Kisah Riant Boimau Usai Ubah Kopi Jadi Pakaian dan Buku

berbagi di:
img-20191124-wa0000

 

 

 

Putra Bali Mula

Pada Oktober lalu, tepat di hari Kesaktian Pancasila, masyarakat Dusun Nelu, Desa Sunsea yang terletak di pelosok Kabupaten TTU (Timor Tengah Utara) kedatangan rombongan dari kota.

Tidak biasanya ada orang luar datang berkunjung ke dusun terpencil yang jalannya rusak dan belum diaspal seperti itu. Sinyal telepon saja kadang enggan lewat.

Masyarakat lantas berkumpul, penasaran siapa yang datang. Pos penjaga perbatasan RI (Republik Indonesia) – RDTL (Republik Demokratik Timor Leste) jadi ramai.

Bukan rombongan pejabat bermobil mewah yang dikawal ketat aparat keamanan, yang ada cuma seorang penjual kopi keliling ditemani empat sejawatnya dari klub motor CB Kefamenanu. Lima motor tua jadi tunggangan mereka.

Riant Boimau, si penjual kopi keliling dengan motor bebek tua andalannya, dan melalui cangkir-cangkir kopi yang berhasil diubah menjadi kumpulan pakaian dan buku, ia datang dan berbagi dengan masyarakat Dusun Nelu di hari yang singkat itu.

“Sambil jualan kopi saya mau berbagi. Makanya saya buat program coffee for change, sumbangan Alkitab, buku-buku bekas dan pakaian layak pakai dari pelanggan atau masyarakat saya tukar dengan kopi,” cerita Riant saat dihubungi VN beberapa waktu lalu.

Warga Dusun Nelu mungkin tidak menduga seorang penjual kopi seperti Riant akan membawakan mereka banyak pakaian yang dibungkus 5 buah karung ukuran puluhan kilogram dan 10 dus berisi buku-buku.

Sementara Riant sendiri justru lebih terpukul atas kondisi tempat terpencil seperti Dusun Nelu yang begitu tertinggal. Dusun Nelu sendiri direkomendasikan oleh seorang kenalannya agar bisa disentuh kegiatan sosial miliknya.

Riant akhirnya tahu bahwa masyarakat Dusun Nelu cenderung berpikir seribu kali untuk pergi membeli pakaian. Bukan tidak mau tapi hal itu justru menguras tabungan dan tenaga.

Ongkos perjalanan ke kota bisa lebih dari Rp 100 ribu untuk mendapatkan sepotong baju. Belum lagi ojek yang melintasi desa itu hanya seminggu sekali dan nantinya harus menempuh jalanan berbatu. Sebuah perjuangan panjang dan memakan waktu.

“Bukan sederhana lagi tapi itu sudah seadanya karena kondisi seperti itu. Sampai ada orang tua disana yang bilang ke saya, kalau saya bawa uang maka mereka akan langsung tolak. Untungnya saya bawa pakaian dan buku,” ujarnya.

Belum lagi soal sekolah. Anak-anak Dusun Nelu terpaksa harus punya betis yang kuat berisi. Mereka akan bersiap diri dari jam empat subuh lalu jalan kaki berkilo-kilometer untuk mencapai sekolah di Desa Sunsea.

“Bayangkan anak-anak itu harus langgar lima gunung baru sampai di sekolah. Mereka masih kecil-kecil usia SD dan SMP lalu jalan gelap buta, jam 4 pagi. Pulang juga sudah gelap, jam 5 sore baru sampai rumah di Dusun Nelu. Mana tidak ada lampu jalan,” kenang Riant.

Ada mall, supermarket, ojek online, ada banyak sekolah yang berhamburan di Kota Kupang, dan tentunya suatu perkara mudah untuk membeli sehelai baju apalagi mendapatkan tumpangan ke sekolah. Namun di Dusun Nelu semua hal itu terlalu mewah, dibayar dengan air mata dan luka yang mengelupas telapak kaki.

Riant menangis haru di hari peringatan Pancasila yang sakti itu. Hatinya sakit. Sila keadilan sosial yang sakral rupanya belum menembus kabut Kota Kefamenanu lalu merubah Dusun Nelu yang cuma memiliki seorang ibu guru PAUD tanpa seragam atau atribut apapun.

Ijazah Riant memang tidak tinggi, hanya sebatas SMP, dan mungkin itu yang membuatnya harus merenung begitu dalam, dengan hati-hati ia mencari kalimat motivasi bagi anak-anak Dusun Nelu. Dalam hati Riant mengaku rela menukar apapun di dunia ini agar bocah-bocah disana tak menyerah pada kondisi yang ada.

“Kalian lihat saya. Cukup saya saja yang seperti ini, jangan seperti saya, percaya kalian bisa lebih dari ini. Banyak-banyak ingin tahu, belajar baik-baik di sekolah, terus baca buku-buku, tanya di om tentara mereka yang jaga pos kalau tidak tahu. Jangan takut belajar, jangan seperti saya,” Riant mengulang ungkapannya pada anak-anak disana.

Buku-buku yang Riant bawa hari itu kemudian dikumpulkan di pos perbatasan wilayah itu agar dimanfaatkan sebagai taman baca bagi anak-anak.

Ada sekitar lima belas anggota TNI yang bertugas di perbatasan RI-RDTL Sektor Barat Yonif 132/BS dan mereka sepakat mengelola taman baca tersebut. Mereka akan dibantu oleh satu-satunya ibu guru PAUD di Dusun Nelu itu.

Riant juga berupaya melakukan lobi antara warga Dusun Nelu dan warga Desa Sunsea yang kebetulan hadir saat itu, agar dapat menyewa sebuah rumah di Desa Sunsea yang bisa ditinggali anak-anak sekolah.

“Saat itu kami bicarakan supaya anak-anak itu tidak perlu bolak-balik setiap hari, jadi kontrak rumah untuk mereka. Nantinya hari Sabtu mereka bisa pulang lagi ke dusun,” ungkapnya.

Sebelum meninggalkan Dusun Nelu, Riant juga sempat bertukar ilmu hidroponik dengan para anggota TNI di sana agar dapat menjadi ilmu yang membantu masyarakat nantinya.

Riant sempat membagikan kopi buatannya ke warga Dusun Nelu. Peralatan untuk membuat kopi sudah ia sediakan dalam gerobak kopi di motornya. Anak-anak mendapatkan susu hangat sembari tertawa.

Riant kembali ke Kota Kupang dan menjalani aktivitas yang sudah ia tekuni sejak beberapa tahun belakangan. Sepanjang malam Riant kembali menjajakan kopi di bundaran Taman Tirosa tepat di depan Kantor Wilayah PLN NTT.

Riant dikenal dengan panggilan yang unik, Kopling, singkatan untuk kopi keliling. Ia merupakan anak muda perintis penjualan kopi dengan motor antik di Kota Kupang jauh hari sebelum bundaran Tirosa megah seperti sekarang.

Ia masih dengan program sosialnya, coffee for change. Baginya, hal ini adalah bentuk tanggung jawabnya sebagai manusia. Ini caranya membalas berkat yang ia terima setiap hari.

Setiap cangkir kopi yang ditukarkan atas kerelaan bantuan orang-orang akan menjadi baju, celana, dan buku yang berguna bagi sesama. Secangkir kopi itu adalah ungkapan terima kasih paling sederhana dari Riant bagi mereka yang ikhlas menyalurkan kasih kepada sesama melalui dirinya. (bev/ol)