Kekeringan Meluas di Manggarai Barat

berbagi di:
KEKURANGAN RUMPUT: Akibat kekeringan di Manggarai Barat, pemilik ternak harus membeli daun segar untuk pakan. Bahkan hewan seperti kerbau terpaksa mencari rumput-rumput kecil, di lapangan dekat sekolah. (Foto:John Lewar/mi)

KEKURANGAN RUMPUT: Akibat kekeringan di Manggarai Barat, pemilik ternak harus membeli daun segar untuk pakan. Bahkan hewan seperti kerbau terpaksa mencari rumput-rumput kecil, di lapangan dekat sekolah. (Foto:John Lewar/mi)
 

KEKERINGAN akibat kemarau panjang di Kabupaten Manggarai Barat, mulai mengancam kehidupan ternak. Warga di kecamatan Komodo, wilayah poros selatan Desa Tiwu Nampar dan Warloka yang memiliki kerbau, sapi, dan kambing mulai kesulitan mendapatkan rumput dan daun segar. Padahal sapi dan kerbau dipekerjakan petani untuk membajak sawah. Pekan ini dilaporkan empat ekor kerbau milik warga mati kelaparan.

Hal itu dikemukakan Mahamat Ismail (54) tokoh masyarakat desa Warloka. Mahamad menyebut dampak kemarau panjang mengeringkan air kali yang biasanya untuk dikonsumsi ternak.

“Sudah ada empat ekor kerbau milik warga dalam satu pekan ini. Ternak mati kemungkinan karena lapar. Tubuh hewan-hewan itu kurus lalu mati. Warga takut mengonsumsi kerbau yang mati sebab belum diketahui persis penyebabnya. Mati karena penyakit atau ketiadaan makanan,” jelas Mahamad.

Samsudin Jamasea (48), pemilik ternak yang mati mengaku kerbaunya mati kelaparan. Dia mengaku kesulitan mendapatkan makanan akibat kekeringan selama empat bulan belakangan ini, termasuk mencari sumber mata air. “Kami terpaksa beli air untuk minum dan cuci. Daun-daun padang lamun ini mati kekeringan karena suhu panas dan lokasi ini berada tak jauh dari laut,” katanya.

Samsudin juga menuturkan bukan hanya kerbau miliknya yang mati kelaparan, tetapi juga milik sahabatnya. “Yang mati itu bukan karena penyakit, tapi kesulitan makanan. Sudah 4 ekor kerbau mati. Hampir tiap hari kami terpaksa beli daunan hijau untuk kasih makan kerbau. Mata air mengering. Jadi, begitu sulitnya buat hewan,” papar Samsudin.

 

BMKG Pantau
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan empat kabupaten berstatus awas atau kode merah kekeringan meteorologis. Keempat kabupaten itu yakni tiga kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat (NTB.

“Tiga kabupaten/kota di NTT yaitu Kota Kupang, Kabupaten Belu, Kabupaten Timor Tengah Selatan dan satu kabupaten di NTT yaitu Kabupaten Dompu,” rilis BMKG.

BMKG juga menetapkan 58 kabupaten/kota yang berstatus siaga atau kode oranye yang tersebar di NTT, NTB, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan.

BMKG menyatakan bahwa saat ini 69 persen wilayah telah memasuki musim kemarau seiring sirkulasi angin monsun Australia yang dominan dan bersifat kering dari arah timur-tenggara.

Wilayah yang memasuki musim kemarau ini tersebar di sejumlah daerah.
Sebanyak 31 persen diantaranya telah mengalami kondisi kering secara meteorologis dihitung berdasarkan indikator Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut atau deret hari kering yang bervariasi mulai dari 21-30 hari, 31-60 hari, dan di atas 61 hari.

Wilayah yang sudah mengalami deret hari kering lebih dari 30 hari yakni Bali (Bangli, Buleleng, Karangasem, Klungkung, Denpasar), Yogyakarta, Jateng (Karanganyar, Kebumen, Klaten, Purworejo, Sukoharjo, Wonogiri), Jatim (Bangkalan, Banyuwangi, Bondowoso, Gresik, Jember, Kota Surabaya, Lamongan, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo), NTB, NTT, dan Kepulauan Selayar-Sulsel.

Meski sejumlah wilayah di selatan Indonesia mengalami musim kemarau, BMKG meminta masyarakat yang tinggal di daerah ekuator mewaspadai potensi curah hujan yang berisiko banjir.

“Daerah yang tidak atau belum mengalami musim kemarau, terutama dekat ekuator, perlu waspada potensi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi yang berisiko banjir,” katanya. (mediaindonesia.com/cnn/R-2/ol)