Jefri-Herman Akui Janji Kampanye Belum Terlaksana

berbagi di:
foto-hal-01-walikota-kupang-jefri-riwu-kore-wakil-walikota-hermanus-man-menyampaikan-pidato-masa-pemimpinan-2-tahun-saat-festival-ayo-berubah-di-m-hotel-kamis22-8-nahor-6

Foto: Nahor Fatbanu/VN

 
Stef Kosat

Wali Kota Jefri Riwu Kore dan wakilnya, Herman Man mengakui masih banyak janji yang disampaikan dalam kampanye Pilwalkot 2017 lalu, yang belum direalisasikan. Salah satunya adalah soal air bersih

Pengakuan tersebut disampaikan Wali Kota Jefri dan Wawali Herman dalam Dialog Smart dengan masyarakat di Milenium Hotel Kupang, kemarin.

“Apa yang kami janjikan pada tiga tahun lalu saat kampanye itu adalah mimpi kami mengenai bagaimana Kota Kupang dibangun untuk lima tahun ke depan. Lima tahun itu tidak lama sebenarnya. Jadi dengan Smart City serta bagaimana pemerintah memberikan kota layak huni bagi masyarakat. Namun persoalan air bersih adalah tantangan tersulit bagi kami berdua,” kata Jefri.

Ia mengatakan sejak menjabat Wali Kota, ketersediaan air bersih di PDAM Kota debitnya 85 liter per detik. “Bisa cek itu semua di PDAM. Sementara kebutuhan air bersih bagi masyarakat Kota secara keseluruhan 800 liter per detik. Jadi dengan ketersediaan Air PDAM Kota yang hanya 85 liter per detik dan PDAM Kabupaten 140 liter per detik, untuk melayani masyarakat Kota yang jumlahnya mencapai 430 ribu sekian,” ungkapnya.

Setelah kerja sama dengan PDAM Tirta Lontar, saat ini PDAM Kota Kupang telah mengalami peningkatan debit menjadi 130 liter per detik. “Kota Kupang butuh 800 liter air per detik sehingga kita masih kekurangan 430 liter per detik,” ujarnya.

Tahun depan, lanjut Jefri, Kota Kupang mendapat bantuan dana dari Pemerintah Pusat sebesar Rp165 miliar untuk memanfaatkan air baku yang tersedia di Kali Dendeng (100 liter per detik) dan Air Sagu (50 liter per detik). “Jadi Kota Kupang memiliki ketersediaan air bersih dengan debit 520 liter per detuk pada tahun 2020, jadi masyarakat tolong doakan,” ucap dia.
Herman Man juga meminta masyarakat bersabar. “Pemerintah akan berjuang sungguh-sungguh. Sebenarnya air bersih bagi masyarakat Kota
Kupang bisa terpenuhi asalkan Bendungan Kolhua diizinkan masyarakat untuk dibangun. Tetapi terjadi sengketa sehingga Bendungan Kolhua tidak bisa dibangun walaupun area itu telah masuk dalam proyek strategis nasional,” katanya.

Sementara itu, terkait Smart City, Jefri mengungkapkan Pemkot memulainya dengan tidak mudah. Tujuan dari Smart City untuk memperbaiki pelayanan publik karena Kota Kupang pada 2017 yang lalu pelayanan publiknya terburuk.

“Sejak awal kepemimpinan kami telah dikemukakan lima persoalan besar yang harus dibereskan. Antara lain air bersih, sampah, kekeringan, urbanisasi, bencana alam seperti puting beliung dan persoalan ekonomi rakyat. Dari situ lahir program yang sementara berjalan seperti Qlue,” tandasnya.