KPA NTT Ungkapkan PSK di Atambua Layani Hingga Perbatasan Timor Leste

- Kamis, 16 Juni 2022 | 08:49 WIB
Konsulat Timor Leste, Jesuino Dos Reis Matos Carvalho, Sekretaris Komisi Perlindungan AIDS NTT Adrianus Lamuri( paling kiri) dan Koordinator UPK CD Yakkum Bethesda Belu Yosafat Ician (disamping konsulat) berpose bersama sekretaris Dinkes NTT dan wakil direktur CD Yakkum Bethesda Jogyakarta Sukendri. (victorynews.id/Stef Kosat)
Konsulat Timor Leste, Jesuino Dos Reis Matos Carvalho, Sekretaris Komisi Perlindungan AIDS NTT Adrianus Lamuri( paling kiri) dan Koordinator UPK CD Yakkum Bethesda Belu Yosafat Ician (disamping konsulat) berpose bersama sekretaris Dinkes NTT dan wakil direktur CD Yakkum Bethesda Jogyakarta Sukendri. (victorynews.id/Stef Kosat)

KUPANG, VICTORYNEWS - Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids (KPA) NTT Adrianus Lamuri dalam diskusi dengan Konsulat Timor Leste, CD Yakkum Bethesda dan Dinas Kesehatan NTT membeberkan data sebaran populasi pekerja seks komersial (PSK) di Atambua, Kabupaten Belu

Sesuai data KPA NTT di Atambua, pekerja salon sambil menjajakan seks (tidak langsung) sebanyak 121 orang, Waria 38 orang dan Gay dengan lelaki sebanyak 43 orang dengan melayani Atambua ke Timor Leste sangat tinggi. 

Data ini diungkapkan KPA NTT dalam penjajakan kerjasl sama lanjutan penanganan Aids di Atambua, perbatasan Belu-Timor Leste di Hotel Neo Aston Kupang, Rabu (15/6/2022).

Baca Juga: Begini Alasan Konsulat Timor Leste Dukung Revisi Penanggulangan HIV/AIDS di Perbatasan

Dengan data yang ada, Lamuri meyakini tingginya kasus kematian akibat HIV/Aids di Atambua Belu akibat kelalaian masyarakat sendiri. 

Karena itu, ia sependapat dengan Konsulat Timor Leste Jesuino Dos Reis Matos Carvalho supaya mengusulkan ke Pemerintah Timor Leste maupun Kemenkes untuk merevisi kembali MoU yang pernah dilakukan di Jakarta pada 2016 lalu.

Lamuri melanjutkan, sesuai pengamatan mereka banyak pasukan penjaga perbatasan dari kedua negara yang lama meninggalkan istri atau pasangan.

Baca Juga: GP Ansor NTT Tolak Deklarasi Alumni GP Ansor di Jawa Timur

"Karena itu, secara otomatis pemerintah harus melindungi mereka dengan menyediakan pengaman seksual yakni kondom supaya pasukan penjaga perbatasan aman dari virus mematikan ini," katanya. 

Dia mengatakan, pergerakan masyarakat dari kedua negara di perbatasan juga sangat tinggi.

Halaman:

Editor: Polce Siga

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X