Jualan Keripik Ubi untuk Biayai Kebutuhan Buah Hati

berbagi di:
img-20201017-wa0012

 

 

 

Sinta Tapobali

 
SURATIH begitulah ia disapa oleh keluarga dan orang-orang terdekat. Ia adalah Janda beranak dua yang rela merantau jauh dari sanak keluarganya di tanah Jawa demi mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama kedua anaknya.

Saban hari, ia harus berjualan keripik ubi di sepanjang jalan Adisucipto Penfui hanya untuk mendapatkan pundi rupiah guna melanjutkan hidup bersama kedua anaknya yang masih kecil.

Dua tahun yang lalu ia harus mengambil keputusan terberatnya untuk datang merantau ke Kupang mengikuti kakak sulungnya untuk membuka usaha.

Sejak pertama menginjakkan kaki di Kota Kupang, Suratih tidak memiliki gambaran untuk memulai usaha, namun berkat bantuan dan dorongan kakaknya, ia mencoba untuk berjualan keripik ubi.

Awalnya ia belum memiliki tempat untuk usaha, keripik ubi buatannya ia buat dan ia titipkan di sejumlah kios di sekitaran tempat tinggal saudaranya di Liliba.

Keripik ubi buatannya ini ternyata laris dan banyak disukai pembeli, dan untuk itu dengan bantuan modal dari saudara laki-lakinya yang merupakan seorang penjual mie ayam keliling ini, ia membuka usaha jualan keripik ubi di sepanjang jalan Adisucipto Penfui.

Meski baru berjalan beberapa bulan, namun ia akui bahwa penghasilan dan keuntungan dari usahanya ini cukup mmenuhi kebutuhan hidup ia dan anak keduanya di Kupang dan juga kebutuhan hidup anak pertamanya di Tanggerang, Banten.

Dalam sehari ia cukup mengeluarkan biaya Rp200 ribu untuk membeli ubi kayu dan minyak goreng dan bumbu lainnya. Dengan modal Rp200 ribu sehari ia berhasil meraup keuntungan hingga Rp400 ribu bahkan Rp500 ribu per harinya.

Ia mengaku bahwa dari keuntungannya itu, Rp200 ia putar untuk modal dan Rp300 ia gunakan dan sisihkan sebagianya untuk dikirim guna memenuhi kebutuhan anak pertamanya di Tanggerang.

“Anak pertama sekolah di Tanggerang di Daerah Cibondoh bersama ibu saya. Di sini saya bersama anak nomor dua tinggal bersama saudara saya dan istrinya di daerah Liliba,” jelasnya.

Menurutnya lagi, masyarakat Kupang memiliki sikap yang ramah dan sopan sehingga membuatnya betah dan semangat berjualan setiap hari.

“Orang-orang sini baik-baik, sopan dan ramah, jadi meski saya pendatang saya merasa betah dan hidup di sini,” ungkapnya.

Ditanya kenapa memilih merantau ke Kupang, perempuan usia 29 tahun ini mengaku senang dengan kehidupan di kota Kupang yang penuh toleransi.
“Tiap kali kakak saya telepon selalu saja cerita bahwa orang-orang di sini baik-baik, meski mayoritas Agama Kristen tapi mereka sangat menghargai kami yang pendatang meski kami Muslim. Peluang usaha juga besar karena itu saya pilih Kupang,” paparnya.

Sejak ditinggal pergi oleh suaminya tiga tahun lalu, ia berpikir keras untuk menjadi ibu dan juga ayah bagi dua orang anaknya. Ia berharap usahanya ini semakin maju dan semakin banyak pelanggannya karena keripik ubi yang ia jual ini di banderol dengan harga Rp5 ribu per 100 onsnya, sangat murah dan tentu juga enak dan gurih. (Yan/ol)