Jefry Dan Yani Tak Kunjung Ditemukan, Tim SAR Hentikan Pencarian

berbagi di:

 

 

 

 

 

Gusty Amsikan
Tim SAR gabungan menghentikan pencarian terhadap dua neyalan perahu motor Honda 6 PK, asal Desa Oepuah Utara, Kecamatan Biboki Moenleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menghilang terbawa arus, pada Sabtu, (4/7), lalu.

Kedua korban hilang, saat mengais rejeki di parairan Kolamtua, Oebubun, Mena, Desa Oepuah Utara, Kecamatan Biboki Moenleu, merupakan kakak-beradik atas nama Jefry Naiheli (30) dan Yani Naiheli (25). Sementara nasib baik masih berpihak pada dua rekan nelayan lainnnya yakni, Yohanes Nabu (40) dan Primus Taunais (30). Keduaanya selamat meski harus terdampar dan dideportasi.

Demikian disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) BPBD Kabupaten TTU, Yosefina Lake, ketika dikonfirmasi VN, Minggu (12/7), di Kefamenanu.

Yosefina mengatakan, hingga memasuki hari ke-7 upaya pencarian terhadap dua dari empat nelayan Desa Oepuah Utara, Kecamatan Biboki Moenleu, yang hilang terbawa arus saat perahu motor Honda 6 PK, yang ditumpangi mengalami kerusakan di sepanjang perairan Kolamtua, Oebubun, tak kunjung ditemukan.

Menurut Yosefina, bahwa pelaksanaan operasi SAR telah resmi dihentikan, setelah 7 hari dilakukan pencarian oleh tim SAR gabungan. Penghentian operasi SAR sesuai SOP Basarnas, bahwa jika pelaksanaan operasi SAR hingga hari ke 7 korban tidak ditemukan, maka pencarian akan dihentikan.

“Sudah ditutup. Sesuai dengan SOP mereka, pencarian batas waktu 7 hari saja. Namun tidak menutup kemungkinan kalau ada petunjuk lagi maka mereka dapat melanjutkan pencarian,” jelasnya.

Ia menambahkan, kendati setelah penghentian ini, pihaknya akan meminta kelompok nelayan di pesisir perairan Kolamtua, Oebubun, Tanjung Bastian dan sekitarnya, jika ditemukan tanda-tanda baru, maka dapat berkoordinasi atau melaporkan ke pihaknya.

Untuk diketahui sebelumnya, Dua dari empat nelayan asal, Desa Oepuah Utara, Kecamatan Biboki Moenleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang ditemukan terdampar di perairan Pante Makassar, Distrik Oecusse-Republic Demokratik Timor Leste (RDTL), dideportasi Otoritas Distrik Oecusse melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini-Oecusse RDTL, Selasa (7/7). Kedua nelayan yang dideportasi diantaranya Yohanes Nabu (40) dan Primus Taunais (30).

Sementara hingga memasuki hari ke-7 pasca terbawa arus, nasib dua orang nelayan lainnnya yang merupakan kakak-beradik yakni Jefry Naiheli (30) dan Yani Naiheli (25), tak kunjung ditemukan.

Berdasarkan penuturan kedua korban selamat pada Sabtu (4/7), sekira pukul 07.00 Wita, korban Yohanes Nabu, bersama rekan lainnya Primus, Jefry dan Yani mencoba mengais rejeki ke laut menggunakan perahu motor Honda 6 PK di area perairan Kolamtua, Oebubun, Mena, Desa Oepuah Utara, Kecamatan Biboki Moenleu.

Setelah berada di tengah laut sekira pukul 12:00 Wita, perahu yang ditumpangi ke-empat korban mengalami kerusakan mesin sehingga kondisi perahu mulai terombang-ambing di lokasi perairan dan masih di wilayah perairan Kolamtua, Oebubun-Mena.

Kendati mesin perahu yang ditumpangi mati, namun mereka tetap bertahan dan terus terapung di atas perairan bersama-sama dengan tetap bertumpuh pada perahu naas tersebut.

Waktu terus berjalan hingga perkiraan pukul 14:00 Wita, Jefry dan Yani memutuskan berenang ke tepian pantai menggunakan jerigen sebagai alat bantu guna mencari bantuan. Namun, kepergian mereka tak kunjung pulang. Kedua kakak-beradik diduga masih terombang-ambing di wilayah perairan Indonesia yakni perairan Oesoko-Tanjung Bastian.

“Karena terlalu lama menunggu bantuan tak kunjung datang, maka pada (5/7), pagi sekitar jam 06:00 Wita, kami putuskan berenang ke tepian pantai menggunakan pelampung pukat dari tengah laut di perairan Tanjung Bastian dan mereka terbawa arus, sehingga terseret hingga tepi pantai perairan Oecusse di Desa Costa, Kecamatan Pante Macassar, persis di depan Kantor┬áKBRI Oecusse pada jam 23.00 malam. Tim medis kesehatan Oecusse dan PNTL Oecusse langsung mengevakuasi kedua nelayan tersebut ke tempat Karantina Hotel Ambeno,” kisah para korban. (bev/ol)