Kementrian PUPR Bangun Ratusan MCK di Daerah Stunting Tertinggi

berbagi di:
img-20210112-wa0031

 

Salah satu unit tangki septik individual (WC sehat) yang selesai dibangun.

 

 

 
Gusty Amsikan

 

 
KEMENTERIAN Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya Tahun Anggaran 2020, membangun 232 unit tangki septik individual (WC sehat) di sepuluh desa di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Program tersebut bertujuan mendorong masyarakat mewujudkan sanitasi perdesaan yang memadai agar mencegah dan mengurangi angka stunting. Anggaran sebesar Rp3,5 miliar rupiah digelontorkan untuk pembangunan 323 unit WC sehat tersebut.

Pantauan media ini, pada Selasa (12/1) di Aula Kantor Bapedda TTU dilaksanakan serah terima pekerjaan pembangunan tangki septic individual dari Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), kepada PPK.

Fasilitator Kabupaten Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya, David Charles Bani, ketika diwawancarai media ini usai serah terima, mengatakan pihaknya hari ini melaksanakan serah terima pekerjaan pembangunan tangki septik individual dalam Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya Tahun Anggaran 2020. Kegiatan tersebut bersumber dari APBN. Proses pengerjaannya berlangsung selama delapan bulan terhitung sejak April hingga November 2020 dan didampingi oleh PPK dari provinsi.

Menurut Charles, ada sepuluh desa di tujuh kecamatan di Kabupaten TTU yang menjadi penerima program tersebut. Masing-masing desa memperoleh jatah minimal 20 hingga 25 unit WC sehat. Program tersebut bertujuan mendorong masyarakat mewujudkan sanitasi perdesaan yang memadai agar mencegah dan mengurangi angka stunting. Para penerima manfaat pun harus memenuhi beberapa kriteria di antaranya keluarga stunting, ibu hamil, serta masyarakat berpenghasilan rendah.

“Total keseluruhan di TTU kita bangun 232 WC sehat yang tersebar di sepuluh desa di tujuh kecamatan. Paling banyak ada di Desa Kiusili sebanyak 25 unit. Paling sedikit ada si Desa Mamsena, sebanyak 20 unit. Anggaran yang digelontorkan sebesar 3,5 miliar, setiap desa 350 juta,”jelasnya.

Ia menambahkan, pihaknya sangat berharap kiranya Pemda bisa membantu menyediakan unit pengelola limbah untuk mendukung keberadaan WC sehat yang telah dibangun. Pasalnya, system pembangunan WC sehat tersebut menggunakan septi tank yang kedap air sehingga butuh penyedotan secara berkala setiap dua hingga lima tahun.

“Karena sistem yang adaini bangunan dan septitank yang kedap air sehingga ke depan pemerintah dapat memperhatikan dan membangun Unit pengolahan Limbah. System yang dibuat sekarang itu adalah system kedap air, jadi kalau sudah penuh harus disedot. Ini jangka waktunya 2 sampai dengan 5 tahun. Pembangunan septitanknya semua dicor dengan beton bertulang. Tidak bisa langsung ke peresapan jadi kalau penuh harus disedot,” pungkasnya.

Kepala Dinas PRKPP, Anton Kapitan, mengatakan para kepala desa penerima manfaat berkewajiban mengimbau mengimbau masyarakat penerima manfaat agar memelihara dan menjaga WC sehat yang telah ada sehingga pemanfaatannya dapat berkelanjutan. Keberadaan WC sehat merupakan salah satu syarat rumah layak huni yang menjadi tolak ukur untuk menurunkan angka kemiskinan.

“Kami mengimbau agar sarana yang telah dibangun yaitu sandes sanitari perdesaan dapat dirawat, dipelihara dan dijaga sebaik-baiknya. Agar berkelanjutan. Para kepala desa dan KPP yang kemudian menerima aset ini sebagai aset desa untuk dimanfatkan dengan baik. Karena ini salah satu tolok ukur untuk menurunkan angka kemiskinan. Rumah yang layak huni adalah rumah yang bersanitasi baik,”imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Desa Oekopa, Maria Hendrina Abuk,mengatakan piahknya sangat berterima kasih kepada Kementerian PUPR yang telah memberikan bantuan WC sehat bagi masyarakat di desa tersebut. Keberdaan WC sehat tersebut akan dimanfaatkan dan dijaga sebaik mungkin oleh 22 penerima manfaat di desa tersebut. (Yan/ol)