Jangan Biarkan Bahasa Indonesia Tergerus

berbagi di:
foto-hal-15-foto-master-bahasa

Mantan Duta Wisata Indonesia Perdamaian NTT Yessy Usboko (kiri) menjawab pertanyaan peserta ditemani Duta Bahasa Provinsi NTT 2019 Martha Sooai (tengah) dalam acara WISH Festival di aula Citra Bangsa, Sabtu (21/9). Foto: Putra Bali Mula/ VN

 

Putra Bali Mula

Bahasa Indonesia dan bahasa daerah di NTT merupakan dasar identitas manusia Indonesia dan NTT khususnya yang tidak boleh dibiarkan tergerus dalam gelombang globalisasi. Karena itu, setiap manusia NTT diminta untuk menerima Bahasa Inggris tetapi tidak melupakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah di NTT.

Hal ini disampaikan Duta Bahasa Provinsi NTT 2019 Martha Sooai pada WISH Festival di aula Citra Bangsa, Sabtu (21/9).
Sebagai Duta Bahasa yang terpilih pada Agustus lalu, Martha mengajak puluhan mahasiswa dan pelajar yang mengikuti kegiatan tersebut untuk menerima Bahasa Inggris, tetapi tidak melupakan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah di NTT sebagai identitas.

Menurutnya, di era globalisasi dan revolusi industri seperti saat ini sangatlah penting untuk menguasai Bahasa Inggris, namun di lain sisi mahasiswa atau pelajar sebagai modal SDM Indonesia, patut berbangga dengan Bahasa Indonesia sebagai pemersatu, terutama terhadap bahasa daerah yang beragam di NTT dengan nilai sejarah yang mendalam.

Hal yang memprihatinkan adalah seringkali terdapat kegiatan atau nama-nama sekolah, kantor dan instansi yang lebih menggunakan bahasa asing ketimbang bahasa Indonesia. Budaya tersebut menurut Martha tidaklah salah hanya saja sebagai bangsa dengan Bahasa Indonesia sebagai indentitas hal ini ia nilai mengkhawatirkan.

“Di 2045 jadi masa emas, tetapi jangan sampai kita lupa dengan identitas kita karena bahasa itu budaya dan identitas kita. Seperti nama-nama kegiatan, kantor, atau semacamnya yang seharusnya bisa bahasa Indonesia tapi lebih senang kita gunakan Bahasa Inggris,” ungkapnya.

Selain itu, ia menyebut kekayaan budaya di NTT juga tercermin dalam bahasa daerah yang beragam. Hal tersebut mempunyai nilai historikal dan sangat berkaitan erat dengan wisata. Bahasa daerah yang beragam adalah kekayaan yang dapat meningkatkan atraksi pariwisata di daerah.

“Kita jangan jadi negara yang tidak jelas identitasnya, maunya apa, padahal kita sangat kaya, termasuk bahasa daerah saja kita punya 668 jenis bahasa,” kata dia.

Pada kesempatan itu juga Yessy Usboko, pembawa acara program Beta Budaya di TVRI NTT, menyampaikan hal serupa. Ia menyebut bahwa banyak event atau kegiatan baik lokal maupun nasional yang mengharuskan peserta paham budaya dan bahasa lokal maupun nasional, tidak hanya bahasa Inggris saja.

Yessy sendiri sudah pernah menyandang gelar sebagai Duta Wisata Kota Kupang 2015, Duta Wisata Indonesia Perdamaian 2015, dan juga sebagai Duta Bandara dan Duta Humas Polda pada tahun yang berbeda.

Selain itu, ia mengingatkan agar para peserta kegiatan tersebut tidak hanya sibuk menimba ilmu di institutisi pendidikan tetapi perlu mengasah kemampuan lewat berbagai event. Ia menyebut insan muda NTT harus punya mental yang membawa perubahan baik kepada diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Berbagai ajang kini sudah mudah diakses lewat media massa maupun media sosial sehingga bisa mencoba untuk mengasah kemampuan masing-masing.

“Kalian harus punya target selama kalian hidup. Banyak orang sukses di luar sana bukan orang tidak memiliki ijazah. Pendidikan itu penting, kita harus belajar dan tingkatkan SDM tetapi yang terpenting mewujudkan mimpi besar kaliian,” ungkapnya. (mg-06/C-1)