Kinerja Bank umum dan Stabilitas Keuangan di NTT

berbagi di:
Frits Fanggidae

Oleh: Frits O Fanggidae FE-UKAW Kupang

 

 

Walaupun kinerja Bank Umum di Provinsi NTT cukup baik, tetapi beberapa hal perlu mendapat perhatian, agar stabilitas keuangan daerah dapat terjaga. Demikianlah salah satu kesimpulan dari Laporan Bank Indonesia Perwakilan NTT tentang Perekonomian NTT per Agustus 2019.

Laporan ini tidak eksplisit menyebut hal yang perlu mendapat perhatian. Setelah dianalisis, menurut saya, yang perlu mendapat perhatian adalah kemampuan intermediasi bank-bank umum (menyerap dan meyalurkan dana masyarakat). Inilah yang ingin saya ulas dalam kaitannya dengan penurunan suku bunga kredit, sebagai konsekuensi dari keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada tanggal 18-19 September 2019.

Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun bank-bank umum tumbuh cukup tinggi dibanding penyaluran kresit. Pertumbuhan DPK yang tinggi tersebut, sejatinya disebabkan transfer pemerintah pusat dalam bentuk giro yang tumbuh 21,91 persen (yoy). Pada sisi lain, tabungan dan deposito mengalami perlambatan pertumbuhan dan penurunan. Tabungan pada triwulan II tumbuh 7,01 persen (yoy) lebih lambat dibanding triwulan I sebesar 7,25 persen (yoy); dan deposito pada triwulan II menurun sebesar 5,07 persen (yoy) dan triwulan I turun sebesar 8,33 persen (yoy).

Karena itu, secara kuantitatif, per Agustus 2019, jumlah kredit yang disalurkan lebih besar dibanding DPK. Hal ini terlihat dari Loan to Deposit Ratio (LDR) yaitu rasio antara besarnya seluruh volume kredit yang disalurkan oleh bank dan jumlah penerimaan dana dari berbagai sumber sebesar 109,70 persen.
Pertanyaannya, dari mana bank memperoleh dana untuk membiayai kredit yang lebih besar dari DPK tersebut? Kemungkinan berasal dari sumber yang berada diluar NTT.

Hal ini tentunya tidak salah, tetapi ketergantungan pada sumber dana dari luar NTT menjadikan stabilitas keuangan daerah kurang baik. Makna penting dibaliknya fenomen ini adalah, kemampuan intermediasi bank-bank umum di NTT belum optimal. Kondisi ini akan diperberat dengan kebijakan BI yang berakibat pada penurunan suku bunga kredit. Hal ini akan diikuti penurunan suku bungan tabungan dan deposito, yang berarti tekanan negatif terhadap pertumbuhan tabungan dan deposito semakin kuat.

Bagaimana mengatasi hal ini? Secara teoretik, tabungan dan deposito adalah fungsi dari pendapatan dan tingkat bunga. Dalam kasus ini, tingat bunga yang menurun tidak bisa diandalkan untuk meningkatkan tabungan dan deposito.

Pendekatan harus diarahkan pada peningkatan pendapatan masyarakat, terutama lapis bawah. Bagi kelompok masyarakat berpendapatan tinggi, dan memiliki kecenderungan mengembangkan pendapatannya, pilihan portofolio lain lebih menarik dibanding tabungan atau deposito (kelomok masyarakat ini jumlahnya relatif sedikit).

Bagi kelompok masyarakat berpendapatan pas-pasan, yang ingin mengamankan pendapatannya (kelompok ini jumlahnya relatif banyak), peningkatan pendapatan menjadikan porsi pendapatan yang tersisa untuk menabung semakin besar.

Kelompok masyaralat berpendapatan rendah pada umumnya terkait dengan usaha mikro dan kecil (UKM). Berdasarkan laporan BI NTT, penyaluran kredit UMKM pada triwulan II 2019 mencapai Rp. 11,01 triliun dengan pertumbuhan sebesar 21,60 persen (yoy). Angka penyaluran kredit UMKM sebesar Rp. 11,01 triliun setara dengan 34,83 persen total penyaluran kredit bank-bank umum triwulan II 2019.
Angka ini kelihatan besar, karena unit usaha kategori menengah yang kemampuannya relatif besar dimasukkan kedalamnya. Bila pelaku kategori menengah dikeluarkan, tinggal UKM saja, diperkirakan jumlah kredit yang disalurkan bagi mereka relatif kecil.

Kepada pelaku kategori UKM inilah porsi penyaluran kredit harus diperbesar, karena keberhasilan usaha mereka akan menciptakan multiplier-effect yang secara langsung berdampak pada peningkatan pendapatan angkatan kerja berpendidikan rendah, yang jumlahnya relatif besar dan menggantungkan hidupnya pada keberhasilan UMK. Tugas selanjutnya dari bank-bank umum adalah bagaimana memperluas dan memantapkan program retail banking mereka, sehingga mampu mendorng keberhasilan UMK.

Keberhasilan UMK penting, karena merupakan fondasi ekonomi NTT. Perbaikan dalam kinerja ekonomi mereka menjadi penting, bukan saja untuk mendorong pertumbuhan ekomi, tetapi juga memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi NTT.