Karantina Waikelo Tahan 11 Ton Telur Ilegal

berbagi di:
1b

Personel Polres Sumba Barat memasang garis polisi (police line) pada tumpukan rak telur yang dimuat di kapal yang sandar di Pelabuhan Waikelo. Foto: Frengky/VN

 

 

Frengky Keban
Petugas Karantina Pelabuhan Waikelo, Kabupaten sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur bersama KP3 Laut setempat, Kamis (12/12) petang, menahan sekitar 11 ton telur ayam ilegal milik Ibrahim Abdulah di Pelabuhan Waikelo karena tidak dilengkapi dokumen kekarantinaan. Telur ayam itu rencananya akan dikirim ke Waingapu, Kabupaten Sumba Timur.

Pantauan VN, petugas KP3 laut dan Karantina setempat mengambil keterangan pemilik telut, Ibrahim Abdulah dan kapten kapal yang memuat telur sebanyak itu. Proses pengambilan keterangan disaksikan oleh Kapolsek Urban Loura, Kompol I Ketut Mastina.

Usai mengambil keterangan, petugas KP3 Laut dan Karantina memeriksa barang bukti telur di atas kapal. Di kapal sudah menunggu tiga orang anak buah kapal (ABK).

Usai pemeriksaan penanggung jawab Karantina Waikelo, drh Vera Lobo kepada VN mengakui proses penahanan ini sendiri diakibatkan oleh pemilik telur ayam tidak bisa menunjukkan dokumen yang diminta oleh pihaknya. Padahal dengan dokumen itu diperlukan sebagai syarat melakukan bongkar muat di pelabuhan tersebut.

“Kami lakukan penahanan masuknya telur karena tidak dilengkapi dokumen karantina dari daerah asal. Dari Bima katanya. Setiap pemasukan tentu harus dilengkapi dokumen karantina dan izin dari Dinas Peternakan, tapi ini kan tidak ada. Kalau ada dokumen pasti tidak terjadi seperti ini,” katanya.

Ada dua opsi yang akan ditempuh terhadap kasus ini, yakni menolak bongkar muat dan atau melakukan pemusnahan barang yang ditahan. Semuanya tergantung situasi di lapangan.

“Kalau barangnya belum dibongkar, kami akan melarang aktivitas bongkarnya tapi kalau sudah terlanjur bongkar maka akan kami musnahkan barang yang sudah dibongkar,” katanya.

Sementara itu, Ibrahim Abdulah mengaku bahwa telur yang diantarpulaukannya itu dibawa dari Surabaya dan tujuan adalah Waingapu. Namun karena kapal pengangkutnya berhalangan sehingga dirinya memutuskan menggunakan kapal lain yang melayani rute Bima-Waikelo.

“Kapal Egon dua kali tidak masuk. Telur ini kan barang busuk tentu saya tidak mau ambil resiko tahan lama di sana sehingga saya putuskan lewat Bima ke sini (Waikelo),” katanya.

Saat ditanya soal dokumen yang tidak lengkap dirinya mengaku bahwa sebenarnya dirinya memiliki dokumen tersebut tapi karena
terburu-buru sehingga dokumen itu tertinggal di Bima.

Ia pun hanya pasrah jika kemudian telur yang dibawanya tersebut harus dipulangkan ke Bima.
Hingga berita ini diturunkan telur yang berjumlah 1.000 rak itu masih berada di atas kapal sambil menunggu kehadiran petugas dari Polres Sumba Barat.

Selang beberapa waktu kemudian anggota Polres Sumba Barat mendatangi tempat kejadian perkara untuk memasang garis polisi (police line). (kbn/R-4)