Keuskupan Ruteng dan Pemerintah Diskusi Masalah Penyakit Malaria

berbagi di:
20190719_090711

Keuskupan Ruteng bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai,Manggarai Barat dan Manggarai Timur serta petugas Puskesmas dan pemerintah desa dalam rapat koprdinasi mengatasi penyakit malaria. Foto: Gerasimos Satria/VN

Gerasimos Satria
Keuskupan Ruteng, Manggarai bersama pemerintah mendiskusikan perkembangan penanganan masalah penyakit malaria di wilayah Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur,Jumat (19/7) di Labuan Bajo.

Keuskupan Ruteng melalui Vikep Labuan Bajo Rm Rikar Manggu Pr pada acara rapat koordinasi menyampaikan pentingnya keseriusan pemerintah daerah di Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai dan Manggarai Timur untuk mengetas masalah penyakit malaria karena penyakit malaria yang belum teratasu hingga saat ini.

Romo Rikar Mangu berharap rapat koordinasi antara Dinas Kesehatan, Puskesmas dan  pemerintah desa diharapkan mampu mencari solusi agar malaria bukan lagi ancaman bagi masyarakat di Manggarai. Selain itu, keseriusan dinas kesehatan untuk menyalurkan obat-obatan ke desa-desa pelosok diharapkan terus ditingkatkan.

Program Manajer Sub Recipient Persatuan Karya Darma Kesehatan Indonesia Wilayah Keuskupan Agung Ende, Ishak  S Dalo mengatakan kasus malaria di Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur tahun 2018 mengalami penurunan. Sebelumnya, tiga kabupaten itu masuk dalam zona penyakit malaria, saat ini sudah masuk dalam zona hijau. Namun, pihaknya tetap berupaya agar malaria dapat teratasi secara maksimal.

Dia mengaku pada tahun 2018 lalu, pihaknya fokus melakukan pendampingan masalah malaria pada lima desa di Kabupaten Manggarai Barat yakni Desa Siru, Desa Golo Mori, Desa Tanjung Boleng dan Desa Serenaru. Dalam pendampingan malaria, pihaknya mengandeng para mitra seperti puskesmas dan dinas kesehatan dimana para mitra bertugas mengecek seluruh kesehatan pada  warga yang ada pada lima desa tersebut.

“Dari lima desa dampingan, sekarang ditambah 10 desa. Kami setiap bulan menemui seluruh warga untuk memeriksa kesehatan sekaligus memberi pengobatan,” ujar Ishak.

Ishak menambahkan masalah utama dalam mengatasi masalah penyakit malaria saat ini adalah penyaluran obat dari Puskesmas menuju desa. Rata-rata desa yang menjadi dampingan adalah desa yang berlokasi di pelosok atau desa yang jauh dari puskesmas.

Selain itu, keterbatasan ekonomi membuat masyarakat sering memilih obat tradisional untuk mengobatai malaria. Perlu kesadaran masyarakat untuk mengunakan obat yang diberikan oleh petugas kesehatan. (bev/ol)