KBM SDN Dendeng Noelbaki di Gedung Darurat

berbagi di:
foto-hal-01-cover-250519-sdn-dendeng-darurat-dua

Kegiatan belajar mengajar di SD di Dusun Dendeng, Desa Noelbali, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang yang dilakukan Kepala SDN Dendeng Susana Benefunit, Jumat (24/5) kemarin. Foto: Alfred Otu/VN

 

 

Alfret Otu

Para siswa di SDN Dendeng di Noelbaki-Kupang Tengah, Kabupaten Kupang harus menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan fasilitas terbatas. Gedung sekolah berdinding bebak, berlantai tanah dengan kursi dan meja seadanya.

Meski berstatus sekolah negri dan sudah puluhan tahun berdiri namun sekolah ini belum banyak berubah. Masih kumuh dan darurat.

Pantauan VN, Jumat (24/5), ruang-ruang kelas tampak kurang nyaman sebagai tempat belajar. Tahan sering berdebu di musim panas. Tak ada pintu maupun jendela. Hanya tiang-tiang balok dengan dinding bebak bercelah yang tegak berdiri. Seng sudah berkarat. Tak ada ruang perputakaan.

Kepala SDN Dendeng, Susana Benefunit mengatakan saat musim hujan. Air hujan masuk dan menggenangi ruangan belajar.

Ia mengaku perhatian pemerintah dan dinas terkait sangat minim meski sudah berkali-kali menginformasikan kondisi tersebut ke dinas pendidikan setempat. Padahal sekolah ini pernah dikunjungi Presiden kelima Indonesia, Megawati Soekarnoputri.

“Saya takut ketika sedang kegiatan belajar mengajar (KBM) bangunan ini roboh sebab kondisi tiang dan dinding sudah lapuk. Apalagi saat ini posisi cuaca angin kencang. Ini tentu sangat membahayakan anak-anak. Saya selalu berdoa supaya jangan terjadi apa-apa saat KBM sedang berlangsung,” ungkapnya.

Ia berharap sekolah yang mendidik sekitar 85 siswa itu bisa segera mendapatkan perhatian dari pemerintah sehingga bisa memiliki sekolah yang lebih layak dan nyaman.

Mersi Bola, salah satu guru di sekolah ini, mengaku sudah pasrah “menikmati” kondisi yang ada.

“Mau bilang apa? Keadaan kami memang begini meskipun ini sekolah berstatus sekolah negeri. Tapi kegiatan belajar tetap jalan normal seperti biasanya. Kami guru dan juga anak-anak tetap semangat belajar,” ucapnya.

Dia mengaku terkadang timbul rasa risih dengan keberadaan gedung sekolah yang tak layak pakai itu.

“Ini sekolah negeri yang letaknya di pinggir ibukota provinsi tapi penampilan gedung sekolah ini seperti dik ampung era 80 atau 90-an,” ungkapnya.

Selain gedung sekolah, sarana penunjang lainnya seperti kursi dan meja anak-anak didik juga dalam kondisi memprihatinkan. Padahal, kata dia, gedung, fasilitas belajar merupakan faktor yang ikut memotivasi anak dalam belajar.

“Sekolah ini bukan baru berdiri kemarin, ini sudah berdiri lama sekali namun sayangnya belum ada perhatian dari pemerintah. Memang fasilitas itu tidak berpengaruh langsung terhadap aktivitas belajar mengajar tapi setidaknya diperhatikan agar kelihatannya bagus saat mata memandang dan menimbulkan kenyamanan bagi anak-anak sekolah,” katanya.

Dia berharap pemerintah terkait bisa segera membantu membangun gedung dan mengadakan sarana prasarana belajar mengajar yang memadai untuk sekolah ini.

“Kami tidak tahu apakah pemerintah tahu atau tidak dengan keadaan kami di sekolah ini. Mungkin lewat informasi yang kami sampaikan melalui koran Victory News, pemerintah bisa tergerak hati untuk memperhatikan kondisi kami di sini,” pungkasnya. (mg-07/D-1)