Lapas Lembata Bebaskan 25 Warga Binaan

berbagi di:
img-20200404-wa0055

Hiero Bokilia

Sebanyak 25 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Lembata dibebaskan dan diserahkan kembali untuk berkumpul bersama keluarga dalam status asimilasi.

Pembebasan dilakukan dua tahap, tahap pertama sebanyak lima orang yang dibebaskan pada Jumat (3/4) dan tahap kedua sebanyak 20 orang yang dibebaskan pada Sabtu (4/4) dan tahap tiga sebanyak empat orang sedang dalam sidang yang akan dibebaskan pada Senin (6/4).

Kepala Lapas Kelas III Lembata Andreas Wisnu Saputro pada acara penyerahan warga binaan Lapas Kelas III Lembata kepada keluarga dan penjamin di Lapas Lembata, Sabtu (4/4), menjelaskan, para warga binaan dikrmbalikan untuk berkumpul bersama keluarga dalam status asimilasi dan masih ada ikatan dengan Lapas.

“Ini program Kemenkumham dan dalam rangka pencegahan Covid-19. Ini untuk kurangi kepadatan di Lapas dan setelah di rumah jangan bepergian dulu kalau tak terlalu perlu,” kata Wisnu.

Di hadapan para warga binaan yang dipulangkan itu, ia.mengingatkan bahwa dalam asimilasi masih ada ikatan dengan Lapas. Program ini dijalankan oleh Kementerian Hukum dan HAM dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19 untuk mengurangi kepadatan di Lapas.

Ia mengingatkan para warga binaan untuk tidak bepergian dari rumah jika tidak ada kebutuhan sangat penting dan mendesak di luar rumah, guna mencegah penyebaran Covid-19.

“Saat berkumpul bersama keluarga di rumah, dapat memberi manfaat kepada keluarga minimal kebersamaan di rumah dengan keluarga,” terangnya.

img-20200404-wa0054

Mereka juga diminta untuk tidak melakukan tindakan yang berpotensi pidana, sebab asimilasi dapat dicabut sewaktu-waktu.

Pembebasan narapidana dan anak melalui asimilasi dan integrasi dilakukan dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19 dan dilaksanakan secara nasional di seluruh Lapas/Rutan di Indonesia merujuk pada Permenkumham No. 10 Tahun 2020 dan Kepmenkumham No. M.HH-19.PK.01.04.04 Tahun 2020 tentang Pengeluaran dan Pembebasan Narapidanan dan Anak melalui Asimilasi dan Ini.

Dia menjelaskan, warga binaan yang dibebaskan yakni yang 2/3 masa pidananya jatuh sampai dengan 31 Desember 2020, bagi anak yang setengah  masa pidananya jatuh sampai dengan tanggal 31 Desember 2020, bagi narapidanan dan anak yang tidak terkait dengan PP 99 Tahun 2012, yang tidak sedang menjalani subsider dan bukan Warga Negara Asing.

Pantauan VN, para warga binaan yang dibebaskan itu tampak terharu saat bersalaman dengan Kepala Lapas Lembata dan segenap pegawai Lapas. Mereka berpelukan dan menangis seakan enggan meninggalkan lapas. Hal sama pun.yampaknpada sejumlah pegawai Lapas yang tampak berat melepas percikan para warga yang selama ini dibina di Lapas.

Dalam suasana penuh keakraban seperti keluarga itu, Wisnu mengakui seluruh aspek kehidupan di Lapas Kelas III Lembata dibangun dalam nuansa kekeluargaan.

Selama menjalani masa pembinaan di lapas, terangnya, para warga binaan dipanggil teman, dan diperlakukan sebagai sahabat dan keluarga. Para pembina dan pegawai lapas, lanjutnya juga menjadi orangtua bagi warga binaan.

“Memang ada suasana bahagia tapi juga ada suasana sedih. Ini pendekatan  pembinaan yang tetap harus dijaga dan dilanjutkan,” kata Wisnu.

Sehingga, lanjutnya, warga binaan tidak merasa hanya sekadar menjalani masa hukuman pidananya, tetapi juga didorong menjadi manusia yang baik dan berguna bagi keluarga dan masyarakat.

Yohanes Ali Udak mewakili rekan sesama warga binaan yang dibebaskan menyampaikan terima kasih kepada kepala Lapas dan segenap pegawai yang selama ini telah memberikan pembinaan dan menjadi sahabat, keluarga, dan orangtua bagi mereka warga binaan.

Ia berharap Tuhan ssenantiasa melindungi dan memberkati Kepala Lapas dan seluruh pembina di Lapas dalam tugas ke depannya.

Usai penyerahan surat keputusan pembebasan, para warga binaan diserahkan kepada keluarga dan kembali ke keluarga masing-masing. (bev/ol)