Kupang jadi Kota Ramah Remaja

berbagi di:
img-20191205-wa0045

 

 

Putra Bali Mula

Remaja Kota Kupang berharap program smart city dapat mengintegrasikan layanan kesehatan ramah remaja dan mempermudah akses terhadap layanan ini.

Hal ini disampaikan sejumlah peserta kegiatan diskusi publik yang diselenggarakan oleh Aliansi Remaja Independen (ARI) NTT di Hotel Pelangi, Kamis sore (5/12).

Diskusi yang digelar ARI NTT dalam momentum Hari AIDS sedunia ini menyoroti korelasi program smart city ke depannya dengan akses layanan kesehatan ramah remaja di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Pada sesi diskusi para peserta menyampaikan berbagai hal di antaranya layanan ramah anak di sebelas puskesmas, peran pemerintah dalam memberi pengetahuan kesehatan seksual berbasis digital kepada remaja maupun layanan langsung, dan klinik VCT (Voluntary Counseling And Testing) yang berkaitan dengan status HIV AIDS.

Retnowati selaku Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang menyebut pelayanan secara digital dalam program smart city sedang dikembangkan. Namun, menurutnya, layanan kesehatan khusus remaja ini tentu bisa dapat diintegrasikan dalam program smart city.

Ia menjelaskan layanan kesehatan ramah remaja saat ini dilakukan oleh semua puskesmas di Kota Kupang namun yang menjadi basis dan fokus khusus isu tersebut adalah Puskesmas Oepoi.

“Seluruh Puskesmas melayani 18 program termasuk di dalamnya layanan remaja tetapi ada puskesmas yang mempunyai fokus seperti di Bakunase soal serviks, di Puskesmas Oesapa fokus HIV, kalau Oepoi itu yang remaja,” ungkapnya.

Sementara, Pasifikus Wijaya, dosen psikologi Undana menilai program smart city ke depan sangat tepat digunakan terutama saat menyasar kaum remaja yang familiar dengan sistem online maupun digital.

Untuk itu akses layanan kesehatan terhadap remaja memang perlu diintegrasikan dalam smart city apalagi dengan menawarkan kemudahan akses informasi oleh remaja Kota Kupang.

“Remaja sekarang lebih familiar dengan segala sesuatu yang online dan digital. Generasi digital seperti remaja ini tidak suka menunggu,” ungkapnya.

Ia berharap Pemerintah Kota Kupang dapat menawarkan program smart city yang tepat sasaran terutama bagi remaja baik dalam akses pengetahuan umum maupun pengetahuan kesehatan seksual reproduksi yang sehat.

Marselinus Bay, Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS Kota Kupang menyebut terdapat 17 kasus HIV AIDS sepanjang 2019 yang dialami oleh remaja.

Untuk itu berharap Pemerintah Kota Kupang bersama KPA Kupang ke depan dapat mengintegrasikan program-program masing-masing melalui smart city. (bev/ol)