Ken Alex Tawarkan Pengembangan Solar Cell untuk Berdayakan Warga

berbagi di:
Ken Alex, Senior Director Office of Planning and Research State Capitol Sacramento, California, Amerika Serikat sedang berdiskusi bersama Kepala Desa esa Waikaninyo di Kampung Situs Parona Baroro-Kodi Blaghar terkait pengembangan solar cell untuk memberdayakan warga. Foto: Frengky Keban/VN

Ken Alex, Senior Director Office of Planning and Research State Capitol Sacramento, California, Amerika Serikat (baju putih) sedang berdiskusi bersama Kepala Desa Waikaninyo di Kampung Situs Parona Baroro-Kodi Blaghar, SBD, Nusa Tenggara Timur terkait pengembangan solar cell untuk memberdayakan warga. Foto: Frengky Keban

 

 

Frengky Keban

Ken Alex, Senior Director Office of Planning and Research State Capitol Sacramento, California, Amerika Serikat menawarkan sistem baru dalam memberdayakan masyarakat desa diantaranya memanfaatkan energi terbarukan. Misalnya, pemanfaatan energi panas matahari untuk mencukupi kebutuhan listrik di daerah di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur.

Hal ini mengemuka saat Ken Alex yang juga Penasihat Senior Gubernur California, Edmund G. Brown bertemu dengan masyarakat Desa Waikaninyo di Kampung Situs Parona Baroro-Kodi Blaghar yang dihadiri oleh Kepala Desa Alfonsus E. R Peka dan tokoh masyarakat Polus Uru Awa.

Sebelum melakukan diskusi terbatas bersama masyarakat Ken Alex diterima secara adat dengan pemakaian kain tenunan adat kodi (kalambo) dan ikat kepala (kapota).

Ken Alex mengakui potensi energi yang dimiliki  SBD dan Sumba pada umumnya sangat besar namun belum dimanfaatkan secara baik apalagi project yang dilakukan Divos, salah satu NGO yang fokus pada pemanfaatan energi terbarukan belum maksimal memberikan pendampingan dengan tingkat perkembangannya baru tiga persen dari target 17 persen.

“Kita seharusnya bisa manfaatkan panas matahari apalagi Sumba secara umum juga SBD selalu diterangi matahari setiap harinya. Jika selama ini sebagaimana yang disampaikan kepala desa tadi dana desa dimanfaatkan untuk solar cell dengan 1 tahun kurang lebih Rp 200 juta tentu bisa juga dengan sistem cicil sehingga nantinya uang dari hasil cicil tadi bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan desa lainnya. Namun hal itu dirasa tidak memungkinkan karena memang itu diberikan gratis,” katanya.

Ia mengatakan kedatangannya di SBD semata ingin mengetahui potensi di desa setempat dan akan membantu desa dalam pengembangan cell solar dalam skala besar sekaligus mendorong peningkatan ekonomi masyarakat apalagi pemerintah dan masyarakat desa mendukung pengembangan solar cell dengan menghibahkan lahan milih warga.

“Saya senang karena didukung penuh oleh kepala desa dan masyarakat sehingga setelah ini saya akan bertemu pihak Divos unntuk memperkenalkan potensi desa ini supaya nantinya ada bantuan buat desa ini karena bagaimanapun juga desa ini punya potensi bagus,” tambahnya.

Sementara itu Kepala Desa Waikaninyo Alfonsus E. R Peka membenarkan listrik menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat apalagi jumlah penduduk terus bertambah. Saat ini saja jumlah penduduk di desa tersebut sudah mencapai 1.073 jiwa, namun baru ada 100 solar cell yang ada di masyarakat.

“Baru 100 dari target 200 buah rumah di sini. Semuanya berasal dari dana desa yang tiap tahunnya dialokasikan 50 unit. Kebetulan ini tahun ke dua sehingga kehadiran mister Ken tentu akan sangat membantu kami. Kami siap bekerjasama dengan menyiapkan lahan jika nantinya ada pembangunan solar cell secara komunal,” katanya.