Kembangkan Holtikultura Melalui Irigasi Tetes

berbagi di:
img-20200626-wa0088

Yance Maring (27) di atas lahan pertanian irigasi tetes yang dikelolanya, Jumat (26/6). Foto: Yunus/VN

 

 

 

Yunus Atabara

Potensi pertanian di Kabupaten Sikka sangat tinggi namun belum dikembangkan secara maksimal. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kecendrungan generasi muda untuk bekerja di sektor industri, swasta, termasuk menjadi PNS dibanding menjadi petani.

Selain itu lahan yang tandus juga dinilai menjadi kendala.

Namun dua kendala itu mampu ditaklukan oleh Yance Maring (27).

img-20200626-wa0083

Yance merupakan orang muda yang pernah mengikuti pelatihan pertanian Internasional di Arava International Center of Agriculture Training (AICAT) Israel tahun 2018, kepada VN, Jumat (26/6) mengakunl berani menggelontorkan uang puluhan juta rupiah untuk mendatangkan peralatan irigasi tetes dari Cina.

“Semua alat saya beli langsung dari Cina. Saya pesan melalui aplikasi internet. Kurang lebih saya habiskan Rp 50 juta untuk satu hektar,” kata Yance.

Yance mengisahkan pada Oktober 2018 ada 30 orang dari NTT yang berangkat ke Israel untuk mengikuti pelatihan pertanian Internasional di AICAT University. Selama 11 bulan di AICAT Israel, dengan sistem belajar 1 hari di kampus dan 5 hari praktek di Mosav Ein Yahav atau kelompok pertanian.

Yance mengakui keberangkatannya ke Israel melalui Yayasan Pemberdayaan Kaum Muda Flores (Permadani Flores). Dalam pelatihan pertanian onternasional di AICAT Israel itu, ada beberapa kategori. Diantaranya kategori Diploma dan exeselen dengan biaya 10.000 sakel atau setara Rp 40 juta.

img-20200626-wa0089

“Selama praktek Mosav Ein Yahav atau kelompok pertanian di Israel, kami digaji per jam. Uang yang kami dapat itulah yang kami gunakan untik bayar uang sekolah dan biaya transportasi pulang pergi,” jelasnya.

Bermodalkan Rp 50 juta, honor yang ia terima selama praktek di Mosav Ein Yahav atau kelompok pertanian, ia mengontrak lahan seluas 1 hektar senilai Rp 4 juta per tahun. Ia menanam tomat, cabe dan jagung di bulan Juli 2019. Kala itu masih manual menggunakan selang untuk siram.

Uang dari hasil panen itu, membuat Yance memesan seluruh perlengkapan irigasi tetes dari Cina melalui aplikasi internet.

“Saya beli langsung dari Cina karena harga jauh lebih murah. Kalau harga di Indonesia, bisa 3 sampai 4 kali lipat dari harga yang saya beli di Cina. Sekitar Rp 40 jutaan perlengkapan dari Cina,” kata Yance.

Berbagai perlengkapan irigasi tetes yang dibeli dari Cina diantaranya selang drip tape 16 mm, take offf join tape, air valve untuk mengatur tekanan udara, solenoit valve, kran otomatis yang terhubung ke jaringan internet dan GSM, venture injecttor untuk pemupukan otomat, filter, dan modul jaringan SMS dan wifi untuk kontrol penyiraman secara otomatis.

“Kalau di radius 100 meter dari kebun, saya bisa pakai wifi untuk siram. Kalau saya jauh, seperti di Kupang atau Denpasar, saya pakai SMS. Saya tinggal SMS saja, air keluar dan kalau sudah selesai nanti mati sendiri,” ujarnya.

Untuk sementara, kata Yance, baru sekitar 10 ribu populasi tanaman. Sedangkan tanaman holtikultura yang ia tanam yakni tomat, cabe besar, cabe kriting, cabe rawit, semangka dan jagung. Ia menambahkan semua tanaman akan dipanen dalam waktu dekat.(bev/ol)