Budaya Kampung Woloweti yang Tidak Terseret Arus Global, Dentuman Klasik Ini Masih Terdengar

- Kamis, 16 Juni 2022 | 23:35 WIB
Para gadis mempraktekkan cara menumbuk padi di Kampung Woloweti, di Desa Ulupulu 1, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, NTT.  (Ignas Kunda)
Para gadis mempraktekkan cara menumbuk padi di Kampung Woloweti, di Desa Ulupulu 1, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, NTT. (Ignas Kunda)

Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Nagekeo, Wilbrodus Lasa kepada victorynews.id, Kamis (16/6/2022) menjelaskan, warga Kampung Woloweti belum dipengaruhi arus global.

Terlebih dalam hal menumbuk padi menggunakan lesung yang sudah dimulai sejak jaman dahulu.

Baca Juga: Hari Ini Penyidik Panggil PPK dan Kontraktor Pembangun Toilet di Dinas Pariwisata Ende

Lesung sendiri dalam bahasa daerah sering disebut dengan Dhongge Adu dalam bahasa Keo dan Dhoge Alu dalam bahasa Nage.

Dhongge atau Dhoge merupakan wadah atau sarana untuk menampung padi, jagung, dan kopi yang akan ditumbuk.

Sedangkan Alu/Adu , dalam bahasa indonesia juga disebut Alu/Adu adalah alat untuk untuk menumbuk padi, jagung, kopi di dalam Dhongge/Dhoge.

Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Nagekeo, Wilbrodus Lasa menyaksikan warga membuat nyiru di Kampung Woloweti. (victorynews.id/Bernard Sapu)

Dhongge/Dhoge terbuat dari kayu nangka yang kemudian diberi lubang bagian tengah dengan dipahat atau dibakar dengan arang api.

Wilbrodus menambahkan, ukuran kedalaman lubang tergantung pada selera pembuatnya.

Ukuran panjang relatif bebas dan tidak ada ukuran baku.

Halaman:

Editor: Paschal Seran

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X