Kesulitan Modal, Pengusaha Tempe di Boru Kehilangan Pekerjaan

berbagi di:
img-20200912-wa0011

 

Lodovikus Martin Hikon Plue (36) warga Dusun Riangwulu, Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang, memperlihatkan kacang kedelai yang diproses menjadi tempe di rumahnya, Sabtu (12/9) siang.

 

 

 
Yunus Atabara

 

PANDEMI Covid-19 mulai mengguncang perekonomian masyarakat. Warga semakin sulit mencari uang, untuk mempertahankan kelangsungan ekonomi keluarga. Anak sekolah tidak bisa belajar dari rumah, karena tidak memiliki HP. Selain itu, sejumlah pengusaha tempe rumah tangga sebagai sumber penghasilan keluarga, mulai kesulitan modal usaha untuk membeli bahan yang dibutuhkan. Akibatnya pengusaha tempe terancam kehilangan penghasilan.

Demikian dikatakan Lodovikus Martin Hikon Plue (36) warga Dusun Riangwulu, Desa Boru Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, kepada VN saat ditemui di rumahnya, Sabtu (12/9) siang.

“Saya kehabisan modal usaha. Uang modal usaha tempe yang saya kelola secara manual selama ini kami sudah pakai beli beras dan biaya pulsa data untuk anak-anak saya sekolah dari rumah di masa corona,” kata pria yang akrab dipanggil Tino.

Tino mengakui selama ini memiliki keahlian mengolah kacang kedelai secara manual menjadi tempe yang ia lakoni sejak 3 tahun silam. Dari hasil menjual tempe selama ini untuk mempertahankan ekonomi keluarganya.

Dimana kacang kedelai, ragi dan plastik bungkus tempe selama ini dibeli dari Maumere seharga Rp750 ribu. Setelah diolah secara manual selama 4 hari itu, baru bisa dipasarkan di wilayah kecamatan Wulanggitang.

“Saya olah secara manual. Saya tidak mampu beli alatnya. Setelah saya beli kacang kedelai, saya rendam di air 3 jam. Lalu saya rebus di air mendidih. Setelah itu saya rendam lagi 1 malam, lalu dibersihkan dan dicampur ragi,” ujarnya.

Menurut Tino, selain biaya hidup sehari-hari bersama istri dan ke-3 anaknya, terpaksa harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli pulsa data internet untuk anaknya sekolah dari rumah.

Tino mengakui, anaknya yang pertama saat ini, kelas 2 SMA dan anak keduanya SMP kelas 2 serta anaknya yang ketiga, kelas 1 SD. Selain kesulitan membeli pulsa data internet, juga HP hanya 1 yang dipakai bergantian ke-2 anaknya yang SMA dan SMP.

Ia berharap, ada kemudahan akses dari pemerintah, agar pengusaha kecil bisa mendapatkan modal usaha. Hal itu agar masyarakat bisa mempertahankan ekonomi keluarga dan kelangsungan sekolah anak-anaknya. (Yan/ol)