Lahan Kering di Naimata Hasil Puluhan Juta per Tahun

berbagi di:
Kekringan di Sikka

 

Syarif Lamabelawa

Potensi lahan kering di Kelurahan Naimata, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT bisa menghasilkan puluhan juta rupiah per tahun per keluarga. Namun potensi ini belum digarap secara optimal akibat katerbatasan sumber daya air.

Lurah Naimata Melianus Benggu akhir pekan lalu mengatakan, ada tiga potensi yang dimiliki kelurahan itu yakni lahan kering, hubungan kekerabatan yang kuat antarwarga, dan budaya yang masih kental.

Menurutnya, di tengah keterbatasan air saat ini, warga yang mengelola lahan kering dengan mengandalkan sumur gali, dapat menyimpan uang hingga puluhan juta per tahun. Itu pun baru hanya sedikit lahan kering yang dikelola.

Lahan kering, kata dia, bukanlah kendala bagi warga setempat untuk bertani. Modal utama yang dimiliki warga setempat adalah mereka memiliki etos kerja yang tinggi. Karena itu, bila ada bantuan sumur bor, mereka bisa mengoptimalkan pemanfaataan lahan kering yang ada.

Karena itu, dia meminta Pemerintah Kota Kupang dapat memberikan bantuan berupa sumur bor, agar masalah air di wilayah itu bisa teratasi, baik untuk kebutuhan air bersih maupun untuk pertanian.

Potensi lahan kering tersebut, selain untuk bertani, juga dimanfaatkan untuk memelihara ternak-ternak besar. Karena itu, peternakan di wilayah itu juga menjadi sumber ekonomi bagi sebagian warga.

Selain itu, lanjut dia, sebagai kampung di tengah kota, masyarakat Naimata yang punya pertalian kekerabatan yang kuat. juga memiliki semangat gotong royong yang tinggi, sehingga menjadi modal utama dalam mendukung pembangunan di wilayah itu.

Sementara itu, di bidang budaya, setiap perayaan 17 Agustus, pihaknya selalu menyelenggarakan lomba tarian daerah tingkat kelurahan. Bahkan, ke depan pihaknya berencana membangun sebuah gedung yang bisa dimanfaatkan untuk pentas budaya.

Wakil Walikota Kupang Hermanus Man mengatakan, terkait masalah air bersih, pihaknya sudah memohon bantuan dana Rp 30 miliar ke Pemerintah Pusat dan informasi terakhir sudah positif. Karena itu, dana tersebut dibagi Rp 15 juta untuk penanganan
air bersih, dan sisanya untuk infrastruktur jalan.

“Bila dana ini dicairkan, sebagiannya untuk mengatasi masalah air bersih,” ucapnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang Abraham Manafe mengatakan, untuk bantuan jangka panjangnnya, pihaknya sudah mengusulkan ke Kementerian Keuangan untuk bantuan sumur bor sebanyak 15 hingga 18 unit.

“Harapan kita bantuan ini disetujui dan bisa direalisasi pada 2018 nanti,” ucapnya.

Namun, kata dia, untuk jangka pendek, pada tahun ini pihaknya menyiapkan air sebanyak 100 tangki mobil untuk mengatasi ancaman kekeringan akibat musim kemarau tahun ini. Air tersebut akan didistribusikan ke wilayah yanng mengalami krisis air bersih. (rif)