Kabupaten Kupang Penyumbang Ternak Terbanyak

berbagi di:
foto-hal-09-kapal-tol-laut-angkut-sapi-di-pelabuhan-tenau-kupangnahor

Kapal Tol Laut mengangkut ternak sapi dari Pelabuhan Tenau Kupang untuk di bawa ke Jakarta, September lalu.

 

 

Rafael L. Pura

Kabupaten Kupang menjadi penghasil ternak terbanyak yang dikirim Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ke luar daerah selama tahun 2019. Hingga bulan Agustus telah mengirim 17.980 ternak. Angka ini berbeda jauh dengan kabupaten-kabupaten lainnya.

Kepala Dinas Perternakan NTT, Dani Suhadi melalui Kabid Agri Bisnis dan Kelembagaan, Tay Renggi kepada VN , kemarin, mengatakan dari kuota 18.500 ternak pada tahun 2019, Kabupaten Kupang telah merealisasikan 17.980 ternak.

“Paling banyak dari Kabupaten Kupang. Sementara posisi kedua Kabupaten TTS telah merealisasikan 14.500 ternak dari kuota 18.000 ternak,” sebutnya.

Tai Renggi menguraikan, untuk kabupaten lainnya tidak sampai menyentuh angka 6.000 karena disesuaikan dengan kuota yang telah ditetapkan. Penentuan kuota berdasarkan kelangsungan hidup ternak dan alamnya.

Kabupaten Manggarai Timur, misalnya, hanya ditargetkan sebanyak 1.000 ternak di tahun 2019 ini, dan sekarang sudah realisasi sebanyak 500 ternak.

“Begitupun dengan kabupaten lainnnya yang ada di Provinsi NTT ini. Bahkan ada kabupaten seperti Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Tengah, Flotim serta Sabu Raijua hanya ditargetkan sebanayak 50 ternak saja,” sebutnya.

 
Kirim 60.637 Ternak
Terhitung dari sejak Januari sampai Agustus 2019, NTT telah mengirim 60.637 ternak ke luar daerah. Ternak-ternak yang dikirim itu antara lain, sapi, kerbau, dan kuda.

Kepala Dinas Perternakan NTT, Dani Suhadi sebelumnya menyampaikan bahwa penetapan kuota tahun 2019 oleh Gubernur sebanyak 80.450 ternak, dan telah realisasi 75,37 persen.

“Dari kuota 80.450 ternak, sudah terealisasi sebanyak 60.637 ternak. Itu artinya masih tersisa sebanyak 19.813 ternak. Kami berharap, hingga akhir tahun ini bisa mencapai target seratus persen,” sebutnya.

Ia menguraikan, ternak-ternak yang dikirim rinciannya; kerbau 1.920, sapi 54.565, dan kuda 5.830. Sementara total kuota tahun 2019 untuk kerbau 4.970 ternak, yang sudah realisasi 1.920, masih tersisa 3.050.

Kuota sapi 69.650, sudah realisasi 54.656 dan yang belum realisasi 15.058. Sementara kuda kuotanya 5.830. Dari kuota tersebut telah realisasi 5.050 dan masih tersisa 1.670 ternak.

Terkait pengiriman ternak, kata Suhadi, berdasarkan perhitungan, analisa, suplai, dan ketersediaan serta yang paling utama adalah pertimbangan keseimbangan populasi ternak.

“Artinya, target yang ditetapkan harus benar-benar diperhitungkan populasinya, kalau lebih, maka populasinya otomastis tertanggu, jadi angka (target) ini benar-benar sudah dipertimbangkan keberlangsungan populasi ternak,” sebutnya.

Sementara proses pengiriman ternak, lanjutnya, juga melaui berbagai tahapan. Setelah ditetapkan kuotanya oleh Gubernur, para pelaku usaha (peternak) akan mengajukan usulan ke kabupaten masing-masing.

Setelah diajukan, dinas terkait di kabupaten akan memeriksa kesehatan ternak tersebut, dari aspek kesehatan maupun fisiknya, setelah itu barulah dikeluarkan rekomendasi untuk izin keluarnya.

“Setelah dia kantongi rekomendasi dari kabupaten, selanjutkan diajukan ke kita, lampirkan izin, selanjutnya kami periksa kembali dokumen dan kesehatan ternak itu. Kalau sudah memenuhi syarat kita keluarkan rekomendasi untuk mengurus izin di Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu, setelah dikeluarkan izin di instansi itu, barulah ternak-ternak itu dikarantina untuk selanjutnya dikirim ke daerah tujuan,” sebutnya.

Ia menambahkan, permintaan ternak terbanyak dari empat pulau, yakni Jawa (Bekasi-Tanggerang) Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Toraja, Sulawesi Selatan. (mg-03/E-1)