Jadi Petani Hortikultura, Penghasilan Rp 10 Juta Per Bulan

berbagi di:
img-20200710-wa0014

Erick Padji (30), petani muda di lahan tani Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Jumat (10/7) siang. Foto: Yunus/VN

 

 

 

Yunus Atabara

Profesi sebagai petani masih dipandang sebagai profesi yang kelas bawah dan tidak memiliki masa depan, meski banyak yang terbukti sukses. Demi sebuah gengsi, intinya seorang sarjana harus menjadi pegawai dan berseragam. Sekalipun penghasilan pas-pasan.

Padahal, sesungguhnya mengembangkan kompetensi keilmuan yang dimiliki oleh seorang sarjana dengan menjadi petani hortikultura profesional jauh lebih menjanjikan. Pendapatan bisa berlipat ganda dari gaji seorang pegawai golongan rendah.

Hal ini disampaikan Erick Padji (30) alumni Fakultas Pertanian UNIPA Maumere Jurusan Agribisnis Tahun 2015, saat ditemui VN di lahan pertanian miliknya di Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Jumat (10/7) siang.

img-20200710-wa0015

“Hanya untuk sebuah gengsi, seorang sarjana harus kerja kantoran. Yang penting pakai seragam, mentereng, tetapi penghasilan pas-pasan. Ini yang salah. Saya sudah buktikan, satu bulan saya bisa dapat lebih dari 10 juta rupiah,” kata Erick.

Erick menjelaskan, pada umumnya generasi muda NTT terpola dengan sebuah paradigma yang keliru. Dimana seorang sarjana dianggap percuma sekolah tinggi-tinggi kalau pada akhirnya kembali menjadi petani. Hal itu membuat generasi muda gengsi terjun menjadi petani.

Menurut Erick, menurunnya jumlah petani dan minat generasi muda yang bergelut di sektor pertanian berdampak pada hilangnya mimpi bangsa ini dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Padahal Kementrian Pertanian sudah membuat Program Duta Petani Muda sejak 2014 silam.

Erick mulai bergelut di sektor pertanian sejak saat masih kuliah semester V. Saat itu, hanya 1.400 populasi, mulai dari tomat, cabai, semangka dan buncis. Dari usahanya itu, ia bisa membiayai kuliahnya, termasuk biaya KKN di Jember Jawa Timur dan PKL di Nangapanda Kabupaten Ende.

img-20200710-wa0010

“Sejak semester 5 saya sudah bisa biayai sendiri kuliah saya, sampai selesai. Saya tidak bermimpi jadi pegawai. Saya fokus dan kembangkan usaha tanaman horti dan saya bisa berpenghasilan 10 juta rupiah per bulan,” kata Erick.

Dari hasil pertanian, lanjut Erick, ia sudah bisa membeli mobil pick up untuk kelancaran usahanya, bangun rumah serta membiayai adik-adiknya sekolah.

Erick bertekad mengembangkan sektor pertanian hortikuktura dan memotivasi generasi muda agar lebih mencintai pertanian.

Secara terpisah, Direktur Wahana Tani Mandiri, Carolus Keupung kepada VN mengapresiasi generasi muda yang berusaha di sektor pertanian. Dimana sektor pertanian hortikultura merupakan sektor yang menjanjikan untuk peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani itu sendiri.

“Usaha horti sangat potensial. Karena itu kita butuh generasi muda sebagai agen perubahan,” kata Keupung.

Keupung berharap keberadaan kampus di Maumere sebagai civitas akademika mampu menjadi lokomotif perubahan di sektor pertanian. Untuk merubah sebuah paradigma bahwa pertanian adalah sektor yang sangat menjanjikan jika dikelola secara baik.

“Tidak hanya budidaya, tetapi mulai dari proses pra tanam, budidaya hingga pasca panen, sebagai inovasi baru yang berkualitas dan berkelanjutan,” kata Keupung.(bev/ol)