Kegiatan Perekonomian NTT Terdampak PSBB Jawa Bali

berbagi di:
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTT Nazir Abdullah

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTT Nazir Abdullah

 

 

Kekson Salukh

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang lebih ketat di daerah Jawa dan Bali memang belum terasa bagi Provinsi NTT. Namun, akan berdampak bagi perekonomian NTT, khususnya pergerakan orang dan barang.

Penegasan tersebut dikemukakan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTT Nazir Abdullah menjawab VN terkait kesiapan dan strategi Pemprov menyikapi PSBB Jawa-Bali 11-25 Januari 2021 mendatang.

“Sejauh ini dampak PSBB Jawa dan Bali belum terasa di NTT. Tapi, pemberlakukan PSBB akan berdampak pada pasokan bahan kebutuhan pokok di NTT yang selama ini berasal dari Pulau Jawa,” bebernya.

Ia memastikan, aktivitas sosial ekonomi masyarakat akan terganggu yang pada akhirnya bisa memicu terjadinya kenaikan harga kebutuhan pokok. Akan tetapi, ia dan jajarannya akan terus memantau perkembangan pasar sekaligus berkoordinasi dengan Dinas teknis terkait seperti Perhubungan, untuk menyiapkan langkah strategis ke depan.

Ia memastikan persediaan beras dan minyak goreng, cukup hingga bulan April mendatang. “Saya yakin untuk stok beras, minyak goreng di sini stok masih aman hingga April, begitu pula bahan pangan seperti cabai, bawang putih dan bawah merah juga cukup,” ujar Nazir.

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Provinsi NTT Isyak Nuka mengakui PSBB di Jawa Bali, punya pengaruhnya terhadap daerah lain termasuk NTT. Hal ini dikarenakan NTT masih bergantung ke Jawa-Bali. “Kalau Jawa Bali PSBB, maka tidak akan ada pergerakan orang dan barang yang masuk ke NTT,” ungkapnya.

Selain itu, penyaluran logistik berupa barang-barang kebutuhan pokok akan terhambat walaupun jalur transportasi NTT sendiri berjalan seperti sebelumnya.

Ketua Komisi II DPRD NTT Kasimirus Kolo meminta Pemprov NTT mengantisipasi berbagai dampak dari pemberlakuan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) di Jawa dan Bali.

“PSBB memang diterapkan di Bali dan Jawa, tetapi Pemerintah perlu mengambil langkah antisipasi karena pasti NTT mengalami dampak ekonomi yang serius,” tandasnya kepada VN, kemarin.

Pemerintah provinsi, lanjut dia, harus bisa memastikan kebutuhan pokok masyarakat di seluruh kabupaten/kota harus aman.

“Lakukan komunikasi dengan Pemerintah Pusat, karena sebagian besar bahan pangan dan kebutuhan sekunder lain berasal dari Jawa,” ungkapnya.

Meski demikian, ia berharap agar PSBB Jawa-Bali tidak lantas menutup dan menggangu aktivitas ekonomi terutama pengiriman kebutuhan pokok bagi masyarakat NTT. (mg-10/tia/R-2)