Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan Meningkat

berbagi di:
foto-hal-12-seminar-kekerasan-terhadap-perempuan-sikka

Dokter Maria Bernadina Sada Neno, (kiri) Ketua Divisi Perempuan Truk-F Suster Eustochia, (tengah) dan moderator Yanto Moan Dereng (kanan) saat seminar terkait kasus kekerasan anak dan perempuan, belum lama ini. Foto; Yunus/VN

 

 

Yunus Atabara

Dalam catatan sepanjang 2019, Divisi Perempuan Tim Relawan Untuk Kemanusiaan – Flores (Truk-F) menangani dan mendampingi 92 kasus perempuan dan anak korban kekerasan. Masing masing 31 kasus anak perempuan dan 20 kasus anak laki-laki dan 41 kasus perempuan dewasa.

Hal itu mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2018 yang mengalami kenaikan sebesar 12 persen. Dimana kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di tahun 2018 tercatat 80 orang korban. Hal itu butuh penanganan serius semua pihak dalam menekan angka kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Hal itu disampaikan Ketua Divisi Perempuan Truk-F Suster Eustochia, kepada VN Kamis (31/1) terkait adanya peningkatan sejumlah kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di wilayah Kabupaten Sikka.

“Meningkatnya kasus kekerasan seksual dan kekerasan lainnya terhadap anak dan perempuan adalah bukti lemahnya perlindungan dari pemerintah dan berbagai pihak. Ini sangat serius dan butuh sinergitas dalam menekan angka kekerasan terhadap anak dan perempuan,” kata Suster Eustochia.

Menurutnya, penting ada upaya agar korban kekerasan seksual tidak dibully lagi karena dianggap sebagai aib dalam keluarga. Korban perempuan dan anak selalu jadi korban. Truk F sangat serius dalam menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Kita sudah serius tangani tapi masih saja meningkat, berarti ada yang salah dalam penanganan ini. Mari kita bersama mencari solusi menekan angka kekerasan dalam memberikan perlindungan pada anak dan perempuan,” ujarnya.

Suster Eustochia menjelaskan dalam ranah personal rumah tangga terdapat 72 kasus korban kekererasan yang melakukan pengaduan ke TRUK-F. Di ranah ini, ada dua jenis kasus yang terjadi ysng KDRT menduduki urutan pertama dan kasus kekerasan seksual.
Di tahun 2019 tercatat 61 kasus atau 66,30% korban KDRT. Dari 61 korban tersebut, ada 24 korban berstatus istri dan 14 istri sah dan 10 istri tidak sah, serta 37 kekerasan anak. Ke 61 korban mengalami berbagai bentuk kekerasan, antara lain, kekerasan psikis dialami 50 orang antara lain anak 28 kasus dan perempuan dewasa 22 kasus.

Selain itu kekerasan ekonomi dan penelantaran rumah tangga dialami 47 orang antara lsin anak 25 kasus, perempuan dewasa 22 kasus. Kekerasan fisik dialami 28 orang diantaranya anak 9 kasus dan perempuan dewasa 19 kasus.
Kekerasan seksual 8 kasus diantaranya anak 4 kasus dan perempuan dewasa 4 kasus. Perempuan dewasa mengalami marital rape atau perkosaan dalam perkawinan. Dari 61 korban, tiap-tiap korban mengalami lebih dari satu bentuk kekerasan, bahkan ada yang dikucilkan dalam keluarga dengan berbagai alasan.

Menurut data Truk-F, pelaku kekerasan adalah guru, tetangga, keluarga jauh, kenalan dan orang tak dikenal. Sedangkan latar belakang pendidikan pelaku bervariasi mulai dari tamatan SD hingga S2. Sedangkan pekerjaan pelaku mulsi dari PNS, Dosen, Polisi, TNI, Brimob, karyawan swasta, Guru, Buruh, Ojek, Petani, Wiraswasta, perangkat Desa, montir, dan pelajar.

“Petani 26,66% menduduki ranking pertama sebagai pelaku kasus KDRT – Ojek 13,04% merupakan pelaku kekerasan seksual tertinggi dan terendah adalah pelajar 2,175,” jelas suster Eustochia.

Kepala Dinas Pemberdayaan perempuan dan KB Kabupaten Sikka, Dokter Maria Bernadina Sada Nenu dalam kesempatan itu menegaskan bahwa dalam penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga membutuhkan kerja sama lintas sektor dan semua pihak terutama gereja, tokoh pendidik dan tokoh adat.

“Kita sudah berulangkali melakukan sosialisasi. Kendati demikian tekanan ekonomi dan pergaulan bebas menjadi pemicu utama. Ini yang menjadi tanggung jawab kita bersama dalam menekan angka kekerasan terhadap anak dan perempuan,” kata Dokter Maria. (nus/S-1)