Kabar Buruk Melawan Korupsi

berbagi di:
024529900_1492661684-korupsi

Hasil survei LSI merupakan peringatan nyata, sangat nyata, bahwa upaya kita dalam memerangi korupsi masih jauh dari syarat untuk mendapatkan kemenangan.

 
Dua kabar buruk terkait dengan pemberantasan korupsi datang dalam dua pekan ini. Kita yang semestinya berderap maju, justru memperlihatkan kesan mundur dalam perang melawan korupsi.

Kabar buruk pertama adalah indeks persepsi korupsi (IPK) kita pada 2020 anjlok 17 tingkat ke peringkat 102 dari 180 negara yang dinilai Transparency International. Indonesia mendapatkan skor 37 atau turun tiga poin dari 2019. Skor 37 ini sama dengan raihan 2016.

Kabar buruk kedua datang adalah hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyebutkan mayoritas pelaku usaha beranggapan bahwa korupsi di Tanah Air semakin meningkat dalam dua tahun terakhir.

Dalam jajak pendapat yang melibatkan 1.000 responden itu, mayoritas atau 58,3% menilai terjadi peningkatan korupsi. Hanya 8,5% yang menganggap ada penurunan, dan 25,2% berpendapat tidak ada perubahan.

Hasil penilaian dan jajak pendapat tersebut memang masih dalam tataran persepsi. Ia belum tentu sesuai fakta, tapi bisa juga mencerminkan fakta sebenarnya.

Artinya, hasil survei bahwa mayoritas pelaku bisnis menganggap korupsi kian meningkat dalam dua tahun terakhir sangat mungkin sesuai kenyataan. Pun demikian dengan anggapan masih tingginya aparat negara hanya mau bekerja jika diberi imbalan.

Meski hanya persepsi, hasil survei tersebut pantang dianggap main-main. Ia adalah temuan yang perlu disikapi serius, sangat serius.

Berulang kali melalui forum ini kita menyuarakan bahwa korupsi hanya bisa diatasi jika semua pihak satu hati. Kita mustahil menang perang jika masih ada penegak hukum yang kompromistis terhadap pelaku korupsi.

Korupsi bisa dicegah dengan pembenahan sistem rekrutmen aparatur sipil negara yang transparan guna memastikan mereka yang diterima berintegritas dan tak koruptif. Pencegahan juga dapat dioptimalkan dengan mengedepankan sistem merit dalam mengelola ASN.

Penindakan tak kalah penting. Bahkan, di saat korupsi sudah begitu marak di semua lini kehidupan, penindakan menjadi sangat penting. Dalam ilmu militer dan sepak bola modern berlaku filosofi bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang.

Harus kita akui, pemerintah sudah banyak melakukan upaya penguatan sistem pencegahan korupsi. Namun, tak bisa disanggah, upaya itu masih jauh dari formula ideal untuk menutup celah terjadinya korupsi.

Harus kita akui, memang ada penegak hukum yang garang dalam menindak korupsi. Namun, tak bisa disangkal, masih banyak yang masih suka berbaik hati kepada pelaku korupsi. Mereka yang semestinya menuntut dan menjatuhkan vonis berat, malah gemar memberikan hukuman ringan. Obral diskon hukuman buat koruptor pun kian gencar dilakukan.

Hasil survei LSI merupakan peringatan nyata, sangat nyata, bahwa upaya kita dalam memerangi korupsi masih jauh dari syarat untuk mendapatkan kemenangan. Ia harus menjadi cambuk bagi para pemangku kepentingan untuk berbenah habis-habisan agar kabar buruk tak semakin buruk.