Kunjungan Emir Qatar Perkuat Pariwisata Flores

berbagi di:
img-20190613-wa0011

Petrus Salestinus

 

 

Syarif Lamabelawa

Kunjungan Emir Qactar Syaikh Tamim Bin Hamad Al-Thani dan rombongannya sebagai wisatawan ke Flores, khususnya ke Maumere semakin memperkokoh posisi Pulau Flores sebagai kawasan strategis bahkan super strategis pariwisata, karena memiliki potensi dan pengaruh penting dalam aspek pertumbuhan ekonomi, sosial budaya, sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup dan pertahanan keamanan.

Hal ini dikatakan pengamat masalah hukum dan sosial budaya NTT, Petrus Selestinus dalam rilisnya yang diterima VN, Kamis (13/6).

Dia mengatakan, kunjungan ini juga sekaligus memperkuat alasan penolakan masyarakat NTT terhadap program wisata halal dari Kementerian Pariwisata yang hendak diterapkan oleh Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo Flores, namun mendapat resistensi dari masyarakat NTT, karena dinilai bertentangan dengan konstitusi.

Kunjungan Emir Qatar dan rombongannya ke Maumere dan beberapa tempat lain di Flores dan Alor NTT, diharapkan dapat mengakhiri perdebatan panjang soal perlu tidaknya wisata halal yang diterapkan Kementerian Pariwisata di Flores khsusnya kawasan wisata di bawah BOP Labuan Bajo yang beberapa waktu yang lalu sempat jadi polemik menghebohkan dunia Pariwisata NTT.

“Mengapa, karena ternyata wisatawan sekelas Emir Qatar dan rombongan tidak mempertanyakan apakah di Flores ada program Wisata Halal atau tidak, begitu juga masyarakat lokal, Maumere, Flores-pun tidak memberi syarat apapun termasuk apakah Emir Qatar dan rombongan harus diterima dan diberlakukan Hukum Adat Budaya Maumere atau tidak,” katanya.

Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) yang juga advokat senior ini berpendapat, kedatangan Emir Qatar Syaikh Tamim Bin Hamad Al-Thani dan rombongan betul-betul murni sebagai rekreasi dan sudah paham dengan hukum positf Negara Indonesia, sehingga Emir Qatar bisa langsung menuju ke objek wisata “Teluk Maumere” untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi atau untuk mempelajari dan menikmati keunikan daya tarik wisata yaitu keindahan alam Taman Laut, Teluk Maumere sebagai tempat menyelam terpopuler dan beberapa tempat lain di NTT.

Emir Qatar dan rombongannya, lanjut dia, sudah tahu bahwa sebagai wisatawan, mereka terikat kepada hukum Indonesia yang mewajibkan setiap wisatawan menjaga dan menghormati norma agama, adat istiadat, budaya, dan nilai-nilai yang hidup dalam “masyarakat setempat”.

Menurut dia, kunjungan wisata Emir Qatar harus menjadi pelajaran bagi semua pihak terutama Kementerian Pariwisata bahwa tidak semua destinasi wisata dengan status super prioritas dapat diterapkan program Wisata Halal. Hukum positif kita khususnya UU Kepariwisataan dengan tegas menyatakan bahwa “Kepariwisataan diselenggarakan dengan prinsip menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya sebagai pengejawantahan dari konsep hidup dalam keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan antara manusia dan sesama manusia dan hubungan antara manusia dengan lingkungan, keberagaman budaya dan kearifan lokal,” kata Selestinus.

Sebagai kepala negara, ungkap dia, Emir Qatar sudah pasti memiliki informasi lengkap tentang kondisi geografis, kultur masyarakat dengan toleransi yang tinggi, masyarakat majemuk dengan mayoritas beragama Katolik, dengan adat budaya yang bebeda di setiap kabupaten, sehingga Emir Qatar dan rombongannya dengan kepercayaan penuh datang berkunjung, meskipun bersamaan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri dimana sebagian Warga Flores beragama Muslim, sedang merayakan Hari Raya Idul Fitri.

“Ini bukti bahwa faktor budaya dan keindahan alam Pulau Flores yang menjadi tujuan utama kunjungan Emir Qatar, bukan persoalan ada atau tidak program wisata halal di Flores bahkan di Indonesia,” tandasnya. (rif)