Kasus DBD di Sikka Meningkat

berbagi di:
Pasien DBD yang ditemani ibunya, saat dikunjungi dokter RSUD TC Hillers, Maumere, kemarin. Foto: Yunus Atabara/VN

Pasien DBD yang ditemani ibunya, saat dikunjungi dokter RSUD TC Hillers, Maumere, kemarin. Foto: Yunus Atabara/VN

 

Yunus Atabara
Peningkatan kasus DBD juga terjadi di Kabupaten Sikka. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, dr Maria Bernadina Sada Nenu kepada VN, kemarin, mengatakan, data DBD pada Januari hingga akhir Februari 2018 lalu terdapat 91 kasus dengan rincian Januari 57 kasus dan Februari 34 kasus. Dua pasien di antaranya meninggal dunia.

Pada periode yang sama tahun ini, terjadi peningkatan, yakni di Januari mencapai 65 kasus dan Februari 60 kasus, total 125 kasus, di mana tiga pasien di antaranya meninggal dunia.

“Ada peningkatan kalau dilihat jumlah kasus DBD di bulan yang sama antara tahun lalu dan tahun ini dengan jumlah kasus meninggal dunia sampai saat ini 3 orang,” katanya.

Korban DBD yang meninggal dunia, kata dia, berasal dari Desa Paga Kecamatan Paga, Waidoko di Kecamatan Alok dan Hewokloag, Kecamatan Hewokloang.

“Pada umumnya korban meninggal dunia itu anak-anak yang terlambat dibawa ke rumah sakit. Kasihan mereka sudah meninggal jadi tolong jangan tulis nama mereka (korban meninggal),” katanya.

Sebelumnya, dr Mario B Nara, Spesialis Anak pada RS TC Hillers Maumere, mengatakan, fase demam timbul gejala terkena demam berdarah adalah demam tinggi. Dimana merupakan fase awal demam berdarah. Penderita akan mengalami demam secara tiba-tiba hingga mencapai 40 derajat celcius selama 2 sampai 7 hari.

“Gejala ini menyebabkan penurunan sejumlah sel darah putih dan trombosit pada penderita,” jelas dokter Mario.

Setelah melewati fase demam, lanjut dia, pasien mengalami fase kritis. Fase tersebut pasien atau keluarga pasien sering terkecoh karena penderita merasa sembuh. Fase kritis ditandai dengan penurunan suhu tubuh hingga 37 derajat celcius ke suhu normal.

“Kalau fase ini terabaikan dan tidak segera diobati, trombosit akan terus menurun secara drastis dan dapat mengakibatkan perdarahan. Fase kritis ini berlangsung tidak lebih dari 24-38 jam,” tegasnya.

Dari fase demam ke fase kritis, pasien memasuki risiko tertinggi untuk mengalami kebocoran pembuluh darah. Indikasi dini kebocoran pembuluh darah tersebut dapat dilihat saat penderita demam berdarah mengalami muntah-muntah. (nus/tnc/D-1)