Keluarga Minta Jenasah Ibu Hamil 8 Bulan yang Tewas Bunuh Diri Diautopsi

berbagi di:
Ilustrasi buhuh diri

 

 

Keluarga korban ibu hamil delapan bulan Tabitha Gah (32) yang ditemukan dalam keadaan tergantung di kos-kosan di wilayah Rt 02/Rw 01, Kelurahan Bakunase 1, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang, Sabtu (5/8) mengajukan permohonan autopsi terhadap janazah korban. Keluarga merasa janggal atas kematian korban, meski hasil visum luar yang dari Bidokes Polda NTT tidak menemukan tanda-tanda kekerasan terhadap korban.

Hal itu dikemukakan oleh Kapolres Kupang Kota Anthon C Nugroho melalui Kapolsek Oebobo AKP Fajar Virgantara kepada VN, kemarin.
Menurutnya, selain menerima permohonan autopsi itu, sampai saat ini, penyidik Unit Reskrim Polsek Oebobo masih sementara melakukan penyelidikan lanjutan terhadap kematian Tabitha.
“Kami memeriksa beberapa orang saksi yang berada di lokasi kejadian ketika mayat korban masih tergantung pada kain serta ketika suami korban sudah memindahkan korban ke tempat tidurnya,” jelas Virgantara.
Berdasarkan hasil visum luar terhadap korban, lanjut Virgantara, tidak terdapat tanda-tanda kekerasan fisik, namun pihak keluarga korban merasa ganjal sehingga mengajukan permohonan autopsi terhadap jenazah korban.
Menurutnya, saat melakukan olah TKP, pada mulut korban ditemukan air liur, namun lidah korban tetap berada di dalam mulutnya, sehingga penyidik masih menyelidiki penyebab kematian korban yang sesuai dugaan sementara masih gantung diri.
“Kami sangat menyayangkan pemindahan jenazah tersebut telah mengubah TKP, sehingga penyidik pun mengalami kendala saat melakukan olah TKP,” ungkap Virgantara.
Pihak keluarga yang hendak dikonfirmasi enggan berkomentar. Salah satu keluarga korban yang enggan diseutkan namanya mengatakan, keluarga sudah menyerahkan semuanya kepada polisi.
Pemilik kos Loni Hermanoes mengatakan bahwa dirinya mengenal korban sebagai orang yang pendiam dan tidak suka bergosip dengan tetangga kos lainnya.
“Korban berprofesi sebagai pengrajin tenun ikat. Siap hari setelah mengantarkan suaminya ke tempat kerja dan anak pertamanya ke sekolah, dirinya langsung melakukan aktivitas tenun dengan alat pintal yang dimilikinya,” jelas Loni.
Terkait dengan aksi nekat korban melakukan bunuh diri, lanjut Loni, korban pun tidak pernah terlibat pertengkaran dengan tetangganya.
“Korban jarang bercerita dengan kami terkait masalah pribadinya, namun beberapa kali ini saya mendengar korban sering bertengkar dengan suaminya terkait masalah pribadi, namun kami tidak mau mencampuri urusan rumah tangga orang,” jelas Leni.
Suami korban Maksen Sing Plaikol (33) mengatakan bahwa istrinya dalam beberapa hari belakangan sering cemburu tehadap dirinya dan menuduh dia memiliki wanita lain.
“Istri saya itu orangnya tertutup, dan sangat marah ketika saya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Ia sering menuduh saya memiliki wanita lain hingga kami pun sering bertengkar mulut, namun tidak sampai ada kekerasan dan penganiayaan,” jelas Maksen.
Malam sebelum kejadian tersebut, lanjut Maksen, korban terlibat pertengkaran mulut dengannya karena pulang dari Bar Karang Dempel Tenau dalam kondisi mabuk dan pada bajunya terdapat cap lipstik wanita.
“Kami bertengkar mulut pada Kamis (4/8) sekitar pukul 22.00 Wita. Saat itu saya sedang mabuk, kemudian korban pun kesal lalu membawa sebuah kain panjang keluar dari kamar dan pergi, sehingga saya pun langsung masuk ke dalam kamar dan tidur bersama tiga orang anak kami,” ungkap Maksen.
Ketika pagi hari, lanjut Maksen, salah satu tetangga kamarnya datang memberitahukan dirinya bahwa korban sudah meninggal gantung diri.
“Saya mengira korban semalam pergi tidur di rumah mertua yang terletak di belakang kos, namun ternyata korban nekat gantung diri, dan saya sangat menyesal karena sebelumnya telah bertengkar mulut dengan korban,” ungkap Maksen.
Sebelumnya, Sabtu (5/8) pagi, Tabita Gah ditemukan tewas dalam keadaan tergantung oleh tetangga kos bernama Yani Bifer (23) yang saat itu hendak ke kamar mandi.
Saksi Yani sempat kaget melihat mayat korban yang sudah tergantung di samping kamar mandi dengan posisi kaki menekuk dan kepala menoleh ke kiri, sehingga dia pun berlari ke kamar dan memberitahukan kepada warga lainnya.
Saksi Yane Maboi (40) mengatakan bahwa dirinya yang sedang berada di dalam kamar mendapat informasi tersebut dan langsung pergi ke kamar suami korban bernama Maksen Sing (33) yang sementara tidur di dalam kamarnya.
Suami korban Maksen langsung keluar dari kamar dan menuju tempat jenazah korban. Saat itu, posisi korban sudah tergantung pada sebuah kain selendang.
Sang suami dengan segera menurunkan jenazah korban dan membawanya ke dalam kamar, kemudian warga setempat melaporkannya kepada Polsek Oebobo Polres Kupang Kota.
Beberapa saat kemudian, aparat Kepolisian Sektor Oebobo bersama tim Identifikasi Polres Kupang Kota langsung mendatangi lokasi kejadian dan melakukan olah TKP dan memasang garis polisi (police Line).
Usai melakukan olah TKP, aparat Kepolisian membawa mayat korban ke RSB Titus Uly untuk penanganan lanjutan terkait penyebab kematian korban. (tia/C-1)