Langkah Tepat Pemerintah Buka kembali Destinasi Wisata

berbagi di:
Chris Mboeik Wakil Ketua DPRD NTT
Chris Mboeik
Wakil Ketua DPRD NTT

 

Kekson Salukh

KEBIJAKAN Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT yang cepat membuka kembali
seluruh destinasi wisata di NTT adalah langkah sangat tepat.

Meski kebijakan diambil ketika negara sedang menghadapi pandemi Covid-19, namun faktanya kebijakan tersebut perlahan demi perlahan kembali menghidupkan ekonomi NTT.

Demikian salah satu intisari diskusi yang diselenggarakan FKIP UKAW Kupang melalui aplikasi zoom, Rabu (29/7) petang. Diskusi ini menghadirkan empat pemateri, Kadis Pariwisata NTT I Wayan Darmawa, Wakil Ketua DPRD NTT Chris Mboeik, Plt Dirut Bank NTT Alex Riwu Kaho.

Chris sepakat dengan upaya pemerintah yang membuka kembali demi tentang menggeliatkan kembali pasar pariwisata, terutama wisatawan lokal sebagai pasar yang paling potensial untuk saat ini. DPRD NTT sebelumnya, telah menetapkan Perda Nomor 9 Tahun 2019 yang mengatur pengelolaan potensi pariwisata di NTT dengan melibatkan masyarakat.

“Perda itu sudah mengatur dan memberikan ruang yang cukup terkait pengelolaan pariwisata di NTT berbasis masyarakat agar industri pariwisata memberikan ruang kepada masyarakat lokal terlibat langsung dan ikut menikmati dampak perkembangan pariwisata.” ujarnya.

Dalam pengembangan destinasi wisata, pemerintah sudah pasti memperhatikan infrastruktur dan sarana prasarana pendukung lain yang harus ikut dibangun.

Pemprov juga sedang melakukan pinjaman daerah untuk serius membangun infrastruktur jalan ke sejumlah destinasi wisata yang ada di NTT.

“Bank NTT, pemerintah, dan akademisi harus berkolaborasi untuk membangun pariwisata NTT. Sudah waktunya tiga stakeholder ini bersinergi untuk membangun pariwisata di NTT,” pungkasnya.

 

Butuh Kerja Sama

Kadis Wayan Darmawa menjelaskan, pembangunan pariwisata NTT sesuai RPJMD NTT periode 2018-2023 dan sesuai program Gubernur NTT yang ingin menjadikan pariwisata sebagai prime mover pembangunan NTT.

NTT memiliki 1.308 destinasi wisata, terdiri dari 529 destinasi wisata alam, dan sisanya destinasi budaya, religi, dan destinasi buatan. Karena itu pengelolaannya membutuhkan kolaborasi pentahelix dari pihak swasta, media, akademisi dan pemerintah.

“Ada tujuh destinasi unggulan yang sedang dikembangkan Pemerintah Provinsi NTT. Sesuai instruksi Gubernur NTT maka harus melibatkan masyarakat lokal (community based tourism),” jelasnya.

Pasca diberlakukan new normal di tengah pandemi Covid-19, NTT merupakan provinsi pertama di Indonesia yang membuka kunjungan ke destinasi wisata.

“Ini mendapat pujian dari Pemerintah Pusat maupun pemerintah provinsi lain karena NTT menerapkan kolaborasi yang baik dalam pengelolaan pariwisata,” pungkasnya.

Plt Dirut Bank NTT, Alex Riwu Kaho mengatakan, Bank NTT telah menggelontarkan dana Rp1 triliun untuk mendukung pengembangan pariwisata NTT.

Pengelolaan pariwisata NTT perlu diperhatikan kesesuaian, konsistensi politik, kualitas, kontrol dan evaluasi sehingga benar-benar berjalan dengan baik. Ia menyarankan perguruan tinggi seperti UKAW agar menyediakan SDM yang bagus melalui lulusannya agar berkontribusi langsung sebagai pelaku wisata di NTT.

“Dalam pelaksanaan kredit di Bank NTT selalu mendukung untuk pembangunan pariwisata sebagai prime mover pembangun NTT demi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Akademisi UKAW Kupang, June Jacob menjelaskan wisatawan berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang berkunjung karena berlibur, ada karena pendidikan, bisnis, dan sebagainya sehingga masyarakat harus paham bahasa lokal maupun bahasa Inggris agar bisa melayani wisatawan dengan baik.

June menguraikan, ada 7.000 bahasa dunia, dan 70 bahasa di NTT. Bahasa yang digunakan di Indonesia terbagi menjadi dua yaitu bahasa Austronesian dan Non-Austronesian.

Menurut June, penggunaan bahasa lokal bisa mengangkat citra, harkat dan budaya masyarakat lokal di tingkat nasional bahkan internasional.
Sedangkan, peran budaya bagi pariwisata dapat meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan kepada destinasi budaya.

“Peran bahasa Inggris bagi pariwisata sangat penting untuk masyarakat lokal karena memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mendapat pekerjaan dan mudah diterima dimana saja.” cetusnya. (r-4/ol)