Jurnalisme Ramah Disabilitas

berbagi di:
img-20210303-wa0042

 

Peserta kegiatan pelatihan jurnalis yang digelar YTB foto bersama usai kegiatan.

 

 

 

Yosi Kameo

 
AKSES informasi para penyandang disabilitas masih sangat terbatas. Mereka juga sering mendapat penyebutan yang kurang tepat dalam pemberitaan-pemberitaan di media massa.

Keterbatasan yang mereka miliki, baik fisik maupun mental, membuat penyandang disabilitas membutuhkan perhatian khusus karena mereka mempunyai hak yang sama seperti warga negara lainnya.

Salah satu bentuk kepedulian tersebut datang dari Yayasan Tanpa Batas (YTB) lewat penyelengaraan kegiatan ‘Pelatihan Jurnalis tentang Inklusi Disabilitas dan Kesehatan Mata di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang’ di Hotel Neo Aston, Jalan Piet A Tallo, Oesapa, Kota Kupang. Rabu, (3/3).

Hadir dalam kegiatan itu, para jurnalis utusan dari media online dan media cetak di Kupang, serta dua pembicara, yakni Redaktur RakyatNTT.com Tomy Aquino dan Ketua Perkumpulan Tuna Daksa Kristiani (Persani) NTT, Serafina Bete.

Adapun penyelenggaraan kegiatan bertujuan untuk mengasah keramahan para jurnalis kepada penyandang disabilitas, khususnya dalam mengupayakan kemudahan akses informasi dan penggunaan istilah yang tepat saat pemberitaan.

“Sekarang, di televisi, kalau pemberitaan, ada televisi yang sudah menyediakan penerjemah supaya berita bisa diakses dan dinikmati para penyandang disabilitas.” Kata Serafina Bete, Ketua Persani.

Dia mengungkapkan, kemudahan penyandang disabilitas dalam mengakses informasi menjadi salah satu bentuk kepedulian negara terhadap warga negaranya.

Selain itu, dia juga menjelaskan masih banyaknya istilah yang tidak tepat sasaran dalam pemberitaan media. Salah satunya, tambah dia, para jurnalis sering menggunakan kata ‘cacat’ yang maknanya berbeda dengan disabilitas.

Dia mencontohkan, seseorang yang melihat sebuah kursi yang tidak sempurna bagian-bagiannya, tentu akan mengidentikkan pengertian ‘cacat’ sebagaimana ada pada kursi tersebut.

Padahal, jelas Serafina, kursi yang kurang sempurna pada akhirnya tidak bisa digunakan. Hal ini tidak sama pengertiannya dengan disabilitas. Sebab penyandang disabilitas hanya mengalami keterbatasan, bukan kecacatan layaknya kursi yang kurang sempurna.

Redaktur RakyatNTT.com, Tomy Aquino membenarkan hal tersebut. Ia juga mengungkapkan masih banyaknya ketidaktepatan istilah dalam pemberitaan terkait penyandang disabilitas.

Dia juga berharap, pemerintah dan pelaku media bisa lebih ramah terhadap penyandang disabilitas sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. (Yan/ol)