuan kasus HIV/AIDS terbanyak yakni pada 2017 lalu. Jumlah kasus HIV yang ditemukan KPA Kota Kupang pada tahun itu sebesar 109 kasus sementara AIDS sebanyak 85 kasus.
Total keseluruhan kasus HIV/AIDS di tahun itu mencapai 253 kasus dan merupakan yang tertinggi selama tahun 2000 sampai April 2019. Sementara yang terendah terdapat pada 2007 di mana hanya ditemukan 25 kasus. Sementara berdasarkan klasifikasi usia, rata-rata pengidap HIV/AIDS berada pada usia 20 sampai 49 tahun.

“KPA Kota Kupang mencatat pengidap HIV AIDS tahun 2000 sampai april 2019, yang berusia 20 sampai 24 tahun sebanyak 199 orang. Sedangkan pada usia 25 sampai 49 tahun sebesar 1.114 orang. Namun terdapat pengidap HIV/AIDS yang umurnya kurang dari 4 tahun, yakni sebanyak 32 balita sepanjang 2000 sampai April 2019,” kata Marselinus.

Sebelumnya diberitakan, untuk mencegah penyebaran penderita Human Immunodeficiency Virus-Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV-AIDS) harus memperkuat karakter anak melalui pendidikan di dalam keluarga. Karena karakter anak akan terbentuk melalui pola asuh yang dimulai dari dalam keluarga. Pola asuh yang salah dapat berakibat pada perilaku anak yang antisosial maupun cenderung terlibat dalam kejahatan.

Ketua Kelompok Kerja I Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (Pokja PKK) NTT Balqis Soraya, mengatakan, pola asuh keluarga menjadi dasar pembentukan karakter guna mencegah anak terhindar dari bahaya HIV-AIDS dan Narkoba.

“Tren kasus HIV-AIDS maupun penggunaan narkoba di Kota Kupang alami kenaikan dengan penyebabnya adanya mobilisasi sosial dengan korban penderita di usia produktif dan ibu rumah tangga,” kata Balqis.

Karena itu, sosialisasi dan pendidikan bagi generasi muda secara masif menjadi salah satu upaya mencegah penyebaran HIV-AIDS sekaligus peningkatan pemahaman tentang bahaya HIV-AIDS dan narkoba. (mg-22/mg-21/R-2)