Kemenangan Vicktory-Joss Patahkan Politik Identitas

berbagi di:
victory-joss

Kemenangan pasangan Viktor Bungtilu Laiskodat-Joseph Nae Soi (Victory-Joss) dalam kontestasi Pilgub NTT dinilai telah mematahkan spekulasi tentang menguatnya politik identitas sebagai preferensi politik masyarakat NTT.

“Menguatnya politik identitas ini beralasan karena NTT secara sosiologis sangat multikultur, sehingga pertimbangan yang berbasis tradisional ikut bermain dan beroperasi dalam politik pilkada,” kata pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr Ahmad Atang di Kupang, Sabtu (30/6).

Dia mengemukakan hal itu, terkait spekulasi dan diskursus tentang menguatnya politik identitas sebagai preferensi politik masyarakat dalam Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur NTT periode 2018-2023.

Menurutnya, menguatnya politik identitas sangat beralasan karena NTT secara sosiologis sangat multikultur. Namun, hasil Pilgub NTT yang sesuai perhitungan cepat quick count dimenangkan oleh Victory-Joss tidak mencerminkan adanya ikatan politik identitas.

Secara faktual, kata dia, hal ini menggambarkan bahwa publik NTT sudah cerdas dan dewasa dalam politik sehingga mampu keluar dari bingkai politik primordialis.

Dengan demikian, politik lokal di NTT sedang bergeser dari politik tradisional yang berbasis primordial ke politik rasional yang berbasis akal sehat.
Karena itu, apresiasi perlu berikan kepada pasangan calon nomor urut 4 yang meraih dukungan masyarakat dalam pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur NTT periode 2018-2023 yang berlangsung Rabu (27/6).

“Keberhasilan ini menurut saya merupakan kombinasi antara kapasitas pasangan calon dan mesin partai yang berjalan beriringan untuk menggapai kemenangan dalam musim Pilgub NTT saat ini,” katanya.

Jika figur yang mumpuni dan ditunjang oleh mesin partai yang bergerak secara masif maka hasil akhir adalah kemenangan. Namun, jika figurnya bagus tapi mesin politik tidak bergerak, maka akibatnya adalah kekalahan.

“Termasuk juga mesin politiknya bagus namun figurnya kurang diterima publik, apalagi figurnya lemah dan mesinnya tidak bergerak, maka kekalahan adalah sebuah kepastian,” katanya.

Oleh karena itu, antara yang kalah dan yang menang dapat mengevaluasinya, mana yang menjadi kekuatan dan kelemahan setelah hasil pilkada diperoleh.

Mengenai dinamika, dia mengatakan, dinamika pilkada telah memberikan pelajaran dan pembelajaran politik, dimana para kompetitor telah menunjukkan sikap elegan dalam menerima hasil pilkada.

“Inilah modal sosial dan modal politik yang baik untuk bersatu membangun NTT lima tahun ke depan,” katanya menambahkan.

Hasil hitung cepat yang dilakukan lembaga survei menunjukkan, pasangan Victory-Joss sebagai pemenang, dengan mendapatkan dukungan masyarakat sebesar 35,17 persen.

“Bahwa hasil perhitungan resmi KPU sebagai penyelenggara sedang dalam proses, namun dalam banyak pengalaman hasil survei tidak jauh berbeda dengan hitungan resmi,” kata Ahmad Atang.

Fakta ini menegaskan bahwa kemenangan paslon Victory-Joss hanya menunggu tahapan saja untuk disahkan dan dilantik menjadi Gubernur NTT periode 2018-2023.

“Rakyat NTT patut diberikan apresiasi karena telah memberikan mandat kedaulatan kepada pasangan calon yang dipercaya melalui Pilgub 27 Juni kemarin,” kata Ahmad Atang.
Rekapitulasi Berjenjang
Sementara itu, Ketua KPU NTT Maryanti Luturmas Adoe mengatakan, pihaknya tidak akan menyampaikan hasil perhitungan sementara. “Kita menunggu sampai rekapitulasi secara berjenjang selesai dan terakhir akan dipleno rekapitulasi oleh KPU NTT,” kata Maryanti.

Ia mengatakan, untuk mengetahui hasil sementara, maka masyarakat dapat mengakses melalui portal resmi KPU. (anc/tnc/D-1)