Kuanino Padat, Warga Minta Jalur Alternatif

berbagi di:

Mardhan Son

 

 

Masyarakat meminta jalur alternatif untuk ruas Jalan Jenderal Sudirman, Kuanino, Kota Kupang, Nusa Tenggara segera direalisasikan. Pasalnya, jalur tersebut padat dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Mobilitas kendaraan di wilayah tersebut cukup tinggi sehingga seringkali menimbulkan kemacetan lalu lintas. Ditambah parkiran kendaraan di area pertokoan yang juga padat dan seringkali tak teratur.

“Disini selalu macet. Setiap pagi atau jam pulang sekolah lebih macet, sehingga ke sekolah harus lebih awal. Pada jam aktivitas biasa juga terasa sumpek karena tidak teratur. Jadi kalau lewat sini juga harus hati-hati karena takut celaka,” kata Indri Leba siswi SMKN 1 Kupang, Kamis (3/8).

Selain itu, kesemrawutan tersebut, lanjut Indri, karena buruknya penataan tempat parkir dan usaha para pedagang kaki lima. Untuk itu, Indri meminta pemerintah segera menciptakan dan mengembangkan moda transportasi dalam rangka menciptakan sistem mobilitas yang efisien dan efektif agar bisa dilalui dengan aman, cepat dan lancar.

Hal senada ditandaskan Branch Manager Suzuki Cabang Kupang, Pierre Pello. Permintaan tersebut merujuk pada angka permintaan kendaraan roda dua yang cukup tinggi pada agen penjualannya. Menurutnya, angka peningkatan kepemilikan kendaraan di kota Kupang berbanding terbalik dengan upaya penyediaan infranstruktur berupa jalan untuk ruas jalur utama.

“Kalau wilayah kota Kupang, angka penjualan motornya cukup tinggi. Makanya perlahan makin macet. Kalau bisa pemerintah menemukan solusi dalam menyediakan sistem transportasi yang aman. Kuanino makin macet,” himbaunya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi, Richard Djami ketika dihubungi VN mengatakan, meski kepengurusan sistem transportasi kota bukan merupakan ranahnya, namun ia mengajak semua pihak untuk bekerjasama mengatasi persoalan tersebut. Richard mengajak stakeholder terkait agar meninggalkan ego sektoral demi tercapainya tujuan bersama.

“Itu kewenangan dinas perhubungan kota. Karenanya, perlu ada rapat koordinasi lintas sektor. Itu (kemacetan) karena mobilitasnya tidak sebanding dengan ruas jalan. Jadi harus ditata atau direkayasa. Tapi yang paling penting itu penataan parkir dan para penjual,” ujarnya.