Konsultan Tambak Garam Sabu Akui Proyek Tidak Tuntas

berbagi di:
Ilustrasi tambak garam Sabu.

 
Konsultan perencana dan konsultan pengawas proyek tambak garam di Kabupaten Sabu Raijua (Sarai), Nusa Tenggara Ti,u dalam tahun anggaran 2014, 2015 dan 2016 tidak tuntas dikerjakan. Bahkan ada item proyek seperti di Sabu Saratan, sama sekali tidak dikerjakan.
Hal itu diungkap Melianus Tupamahu dari CV Dekon Mitra Konsulindo selaku konsultan perencana dan konsultan pengawas proyek tersebut, dalam sidang di Pengadilan Tipikor-Kupang, Selasa (4/7).

“Sampai akhir 2014, ada 25 hektare (ha) dari 100 hektare tertinggal sampai akhir Desember 2015. Sementara untuk 10 paket pekerjaan Sabu Daratan dan 100 paket di Raijua pada tahun 2015 belum selesai,” ucap Melianus selaku saksi yang dihadirkan JPU dalam sidang tersebut.

Sidang kemarin menghadirkan terdakwa Lewi Tandirura (Kepala Disperindag Sarai sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran), dan Nicodemus Rehabeam Tari (Sekretaris Disperindag merangkap Pejabat Pembuat Komitmen).

Ia menjelaskan untuk proyek TA 2016, dari delapan kontrak yang dia dapat, tiga paket Sabu Timur dan sisanya di  Sabu Liae sudah selesai, masing-masing lima ha. Untuk proyek 2016, lanjutnya, di Sabu Raijua baru empat ha yang selesai dikerjakan, sementara di Sabu Daratan sama sekali tidak dikerjakan.

Baik jaksa, hakim maupun penasehat hukum tidak menanyakan alasan mengapa proyek belum selesai atau bahkan tidak dikerjakan sama sekali.
Saksi Melianus menjelaskan sebagai konsultan perencana dan konsultan pengawas ia bersama kedua terdakwa pada tahun 2014 membuat sampel sebagai bahan uji coba produksi garam di Sarai dengan dana Rp 450 juta.

“Saat uji coba kami bersama Pak Kadis melakukan identifikasi potensi dan kami lakukan di daerah Ledeana, Lobohede, dan di Pantai Bali,” katanya.

Selanjutnya pada 2015, mewakili Direktur CV Dekon Mitra Konsulindo selaku konsultan perencana, ia hadir menandatangani pakta integritas terkait pelaksanaan proyek tersebut.

Saksi menjelaskan pengukuran lokasi tambak garam di Desa Rarmadia, Pantai Bali, Liae, Wadumaddi, Ledeana, dan Lobohede dilakukan dengan luas 100 ha. Pengukuran lahan dilakukan bersama-sama dengan Kadis Lewi (terdakwa) dan staf Disperindag, juga dihadiri kepala desa setempat.

Penasehat hukum terdakwa, Mel Ndaumanu usai sidang mengatakan, keterangan saksi Melianus tidak memberatkan salah satu pihak. “Saksi yang dihadirkan JPU itu berdiri di tengah-tengan dan menempatkan kebenaran di hadapan hakim, jaksa, dan penasehat hukum sehingga tidak memberatkan salah satu pihak, terutama terdakwa,” kata Mel.

Ungkapan Hati Terdakwa
Terdakwa Lewi Tandirura yang ditemui VN usai sidang tersebut mengaku tidak tahu apa alasannya sehingga dirinya ditahan. Padahal, katanya, justru dirinya sedang berusaha membangun Sarai yang komoditi andalannya hanyalah pohon tuak untuk memproduksi gula sabu.

“Dengan karakteristik Sarai yang panas dan hanya mengandalkan lontar atau pohon tuak, kami mencoba mengusulkan ke Kementerian untuk membangun tambak garam di Sabu. Dan hasilnya sangat memuaskan. Dari ujicoba pada lahan satu hektare saja menghasilkan 15 ton garam. Apalagi saat ini yang telah dikembangkan ratusan hektare yang  memproduksi begitu banyak garam sehingga Indonesia tidak perlu lagi impor garam,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa pembangunan tambak garam menyedot sekitar 600 tenaga kerja lokal. Karena itu dia mengaku prihatin dirinya ditahan sebagai tersangka korupsi. Dia menilai kasus kasus yang menimpa ini bermuatan politis karena pada saat peroses dimulainya proyek tambak garam bersamaan dengan proses Pilkada Sarai.

Disinggung soal kerugian negara, dia mengaku tidak mengetahui adanya kerugian negara sampai Rp 36,5 miliar. “Saya tidak tahu dimana itu uang dan saya tidak pernah sentuh uang,” katanya.

Menurutnya, pada 2015 BPK melakukan audit reguler dan tidak menemukan apa-apa terkait pelaksanaan proyek tambak garam. Audit BPK tahun 2016, kata dia, juga demikian. Tidak ada temuan penyimpangan. Mengenai masalah keterlambatan pekerjaan, dia menilai itu lumrah terjadi karena beragam faktor penghambat.

Dia mengaku tidak mengetahui seperti apa akhir dari kasus yang menimpa dirinya bersama Nico Tari, namun ia berharap agar proyek tambak garam tetap dilanjutkan demi kepentingan kemajuan Sarai. Termasuk nasib ratusan tenaga kerja yang adalah anak-anak daerah.
Ia juga minta meminta agar produk garam yang telah ada di Sabu dipertahankan dan dilanjutkan karena itu merupakan produk asli NTT.
Sidang kasus tersebut dilanjutkan pekan depan, masih dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi. (mg-14/E-1)