Kebun Benih Kelor Dalam Pembahasan

berbagi di:
img-20200215-wa0024

 

 

 

Putra Bali Mula

Kebun benih kelor sementara ini dalam pembahasan lanjutan dari kegiatan rapat koordinasi dan sinkronisasi pengembangan pertanian dan ketahanan pangan Provinsi NTT.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Migdon Abolla kepada VN Jumat (14/2) mengatakan rencana tersebut sedang dibahas dalam rapat bersama dengan anggota dari Ditjen Perkebunan.

“Kelor kita sementara menggagas kebunnya jadi di rapat sekarang inipun, karena kelor ini barang baru, dari sisi kebijakan Kementerian Pertanian pun tahun 2019 ke belakang kelor belum tercatat sebagai komoditi yang diurus tapi barusan ada keputusan Kementerian Pertanian kelor itu masuk jadi komoditi perkebunan,” ungkapnya.

Dalam pembahasan tersebut, kata dia, masih dalam tahap untuk menentukan pembangunan kebun benih kita di beberapa tempat.

“Maka itu jadi urusan Ditjen Perkebunan dan forum rapat ini sudah dimanfaatkan sekaligus, ada tim dari perkebunan, kita akan membangun kebun-kebun benih di beberapa tempat,” tambah dia.

Migdon juga menyebut pertemuan lanjutan dari rapat koordinasi dan sinkronisasi tersebut sebagai langkah melakukan percepatan pengembangan pertanian dan ketahanan pangan.

“Jadi dari rakor kita ini ada dua hal penting yaitu evaluasi 2019 kemarin dan kita dalam rangka percepatan pelaksanaan kegiatan 2020. Jadi semua rencana untuk 2020 sudah dibahas berdasarkan kelam masing-masing, itu perkebunan bahas sendiri, pangan, dan tanaman hortikultura juga,” kata dia.

Sebelumnya ia menjabarkan fasilitas persediaan benih yang saat ini ada pada dua UPT (Unit Pelaksana Teknis) di bawah Dinas Pertanian NTT.

“Kita Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT punya dua UPT (Unit Pelaksana Teknis) satu itu UPT Perbenihan menangani tanaman pangan dan hortikultura. Sementara untuk komoditi perkebunan itu ditangani oleh UPT Pengelolaan Kebun Dinas dan Perkebunan,” sebut dia.

Untuk UPT Perbenihan ini mempunyai BBI (Balai Benih Induk) di Tarus dan Noelbaki Kabupaten Kupang untuk komoditi padi dan palawija. Kemudian Balai Benih Hortikultura (BBH) di Nonbes Kabupaten Kupang.

Sementara BBH Oelbubuk Kabupaten TTS berbasis pada benih jeruk dan sayuran. BBH Oelnitep Kabupaten TTU mengembangkan benih mangga dan jeruk.

Selanjutnya, BBU (Balai Benih Utama) Magepanda di Kabupaten Sikka, BBI Mbay Kabupaten Nagekeo, BBU Ogi di Kabupaten Ngada berbasiskan benih padi.

Sedangkan BBU Lembor di Kabupaten Manggarai Barat berbasis benih padi dan hortikultura. Ada lagi BBH Kuya/Lambanapu Kabupaten Sumba Timur untuk benih palawija dan hortikultura.

Sementara BBU Lewa Kabupaten Sumba Timur, BBU Waimanu Kabupaten Sumba Tengah, BBU Buisan Kabupaten Rote Ndao
untuk benih padi.

Sedangkan untuk UPT Kebun Dinas terdapat pada beberapa tempat yaitu kebun dinas di Eban Kabupaten TTU untuk komoditi cengkeh. Kabupaten Sumba Barat Daya, Waikedada, untuk komoditi cokelat.

Selanjutnya di Kabupaten Alor, Manggarai Timur dan Manggarai Barat untuk cengkeh. Sementara di Desa Anakoli, Kabupaten Nagekeo untuk komoditi jambu mete.

“Rote tidak ada, sabu tidak ada, Lembata tidak ada,” tukasnya.

Migdon menyebut saat ini belum ada perencanaan untuk penambahan kebun-kebun benih tetapi lebih kepada mendorong pengembangan kebun-kebun benih tersebut.

“Yang paling penting itu untuk peningkatan produksi adalah kita mendorong pengembangan kebun-kebun di tingkat daerah,” kata dia. (bev/ol)