Kasus BBM Sabu Raijua, Oknum Polisi Rasa Mafia

berbagi di:
img-20200214-wa0027

 

 

Putra Bali Mula

Para mahasiswa dari berbagai perhimpunan menggelar demonstrasi mendesak Kapolda NTT memecat Kapolsek Sabu Barat, Kompol Samuel Simbolon terkait penimbunan bahan bakar minyak (BBM) di Sabu Raijua. Massa menuntut tindakan tegas Polda NTT terhadap oknum kepolisian yang diduga mafia BBM di Sabu Raijua.

Para mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kupang, Perhimpunan Mahasiswa asal Sabu (PERMASA) Kupang dan Gerakan Mahasiswa Mehara (GMM) Kupang melakukan aksi di depan Polda NTT, Jumat pagi (14/2).

Para mahasiswa menuntut ketegasan dari Polda NTT terhadap kasus penggrebekan oleh Polres Sabu Raijua (Sarai) yang menyita lima ton BBM milik Kapolsek Sabu Barat, Kompol Samuel Simbolon. Operasi dimaksud dilakukan pada Minggu lalu (2/2) di belakang Perumtel Seba di Kelurahan Meba, Sabu Barat.

“Kepolisian jangan sampai ada upaya perlindungan atau penyelamatan terhadap Kapolsek Sabu Barat!” pekik Jefri Nyoman, salah satu demonstran, saat melakukan orasi pagi itu.

Massa saat demonstrasi berlangsung menilai sikap Polda NTT yang tertutup terhadap kasus tersebut dapat menjadi bumerang dan akan merusak citra kepolisian dan terlebih lagi merugikan masyarakat di Sabu Raijua.

img-20200214-wa0026

Massa yang kecewa pihak Polda NTT tidak terbuka dan menerima upaya audiensi mereka saat itu sempat menggoyang pintu pagar Polda NTT. Demonstran terus menuntut untuk bertemu dengan Kapolda NTT.

“Kami menilai adanya upaya pembiaran. Kita menyayangkan watak penegakan hukum berwatak konyol seperti ini,” tukas Jefri kembali.

Wakil Ketua GMNI Kupang, Marianus Krisanto Haukilo kepada awak media ikut menjelaskan mengenai aksi demonstrasi terkait dugaan mafia BBM yang terjadi di Kabupaten Sabu Raijua tersebut.

Menurutnya, ada dugaan kuat kasus tersebut terkait dengan kebakaran pangkalan Agen Penyalur Minyak Subsidi (APMS) Seba, pada Rabu (12/2). Untuk itu pihaknya mendesak Polda NTT turun tangan mengusutnya karena Polres Sabu Raijua dinilai ragu dalam penindakan.

“Kami duga, kebakaran itu adalah upaya untuk menghilangkan barang bukti. Ini yang ingin kami bicarakan dengan Kapolda terkait mafia dan kelangkaan BBM di Sabu Raijua,” kata dia.

Ia mewakili massa aksi saat itu juga menyampaikan kekecewaannya terhadap Kapolres Sabu Raijua, AKBP Jakobus Siubelan, yang tidak menangkap Kapolres Sabu Barat Kompol Samuel Simbolon.

Selama beberapa jam melakukan demonstrasi namun massa aksi tidak mendapatkan adanya konfirmasi dari pihak kepolisian untuk melakukan audiensi. Hal tersebut disesalkan Marianus. Menurutnya, Kapolda NTT dapat mengutus pihak lainnya di Polda NTT untuk bertemu demonstran.

“Pejabat di Polda NTT tidak hanya satu orang. Kenapa tertutup dengan kami?” ungkapnya.

Massa yang kecewa tidak kunjung bertemu Kapolda NTT saat itu melakukan aksi mosi tidak percaya dengan menepuk pantat ke arah Mapolda NTT. Massa yang membawa berbagai atribut tersebut kemudian beranjak ke DPRD NTT pukul 11.25 wita. (bev/ol).