Jahit dan Jual Masker Bermotif Daerah jadi Peluang Bisnis Baru

berbagi di:
img-20210207-wa0014

 

 

 

Sinta Tapobali

 
SEJAK merebaknya Covid-19, masker menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi semua orang tanpa mengenal kelas sosial dan ekonomi seseorang. Masker saat ini menjadi kebutuhan bagi setiap manusia untuk melindungi diri dari terpaparnya virus mematikan ini.

Penggunaan akan masker sudah menjadi tren dan gaya hidup bagi masyarakat saat ini. Kemanapun kita bepergian, masker adalah suatu barang yang wajib digunakan oleh siapapun. Hal tersebut menjadikan masker sebagai peluang bisnis baru bagi masyarakat untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Hal tersebut terbukti dengan menjamurnya para penjual masker pada hampir setiap pinggiran jalan di Kota Kupang. Ya, bisnis ini memang cukup menguntungkan.

Nona, wanita muda berusia 28 tahun misalnya, ia memanfaatkan moment pandemi untuk mendapatkan uang dengan menjahit dan menjual masker.

Berbekal keahlian menjahitnya, sejak bulan Juni tahun 2020 ia mulai menjahit masker dari aneka kain tenunan sisa. Masker yang ia jahit ini memiliki motif yang cantik, masker-masker ini ia padukan dari beberapa jenis kain dan motif dari berbagai daerah di NTT.

Masker yang ia jahit ini, ia jual dengan harga Rp15 ribu per picis. Masker-maskernya ini ia jual secara online baik untuk eceran maupun paketan dengan harga per paketnya Rp 100 ribu untuk 8 masker.

“Saya biasa lebih banyak posting di WA. Kadang saudara yang lain bantu posting di FB mereka. Kalau ada yang pesan baru mereka kasih tau saya dan kami antar atau bisa juga mereka datang ambil,” jelas ibu muda ini ketika dihubungi VN via telepon, pada Minggu (7/2) siang.

Meski jika dijual dengan harga per paketnya lebih murah ketimbang harga eceran, namun baginya bukan suatu persoalan karena bahan-bahan kain yang ia gunakan juga dari sisa-sisa kain jahitan pakaian para pelanggannya.

“Maskernya ini saya buat dari sisa-sisa kainnya orang. Kebetulan saya buka jahitan jadi orang-orang yang datang jahit pakaian bawa kain motif mereka sendiri, nah sisa dari jahit pakaian mereka itu yang saya modif untuk buat masker,” paparnya.

Menurutnya, keuntungan dari penjualannya ini bisa ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Meski tidak banyak tapi bisa untuk beli ikan dan sayur tiap hari,” tambahnya.

Bahkan menurutnya, ada beberapa pelanggannya yang memborong masker buatannya ini untuk dijual kembali dengan harga sedikit lebih mahal dari harga eceran yang biasa ia pakai. Namun meski demikian, ia tidak pernah merasa keberatan karena baginya setiap usaha pasti ada rejekinya masing-masing.

“Kadang ada yang beli grosiran lalu mereka jual lagi dengan harga yang lebih tinggi. Bagi saya tidak jadi masalah selama mereka membeli dengan harga yang saya patok, itu sudah memberikan keuntungan tersendiri bagi saya. Mau mereka jual kembali dengan harga mahal sekalipun saya tidak permasalahkan, karena mereka kan beli jadi tidak ada masalah,” tambahnya lagi.

Menurutnya saat ini, usaha masker tenunannya semakin laris dan banyak diminati karena selain motifnya yang indah, ia juga membuat masker ini setebal mungkin untuk memberikan perlindungan lebih tinggi dari biasanya.

“Motifnya hampir semua daerah ada. Saya buatnya tebal jadi orang pakai nyaman. Tapi sekarang kalau orang mau pesan biasanya saya minta untuk pesan satu bulan sebelumnya. Karena setiap hari pesanan selalu ada dan selain masker saya juga jahit pakaian jadi waktunya memang dibutuhkan agak lama,” ujarnya lagi. (Yan/ol)